Tuesday, November 23, 2010

Parodi Batman seri 35 - 38

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPRBESAR

38.



37.

36.

35.

Tuesday, November 16, 2010

Keadilan Bagi Luna Maya

Sore lalu, 15 November, saya nongkrong di depan layar SCTV... hanya untuk menonton Luna Maya.... Dalam running text, satu jam sebelumnya, pihak SCTV sudah memberitakan bahwa Luna akan tampil dalam Sensasi Artis, jam 14.30. Acara ini sendiri  hanya berdurasi 30 menit dan lebih banyak wawancara ringan yang dipandu 2 host, Indra Bekti dan Edric.

Acara itu sendiri, bagi saya sungguh tak menarik. Luna  hanya membawakan satu single terbaru berjudul "Tak Bisa Bersamamu" ciptaan Pasha Ungu. Itupun terasa gak enak di telingga saya. Namun kehadiran Luna menjadi minat perhatian saya. Karena kita semua tahu, ia sempat vakum selama 5 bulan sejak kasus video mesumnya mencuat di pemberitaan.

Yang (paling) menarik lagi bagi saya adalah pernyataan LM mengenai comebacknya dia di jagat hiburan.  "Kita Hidup Bukan Untuk Masa Lalu"... hmmm ... klo ini statusnya di facebook, saya akan like. Apalagi setelah Indra Bekti memplesetkan kata ini menjadi "Kita Hidup Bukan Untuk Masalah Lu".... hehehe

Tentu ini jawaban atas pertanyaan host mengenai "kejadian masa lalunya". Dan kita semua tahu, Luna Maya tertangkap kamera sedang berhubungan suami istri dengan Ariel Peterporn, eh peterpan. Karena mereka berdua buakn suami istri maka jelas keduanya telah bersalah dari segi norma agama, norma susila dan norma sosial. Hanya norma hukum saja yang tidak menyalahkan mereka. Sekalipun norma hukum menyatakan bersalah, kesalahan ada pada produksi dan distribusi video tersebt, bukan pada perilaku bejat mereka. Lagi pula, status mereka yang belum menikah dan duda menjadikan mereka tidak bisa dituntut oleh pasangan syah mereka.  Secara detail, saya telah bahas hal ini  dalam notes saya sebelumnya di http://www.facebook.com/note.php?note_id=281070699949

Kembalinya Luna ke industri hiburan bukan saja dengan mengarap kembali album yang telah direncanakan sebelum kasus asusila itu, tetapi juga berperan dalam sebuah film pendek karya Ario Wahab http://id.omg.yahoo.com/news/luna-maya-kembali-bermain-film-qs6k-2010111302303889.html 

Oke, cukup mengenai LM dan acara TV itu sampai di sini..... 

Sekarang masih ingatkah Anda pada Abdullah Gymnastiar atau yang lebih dikenal sebagai  Aa Gym ?? 

Anda juga  masih ingat dengan pernikahan keduanya dengan Alfarini Eridani, setelah pernikahan pertamanya dengan  Ninih Muthmainnah atau biasa disapa Teh Ninih

Apakah ada "kesalahan" dalam pernikahan ini ? Sekali lagi saya bertanya Apakah ada "kesalahan" dalam pernikahan ini ??

Bagi saya, tidak ada kesalahan dalam pribadi maupun rumah tangga Aa Gym. Selama ini tidak melanggar norma agama, norma susila, norma sosial dan norma hukum, kita tidak bisa menyatakan Aa gym bersalah. Apalagi dihukum secara sosial !!

Namun, masyarakat seakan telah "menghukum" Aa Gym secara sosial. Lihatlah mengapa tiba2 orang kemudian meninggalkan pengajian yang diasuhnya, mengapa pesantrennya kemudian menjadi surut jamaahnya, kenapa pula pihak statiun televisi tidak meminta memberi tausiyah pada siaran keagamaan, mengapa pula ibu-ibu yang melarang suaminya mendengarkan pengajian aa gym karena takut suaminya akan menikah lagi ? mengapa ? mengapa ??

Lalu bandingkan dengan perlakuaan orang saat bertemu dengan Ariel  maupun Luna Maya ?? Dalam penjara, ariel selalu dikerubuti para tahanan hanya untuk sekedar berjabat tangan dan berfoto bersama. Sahabat peterpan bahkan melalukan demo untuk mendukung Ariel. Bahkan dalam sebuah stasiun TV sempat terekam gambar Ariel sedang menjalankan ibadah di dalam penjara .... Apa maksud shot ini ???

Lhatlah bagaimana para Lunatic (sebutan bagi fans Luna Maya) sangat mengelu-elukan penampiannya di SCTV sore tadi ?? atau bagaimana bisnisnya ternyata tidak berpengaruh sama sekali. Atau ternyata ia masih ditawari peran film pendek? Atau apakah video klip terbarunya akan sering munucl di TV... dan apakah ia akan kembali menjadi host di Dasyat, sebagaimana para penonton memintanya untuk memandu kembali acara musik di RCTI ini ?? 

Saya melihat perlakukan yang tidak adil antara Aa gym di satu sisi dengan Luna Maya dan Ariel di sisi lain??? Kita telah membuat hukuman yang teramat berat bagi Aa Gym atas sesuatu yang tidak bisa disalahkan dari segi norma apapun. Namun di sisi lain, pelaku tindakan asusila dan amoral masih saja dielu-elukan sebagai sebuah idola, atau mungkin panutan?

Pembelaan saya terhadap Aa gym, bukan karena pernikahan keduanya. Saya pun bukan penganut poligami. Bagi saya pribadi, poligami bukanlah sebuah tindakan amoral dan asusila sebagaimana perilaku mesum yang dilakukan oleh Ariel dan Luna. Klo Anda tidak setuju dengan poligami, jangan lakukan poligami. itu saja. Bukan dengan mengatakan bahwa poligami adalah salah dan seaakan orang yang melakukannya diperlakukan sebagai orang bersalah pula.

Pembelaaan saya pada Aa Gym juga bukan terletak pada figur dan sosoknya, tetapi lebih pada  persoalan rasa keadilan yang kini saya pertanyaan ? Adilkan ini semua ??

Secara pribadi, saya bukan penganut poligami... Namun Poligami juga bukan sebuah perbuatan yang menimbulkkan rasa salah dan dosa bagi manusia. Agama saya mengatur dengan KETAT mengenai hal ini. Namun bukan kapasitas saya untuk menjabarkan lebih jauh di notes ini. Ketidaksetujuan pada poligami seringkali disikapi oleh masyarakat sebagai  perbuatan yang salah dan harus dihindari. Parahnya, kita bahkan menjatuhkan sanksi sosial terhadap pelakunya, termasuk pada Aa Gym sekalipun.  

Saya juga tidak membenci Luna Maya dan Ariel (begitu juga dengan Cut Tari) .... jika itu masa lalu mereka.... biarlah mereka sendiri yang mempertanggungjawabkan, entah dihadapan dirnya, keluarganya, masyarakat, aparat hukum apalagi pengadilan di "alam sana",.... Bukan lantas kita menghukum mereka juga... Saya salut dengan pernyataan Luna di atas. 

Namun sekali lagi pertanyaan saya masih belum terjawab "apakah kita adil dalam memperlakukan Aa gym di satu sisi dan mereka bertiga di sisi lain ? "

oke, ini ending tulisan saya.... biasanya tulisan seperti ini (di berbagai forum misalnya) akan mendapat jawaban seperti ini
> Sok Munafik lu, kayak jadi orang bener sendiri di dunia,
> Jangan merasa suci dech.... semua orang, termasuk elu, juga punya salah dan dosa
> emang lu TUHAN, bisa nyatain mereka berdosa ?? 
> Urusi Diri mu Sendiriu.....Sukanya Kok Ngurusi Orang Pd Hal Dirinya Sendiri Hancur Menjijikkan... Hiiiii..

Tulisan ini bukan untuk mengadili mereka semua, Saya juga tidak mengidolakan atau mmbencinya. Semua juga manusia yang bisa salah dan bisa bertobat pula ...... Namun kita harus mampu belajar banyak hal dari kejadian tersebut. Belajar mengenai keadilan.... itu saja. 

Tuesday, November 09, 2010

Parodi Batman seri 31 - 34



KLIK GAMBAR UNTUK MEMPRBESAR


34.
33.

32.

31.


Parodi Batman seri 26 - 30

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

30.
29.

28.

27.
26.

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

Monday, November 08, 2010

Parodi Batman seri 21 - 25


25.

24.

23.

22.

21.

Parodi Batman seri 16 - 20

20.

19.

18.

17.

16.

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

Parodi Batman seri 11 - 15

15


14

13

12

11

Parodi Batman seri 06 - 10

10

09

08

07

06.

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

Monday, August 09, 2010

Senjata Joker

klik untuk memperbesar

redenominasi

klik untuk memperbesar

Monday, August 02, 2010

Saturday, July 31, 2010

Return of Roy and Joko



Loe Boleh Gila

Roy : aku tau alasan Jupez maju pemilukada bupati pacitan
Joko : apa ?
Roy : itu semua cuman bagian reality roy yang ia jadi host nya.. "Loe Boleh Gila"..
Joko : berarti parpol yg mencalonkan tuh jadi "Gokil Ranger" dong... wakakaka
( :: sore tadi nonton "Loe Boleh Gila" di tra**v ::)  (25 Juli 2010)


Piala Dunia

Joko : Roy, ntar nonton bareng final piala dunia gak?
Roy : Males ah, besok pagi bangun langsung cek fesbuk. pasti udah ada yg update pemenangnya lengkap dgn skor.
Joko : dasar pecandu fesbuk!!  (11 Juli 2010)

 

Obat Pusing

Roy : kayaknya obat pusing laku di senayan 
Joko : kenapa ? 
Roy : anggota dewan pusing kehilangan kambing hitam kasus century 
Joko : aku juga pusing sama mereka. hehehe. 
8 Mei 2010


ATM

Roy : aku bingung sama SMI ? 
Joko : kenapa ? 
Roy : mau-maunya ia jadi managing director Bank Dunia... sampai sekarang aja aku belom pernah liat Kantor cabangnya, mana ada ATM nya ?? 
Joko : bego dipelihara, kambing kek dipelihara biar gemuk !!! 
6 Mei 2010 

Gagal UN
Roy : knapa banyak murid ga lulus UN?
Joko : gak tau
Roy : karena PLN. Akibat sering listrik mati, murid2 gak gak belajar
Joko : hehehe. 
30 April 2010 


Miyabi for President

Roy : Jupez tetep maju pilkada pacitan
Joko : biarlah, hak warga negara tuk dipilih dan memilih
Roy : klo jupe memang, bisa2 miyabi jadi wni dan maju capres 2014
Joko : lebay dech, roy. 
25 April 2010

Maling ?
Roy : makin banyak yang terungkap, makelar kasus, mafia peradilan, mafia pajak. 
Joko : asal jangan makin puyeng dengan maling teriak maling. 
Roy : atau ada maling bilang "maling teriak maling". 
Joko : yang jelas mana ada maling ngaku maling. 
19 April 2010 



Kumpeni dan Pemda DKI

Roy : kita gak pernah belajar sejarah. 
Joko : knapa? 
Roy : kasus bentrok makam mbah priok sama kayak perang diponegoro yg disebabkan makam leluhur diponegoro diserobot ma belanda buat rel kereta. 
Joko : gak ada bedanya dong pemda dki ama kumpeni. Wakakaka 
16 April 2010

Batman



Memperkerjakan anak
Gordon : bat, elu gue tahan // Batman : knapa? // Gordon : atas nama kak seto, elu ditahan karena memperkerjakan robin, anak bawah umur. // Batman : wah, klo ada komisi perlindungan jompo, gue bisa ditahan karena memperkerjakan alfred. (::: Selamat Hari Anak Nasional, hentikan perdagangan anak :::)
 
(23 Juli 2010)

Gagal Maning
Batman : Gagal maning, gagal maning. Gue udah mo nangkap Pinguin, tiba-tiba aja batmobile mogok // Gordon : kenapa batmobile lu, bat? // Batman : ternyata 'fuel pump' nya rusak. Payah // Gordon : Gak nasi padang, gak benzin, semua pada turun kualitasnya.
 
(23 Juli 2010)


Nasi Padang
Batman : nih bin, nasi padang kesukaanmu. // Robin : makasi bat.... lu beli dimana, kok beda ? nasinya dikit, rendangnya tipis, telor pindang cuman separo, sambel cabe ijonya gak pedes // Batman : lu gak pernah baca koran ya... semua harga naik gila-gilaan...... untung aja gue masih mau beliin lu. (20 Juli 2010)


Mati Listrik
Alferd : gara2 sering mati listrik, bat-alarm, bat-computer sampai bat-mobile rusak parah. // Batman : geblek tuh perusahaan listrik. udah naikin tarif, salah hitung lagi. // Alferd : lu cuman ngeluh aja, bat. Bantuin gue nimba air kek, pompa air juga mati tuh. (15 Juli 2010)


rekening gendut

Bruce Wayne : kayaknya lu makin kaya ton, Stark Industries bisa jualan senjata di mana-mana // Tony Strark : masih kayaan lu, bruce. Seluruh aset kota Gotham punya Wayne Enterprises // Bruce Wayne : gue ma gak kaya-kaya banget. Lebih kaya temen-temennya James Gordon. Rekeningnya gendut-gendut semua. (14 Juli 2010)

dibacok
Batman : Untung lu bin, cuman bikin video porno // Robin : Untung gimane? gue ditahan gini? // Batman : Coba klo lu jadi aktivis antikorupsi. Bisa2 lu dibacok orang // Robin : Cemen banget lu, bat. (13 Juli 2010)

maju pilkada
Poison Ivy : sial banget nasib kita, cat. Gara2 video tersebar kita jadi tersangka. // Catwoman : klo gue ambil hikmahnya aja. // Poison Ivy : Maksud lu ? // Catwoman : Setelah kasus ini reda, gue mo maju pemilihan walikota Gotham. // Poison Ivy : lu pikir lu penyanyi dangdut yg bikin video mesum ama anggota legislatif itu??? (11 Juli 2010)

pencemaran nama baik
Batman : Payah lu don. Nangkep Robin, Catwoman ama Poison Ivy dalam kasus video aja cepet. // Gordon : Bukannya bagus tuh? // Batman : Tapi giliran kasus rekening gendut di korps lu, Lemot banget. // Gordon : gue tuntut lu, bat. Pencemaran nama baik !!! // Batman : ??? (10 Juli 2010)

vokalis mesum
Alferd : Poison Ivy ma Catwoman udah minta maaf atas pemberitaan video mesumnya. Tinggal nunggu Robin mo ngaku apa gak? // Batman : Belagu banget tuh bocah! Baru gue angkat jadi sidekick udah ngembat jatah gue. Gimana klo Robin jadi vokalis band ngetop // Alferd : Dasar buaya lu, bat! (9 Juli 2010)

kompor meleduk
batman : fred, lu udah nukerin regulator ama selang tabung gas // alfred : enggak bat // batman : kenapa ? // alfred : kompor gas kita udah 'meleduk' duluan, minggu lalu // batman : pantes, lu selalu kasi gue masakan padang terus .... (8 Juli 2010)

teror ledakan
Robin : bat, di bat-alarm lu terindikasi beberapa ledakan di kota Gotham, kok lu malam nyantai-nyantai aja ? // Batman : lu tuch yang gak pernah baca koran // Robin : kenapa bat ? // Batman : ledakan tabung gas kok gue yang suruh tanggung jawab ....... (6 Juli 2010)

mirip
Robin : gw liat lu udah ngalahin Joker. Apa Joker udah diserahin ke kepolisian Gotham? // Batman : sekarang orang itu lagi diobatin ama Alferd di batcave // Robin : kenapa? // Batman : aku takut klo Orang itu cuman MIRIP Joker. // Robin : lu kebanyakan nonton gosip. (4 Juli 2010)

listrik mati
Batman : bin, apa polisi gotham udah bisa nangkap penjahat tanpa bantuanku? udah berapa hari mereka gak nyalain batsign? // robin : elu yg bego, bat. gak tau aja klo PLN sering mati listrik. // (9 Juni 2010) 

garing 1
robin : bat, superman pake logo "S", fantastic four juga angka "4", x-men ada logo "X"... kenapa lu gak pake logo "B" // batman : gak mau!! // robin : kenapa ?? // batman : baju dengan huruf "B" udah dipake sama Kelinci Bobo // robin : garing lu, bat (24 Maret 2010) 

garing 2
robin : bat, kenapa baju lu item semua... coba kayak superman atau spiderman, bajunya ngejreng merah ama biru. // batman : waktu itu gue gak diajak mereka waktu beli kostum. // robin : ooo ... // batman : lagian ntar klo kembaran, kita dikira anak panti... bukan superhero dong.. // robin : garing lu, bat. (23 Maret 2010)

garing 3
Robin : lu pake logo kekelawar, spidey pake logo laba2, kenapa catwoman gak pake logo kucing? // Batman : klo ada logo kucing, ntar dia dikira hello kitty.// Robin : garing lu bat. (22 Maret 2010) 

Ancaman Keong Racun


klik gambar untuk memperbesar.

Nyalon Walikota

klik gambar untuk memperbesar.

Tuesday, July 06, 2010

Aku dan Muhammadiyah #2


Dalam minggu-minggu ini kota Jogja diprediksikan akan macet. Selain libur tengah tahun bagi murid sekolah, kota Jogja akan didatangi oleh muktamirin (peserta muktamar) dan pengembira. Jumlahnya bisa ribuan orang. Pagi ini (Sabtu, 3 Juli) kemacetan sudah terjadi dalam perjalan saya ke "kota". Beberapa status FB menyatakan sejumlah kemacetan. hehehe. 

Kembali ke cerita Aku dan Muhammadiyah. Ini sambungan dari tulisan sebelumnya. 

Ketika masih SD, Jogja sebenarnya juga udah pernah menjadi tuan rumah muktamar Muhammadiyah. Saya lupa itu terjadi pada tahun berapa atau muktamar ke berapa. Mungkin pada pertengahan dekade 1980-an. (saya udah googling, tapi gak nemu). Saat muktamar berlangsung, sekolah diliburkan beberapa hari. Karena gedung SD tersebut akan dijadikan tempat penginapan bagi peserta muktamar. Saya lupa ada berapa hari libur saat muktamar. atau bagaimana ruang kelas disetting menjadi tempat peristirahatan.

Saat SD pula, saya berlangganan Majalah Kuntum, Sebuah majalah yang dikeluarkan Muhammadiyah (atau organisasi otonomya) yang menyasar pada pembaca anak dan remaja awal. Seinggat saya majalah ini diwajibkan oleh Sekolah. 

Saat menduduki bangku kuliah (kayak Jepang aja, menduduki ?) Saya pindah tempat tinggal lagi. Kali ini saya tinggal di kampung Demakan, Tegal rejo. Dibandingkan 2 tempat tinggal sebelumnya, kampung ini lebih kompleks. Stara sosial ekonominya pun beragam. Ada cukup banyak penduduk yang beragama non islam. Nuansa Muhammadiyah juga tak sekental dibandingkan dengan Purwodiningratan, kampung saya sebelumnya. Namun begitu,  rasa "Muhammadiyah" masih terasa di kampung ini, setidaknya saat lebaran. 

Sudah menjadi pengetahuan umum, kadang terdapat perbedaan hari dalam menentukan awal puasa atau hari lebaran. Perbedaannya adalah Muhammadiyah yang mengunakan "perhitungan" dengan organisasi islam lainnya yang mengunakan "pengamatan". Klo secara resmi, pemerintah dalam hal ini Departemen Agama yang kemudian menentukan kapan Idul Fitri atau hari pertama bulan Ramadhan. Nah, selama saya tingggal, dimanapun, hari raya Lebaran bisanya mengacu pada perhitungan yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Hal ini tentunya terlihat pada aktivitas kolektif umat islam di sekitar saya, seperti sholat ied atau sholat tarawih.

Pernah suatu saat terjadi perbedaan penentuan hari lebaran. Muhammadiyah menentukan idul fitri lebih awal dari pengamatan organisasi islam lainnya. Atau organisasi lain menentukan idul fitri terlambat sehari perhitungan Muhammadiyah. Namun begitu, perbedaan ini  bukan hal besar bagi saya. Toh, masyarakat muslim di sekitar saya juga merayakan pada hari yang sama dengan saya, eh Muhammadiyah. Ritual sholat ied juga digelar seperti biasanya, tanpa meninggalkan kesan berurang jamaahnya, dibandingkan saat tidak ada perbedaan hari.

Jadwal mudik keluarga saya ke Solo pun jadi mundur. Biasanya kita mudik pada hari H, namun pada saat itu, kami mudik pada H+1. Hal ini disebabkan karena keluarga solo mengacu pada hari lebaran yang ditetapkan Departemen Agama. Alhasil bagi keluarga Solo, kedatangan keluarga saya dihitung pada hari H.

Nuansa "Muhammadiyah" di diri saya juga terlihat pada pilihan Rumah Sakit yang saya tuju. Jika ada persoalan kesehatan, saya selalu merujuk pada RS PKU, yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Lokasinya bersebrangan dengan SD Muhammadiyah saya. Setidaknya saat saya harus melakukan operasi kecil terhadap telingga. Begitu juga saat saya harus masuk UGD karena kaki tersiram air panas. Untungnya, saya termasukk orang yang jarang masuk rumah sakit.

Dalam benak saya, atau "doktrin" yang saya terima sejak sekolah dulu, berobat ke RS non Muslim sama saja mengupayakan pemurtadan umat islam. Dana yang didapat oleh RS non islam akan digunakan untuk menyebaran agama tersebut. Tapi entahlah, saya  tak akan membahas lebih lanjut hal ini. Bagi saya berobat ke RS PKU adalah bagian membangun Muhammadiyah, terutama untuk menghidupkan amal usahanya. 

Amal usaha muhammadiyah memang banyak sasaran. Selain dakwah itu sendiri, Muhammadiyah juga bergerak di bidang pendidikan (dari TK paud hingga perguruan tinggi), kesehatan (RS PKU, poliklinik), sosial (panti asuhan), kewanitaan (melalui aisyiyah) pemuda dan pelajar (melalui organisasi otonomnya), kepanduan, beladiri silat hingga sampai ekonomi (bank perkreditan, komplek perkantoran, retail). 

Akhir kata, Selamar bermuktamar Muhammadiyah..... 

Saturday, July 03, 2010

Aku dan Muhammadiyah #1



Besok ( Sabtu, 3 Juli), Muhammadiyah akan mengelar hajatan besar " Muktamar Seabad Muhammadiyah" di Yogyakarta, kota kelahirannya. Telah banyak peserta muktamar dan pengembira sudah banyak berdatangan. Tadi pagi saya melihat beberapa bus memasuki kota dengan bendera Muhammadiyah. Seluruh penjuru kota dimeriahkan dengan deretan bendera hijau, balon udara, lampu spot light, hingga ucapan spanduk selamat bermuktamar. Di beberapa daerah, saya juga menjumpai posko. Organisasi Islam (ter)besar di republik ini tengah mengelar rangkaian agenda akbar dalam moment yang sangat besar.

Oke, tulisan ini tidak akan berlanjut ttg Muhammadiyah, karena anda bisa surfing langsung ke http://www.seabadmuhammadiyah.com/ atau http://www.muhammadiyah.or.id/ Serta banyak kajian ilmiah tentang Muhammadiyah di negeri ini. 

Saya akan bercerita tentang Saya dan Muhammadiyah saja. Sebuah pengalaman pribadi yang terus berlangsung hingga saat ini. Sebenarnya saya pun bukan anggota Muhammadiyah yang mempunyai hak suara dalam muktamar atau aktif dalam organisasi tersebut. Saya merasa bagian dari "umat" Muhammadiyah tanpa terlibat di dalamnya.

Mengapa saya merasa Muhammadiyah ? Pertanyaan terjawab karena saya pernah sekolah di TK ABA Mubaroq dan SD Muhammadiyah Ngupasan I di Yogyakarta. Harapan orang tua agar saya mendapat bekal pengetahuan agama di Lembaga Pendidikan Muhammadiyah ini. Hal ini terlihat dari porsi pendidikan agama yang sangat besar dalam proses pelajaran. Jika di SD Negeri/Inpres pelajaran agama cuman 2 jam/seminggu; di SD saya pelajaran agama bisa 6-8 jam / minggu. Nama mata pelajarannya pun bukan "Pendidikan Agama Islam" seperti di SD Negeri, tetapi sudah sangat spesifik seperti tauhid, ahlak, iqro, kemuhammadiyahan, hingga menulis huruf arab di 'buku halus'. 

Sekolah saya juga berada di jantung Muhammadiyah, berada di utara kampung Kauman, sebelah timur RS PKU dan hanya beberapa meter dari jalan KHA Dahlan. Di belakang sekolah terdapat gedung Pimpinan Pusat Aisyiyah. Tak jauh, terdapat kantor redaksi Majalah Suara Muhammadiyah. Beberapa teman SD saya juga aktif dalam beladiri Tapak Suci.

Saya masih ingat betul, pada hari Senin dan Kamis, para murid mengunakan busana muslim. bercelana panjang dan berpeci bagi murid laki-laki dan bejilbab bagi murid perempuan. Hari libur sekolah pun jatuh pada hari Jumat. Namun saat saya kelas 6, hari libur berganti menjadi hari Ahad. Jadi pada masa kecil, saya jarang menonton Unyil karena memang masih jam sekolah. hehehe....

Namun ada hal unik lainnya, hari Ahad kedua setiap bulannya, SD kami pulang awal. Hal ini disebabkan karena adanya pengajian rutin yang digelar oleh Muhammadiyah di gedung PDHI, sebrang alun-alun utara. Pulangnya sekitar jam istirahat pertama atau ke dua. 

Oya, saat saya SD saya tinggal di kampung Ketandan, yang terletak antara jalan Malioboro dengan Hotel Melia Purosani. Di kampung ini hanya ada dua etnis, etnis Banjar beragama muslim dan etnis Cina. Anak-anak etnis Banjar bersekolah di SD Muhammadiyah, sedang etnis Cina sekolah di Sekolah yang mayoritasnya etnis cina juga. Nah, bagi anak etnis Jawa (minoritas) bersekolah di SD Negeri. Di kampung ini pula tidak ada tradisi tahlilan untuk mendoakan seseorang yang telah meninggal. Tahlilan bukanlah tradisi yang dilakukan Muhammadiyah. 

Lulus dari SD, saya melanjutkan ke SMP, SMA dan Universitas Negeri. Mungkin karena nilai akademik yang lumayan, saya bisa masuk ke Sekolah Negeri walaupun tidak favorit ( hehehhehehe). Namun kedekatan dengan Muhammadiyah tidak putus seiring dengan strata pendidikan yang saya lalui.

Pada saat SMP hingga SMA, saya bermukim di kampung Purwodiningratan, sebuah kampung yang berada di antara Jl. KHA Dahlan hingga JL KS Tubun yang terkenal dengan kawasan oleh-oleh Bakpia. Kampung inipun ternyata sangat kental bernuansa Muhammadiyah. Di dalam kampung ini terdapat kompleks perguruan Muhammadiyah, dari TK, TPA, SD, SMP hingga SMA. Tepat di selatan, terdapat "Gedoeng "Moehammadiyah" dengan ejaan lama.

Kehidupan di kampung ini terlihat relijius. Toh, kampung ini juga merupakan kampung basis Muhammadiyah seperti kampung Kauman dan Surotanan. Tradisi "tahlilan" juga tidak dilakukan di kampung ini. Namun begitu, terdapat pengajian anak-anak dan remaja tiap malam Jumat selalu diadakan di rumah-rumah penduduk secara bergantian. Di kampung ini juga terdapat TPA (Taman Pendidikan Al Quran) yang tergolong pioner pada jamannya.

(bersambung ahh.....)

Monday, June 28, 2010

Pornografi & Media : Sebuah Pengalaman...

0. Kartu remi, hingga video gaban
artis : -
Sepanjang pengetahuan saya kaset Video Betamax (atau VHS ??) adalah media pornografi yang pertama saya tahu. Video player masih tergolong barang mewah, kasetnya juga dijual atau disewakan secara terbatas. Kenapa saya sebut video gaban, karena memang saya mengenal format kaset video itu saat menonton serial Gaban, Sarivan, Lionman, Megaloman. Ukuran videonya pun segede gaban. hehehe... media ini tentunya juga hanya bisa diakses orang-orang kaya saja, serta akses mendapatkan video porno yang tentunya sangat terbatas juga.

Saya juga pernah denger cerita, ada kartu remi yang menampilkan gambar porno. Bayangan saya di kartu itu ada foto model porno dengan angka remi di sudutnya. Dengan demikian setidaknya ada 52 pose yang terpampang dalam 1 set kartu remi. Wah, banyak juga.. Namun media ini masih konon ceritanya. Saya juga pernah melihat temen SMP menyimpan foto porno dalam dompetnya. Ukurannya pas dengan frame yg ada didompet. Modelnya mengambarkan pasangan yang melakukan hubungan secara sangat vulgar.

1. Novel stensilan
artis : Enny Arrows
Bagi anda yang seumur saya atau lebih tua sedikit, pasti kenal nama di atas. Enny Arrows adalah nama yang terpampang dalam novel-novel tipis yang dicetak ala kadarnya dengan mesin stensil. Novel ini gampang dikenali dengan ukuran tanggung, tipis dan kertas buram. covernya dihiasi dengan foto model porno yang tercetak seadanya. klo gak black white atau cuman dua tone.  Media ini sering didapat di antara pedagang koran, kios buku hingga lapak buku bekas. Ceritanya secara vulgar mendeskripsikan  alat v*t*l dan menarasikan hubungan seks.

2. VCD unyil
artis : Asia Carera
Maraknya VCD pada pertengahan dekade 1990-an membawa media baru dalam media  porno. Dan yang paling booming adalah video yang diproduksi oleh Vivid Production dengan bintangnya "Asia Carera". format VCD yang bisa diputer di komputer menjadikan media ini semakin mudah diakses dan dilakukan sembunyi-sembunyi (misalnya di kamar kost teman hehehe). Kata unyil dijadikan bahasa kode yang biasa dipake oleh penyewa dengan rental atau pedagang dengan pembelinya. 

3. Internet generasi pertama
artis : - 17tahun.com
Perkembangan internet yang tidak terbendung menjadikan media ini juga diburu untuk mendapatkan content pornografi. Ada banyak situs yang bisa diklik untuk mendapatkan gambar-gambar mesum. Ada juga cerita stensilan berbahasa indonesia yang menjadi rujukan para pengemarnya. Situsnya beralamat di "17tahun.com" begitu boomingnya situs ini, hingga seorang teman kuliah saya mengambil situs ini sebagai penelitian di skrispinya... hehehe. Meneliti atau menikmati ya??

4. VCD Itenas
artis : Nanda, Adi
Bandung Lautan Asmara tentunya beda jauh dengan Bandung lautan api... persamaaannya adalah keduanya memang "panas". hehehe... Video yang mengambarkan dua mahasiswa berhubungan ini memang booming berat. parahnya sang co mengunakan kaos basket yang menampilkan itenas, perguruan tinggi dimana ia kuliah. karena menampilkan  orang lokal dan kualitas gambar yang bagus, video ini menjadi tontonan wajib hehehe..

Sebenarnya VCD porno lokal yang pertama muncul bukanlah video itenas, namun video Anak Ingusan /pantai kanjeran yang menampilkan logat jawa timur. Namun karena kualitas gambar yg terbatas dan artisnya yang "gak bermutu", video ini kalah pamor dengan VCD Bandung Lautan Asmara yang beredar tahun 2001-2002. begitu juga dengan casting iklan sabun mandi.

5. Selular Generasi 1
artis : B'jah & Sukma Ayu; Maria Eva & Yahya Zaini
Sejak hadirnya hape berkamera,  medium komunikasi ini sUdah menjadi alat produksi dan distribusi adegan mesum. Korban pertamanya (yang seleb tentunya) adalah adegan p***ing antara B'jah (vokalis the fly) dengan sukma ayu (pemain sinetron kecil-kecil jadi penganten). Medianyapun berupa foto dengan resolusi yang masih rendah. 

korban berikutnya adalah video mesum yang justru mengundang tawa. Sebuah hp berkamera merekam "adegan awal" dari adegan mesum. Tak tanggung-tanggung pelakunya adalah kader partai beringin yang konon dicalonkan sebagai menteri. Sedang cewek adalah penyanyi yang tak terkenal. video ini juga beredar saat fitur perekam video di hape mulai diperkenalkan. Baik pasangan pertama dan kedua, pengambilan gambar dilakukan oleh mereka sendiri.

6. Playboy edisi Indonesia
artis : Andhara Early
Awalnya saya tidak akan memasukkan babak ini dalam tulisan. Namun siapa tak kenal Playboy, majalah semi porno yang diterbitkan Hugh Hefner. Fenomenalnya majalah ini hanyalah puncak gunung es dari media kuning yang memang mengumbar syahwat sejak reformasi dan kebebasan pers. Terbit perdana pada april 2006 Playboy langsung disambut dengan demo dan sweeping hingga penuntutan hukum terhadap redaksi dan modelnya. Padahal media edisi indonesia ini tidak sevulgar dibandingkan dengan edisi negara lain. 

7. Video mesum via internet
artis : Miyabi a.k.a Maria Ozawa
Internet yang semakin mudah dijangkau dengan perkembangan didalamnya menjadikan video porno menjadi lebih mudah di-share dalam berbagai situs. Format video yang semakin ringkas, bandwithd yang semakin besar menjadikan video mesum dapat diakses sembunyi-sembunyi di dalam bilik warnet. Parahnya saya pernah menjumpai sebuah warnet yang sengaja menyimpan video porno dalam servernya. Ini berarti ada pengunjung yang datang untuk menyaksikan video tersebut secara offline, bukan untuk surfing di dunia maya. Damn!! Persaingan ketat usaha warnet (??). Nama miyabi mencuat pada masa-masa ini yang mungkin diawali pada tahun 2006-an hingga sekarang hingga makin terkenal dengan film "Menculik Miyabi".


8. Sinergi Media (selular + internet + TV)
artis : Ariel, Luna Maya, Cut Tari
sudahlah saya capek nulisnya... anda juga sudah nonton kan ... hehehehe

Tentang Ariel, Luna Maya & Cut Tari


tulisan ini tidak akan mengadili mereka.

Siapapun tahu akan adanya video mesum yang dimainkan (mirip???) Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Bahkan mungkin Anda juga udah menontonnya ?. Atau bahkan Anda juga penasaran dengan (rumor) akan ada video serupa sejumlah 32 (atau 23).

Berbagai komentarpun sontak muncul. Baik para pejabat publik di media massa, tulisan opini para akademisi  hingga obrolan dalam kehidupan sehari-hari. Banyaknya komentar ini seakan menyiratkan bahwa ada yang "salah" dengan video itu. Apapun yang terkait dengan videonya, baik orang, perilaku, pembuatannnya hingga distribusinya. 

Dalam segi norma manapun, apa yang dilakukan dalam video tersebut memang salah. Norma agama manapun melarang perbuatan zina. Norma susila tidak akan menerima perbuatan hubungan seksual selain suami istri. Dan menurut norma sosial, orang yang hidup tanpa nikah disamakan dengan kerbau!!

Hanya norma hukum yang sepertinya tidak menyalahkan mereka. Hukum menyatakan bahwa mereka bisa bersalah jika ada pihak yang melaporkan, itupun suami atau istri dari pemeran video itu. Namun kita tahu, bahwa Ariel sudah duda, Luna Maya belum bersuami dan suami Cut Tari terlihat mendampingi istrinya saat pemanggilan polisi. Jadi tak ada yang salah secara hukum terhadap pemeran video itu. Alih-alih hukum justru bicara pada siapa yang mendistribusikannya. Dan teknologi semakin memudahkan distribusi file tersebut layaknya virus.

Kembali pada tataran norma, bahwa perbuatan salah mereka kemudian mendapat konsekuensinya. Luna Maya dan Ariel didepak dari kontraknya dengan produsen sabun. Baliho merekapun sudah dicopot. Jadwal rilis album dan band baru (ex peterpan) menjadi tertunda. Cut Tari pun  tak muncul dalam acara gosip yang kerap ia bawakan. "Apakah pencabutan kontrak mereka adalah bagian dari sanksi atas salah mereka? "

Pertanyaan berikut yang muncul "Apakah masyarakat juga akan menghukum mereka ?" Pertanyaan ini akah terjawab jika album ex peterpan keluar... apakah masyarakat akan menghukum ariel dengan tidak membeli album atau mengunakan ring back tone. Ataukah retail fashion milik Luna maya akan bankrut ?? Apakah  produk AC Sayonara yang Cut Tari tawarkan (sebgaia bintang iklan/brand ambassador) menjadi drop penjualannya, ataukah bagaimana image produk dimata masyarakat?

Norma, sebagai sebuah tata nilai dalam masyarakat memang berperan sebagai paduan perilaku masyarakat. Mana yang berpahala mana yang berdosa; mana yang benar dan mana yang salah; mana yang etis mana yang tidak etis; apa yang bisa diterima masyarakat apa yang tidak; dan sebagaimana. Begitu juga saat video itu dihadapkan dengan norma.

Saya melihat bahwa masyarakat kita masih menyalahkan mereka. Itulah bentuk pengadilan atau penghakiman masyarakat. Acuannya adalah norma, sebagaimana hakim mengunakan KUHP sebagai rujukan menjatuhkan vonis. Sederhana saja, mereka bertiga bukan pasangan suami istri. Itu saja titik. Jadi seandainya mereka suami istri, maka tak ada yang salah dengan mereka. 

Penilaian ini pun menyiratkan bahwa masyakat kita masih menggangap sebuah hubungan seksual adalah hubungan suci yang harus diikat melalui pernikahan. Norma menempatkan bahwa freesex adalah perbuatan tercela. 

Namun kenyataan berkata lain. Ada banyak realita yang menbeberkan berapa banyak pernikahan diawali dengan kecelakaan (sebenarnya mereka yang mencelakakan diri sendiri; dan saya tidak sepakat dengan istilah'kecelakaan'). Ada sekian persen pelajar yang telah melakukan hubungan seksual serta sejumlah mahasiswa melakukan hubungan seksual di kost-kostan. Dunia prostitusi juga terlihat begitu vulgarnya hingga banyaknya foto dan video mesum wajah-wajah lokal yang tersebar di dunia internet.

Antara norma dengan dunia realita memang tak selamanya pararel. Begitu juga video Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Meskipun dinyatakan salah oleh masyarakat, kenyataan yang mereka lakukan bisa jadi merupakan refleksi dari kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Contoh lain, korupsi, semua orang membenci korupsi, namun korupsi terus terjadi dan ada usaha pelemahan KPK oleh banyak pihak.

Ini menyiratkan bahwa sebenarnya bahwa masyarakat kita bukanlah masyarakat munafik. Menyalahkan mereka bertiga adalah sebuah pembelajaran agar para individu menjaga perilaku, anak-anak di generasi mendatang tidak melakukan hal serupa, agar para remaja fans ketiganya tidak menirukan tinglah laku idolanya dan secara luas menjaga anggota masyarakat lainnya dari kehidupan seks bebas. Adanya norma (yang menyatakan bahwa perbuatan ketiganya salah, tercela dan berdosa) membuktikan bahwa dalam masyarakat masih terdapat keinginan untuk menjadi lebih baik dan benar. 

Menyalahkan mereka bukan berarti pula bahwa seseorang (yang menyatakan mereka bertiga salah) adalah sosok suci yang tak mempunyai salah. Semua orang pasti mempunyai salah, tetapi bukan berarti semua orang bisa memaklumi dan membiarkan perilaku ariel dkk ditiru siapapun. Menyalahkan Ariel dkk adalah upaya preventif, setidaknya bagi diri mereka sendiri.

Di negara se-liberal Amerika Serikat pun, norma-norma masih dipegang erat. Lihat saja skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinsky dan kasus selingkuh pegolf profesional Tiger Woods. Masyakata masih memandang bahwa normapun menjadi hal penting untuk menilai pribadi mereka sebagai presiden dan atlet pro, bukan sekadar kebijakan yang dilakukan atau skor di padang golf (eh, penilaian golf gimana sechh??). Sejumlah pemain bola di Liga Eropa pun harus tercoreng mukanya karena skandal seksual yang menimpanya.

Sudahlah saya akhiri notes ini. Karena baik Ariel, Luna Maya, cut Tari juga belum menyatakan bahwa mereka adalah pribadi yang ada dalam video mereka.... Jika mereka tidak (atau belum) mengakui, mengapa pula mereka merasa sebagai korban... aneh kan ?... Anehnya lagi jika mereka menjadi korban, mereka sendiri lah yang menyodorkan diri dengan perilaku tak bernorma itu...

Monday, May 31, 2010

MEDIA CETAK GRATISAN



1. Apakah Media Cetak itu Bisa Gratis?
Saat belajar komunikasi di Bulaksumur(1996-2002), media cetak gratisan masih dikategorikan sebagai "media misionaris". Sebuah media yang diterbitkan untuk menyampaikan misi atau agenda tertentu dari penerbitnya. Sebut saja media internal perusahaan yang hanya medium sosialisasi kebijakan sang stakeholder atau berita pencapaiaan kinerja dari perusahaan tersebut. Contoh lain majalah yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah yang berisi keputusan perundangan-undangan; hingga newsletter buatan LSM guna advokasi dan edukasi pembacanya. Media tersebut dibiayai oleh institusi yang menerbitkannya dengan content yang sarat kepentingan. Media cetak gratisan kemudian dibandingkan dengan media komersil yang diorientasikan pada pembaca dengan motif keuntungan bisnis dibelakangnya.

Namun saya berpikir, bahwa media cetak pun sebenarnya bisa gratisan... bukankah radio, tivi dan internet juga bisa diakses secara gratis. Klopun alasannya bahwa media cetak butuh biaya cetak dan distribusi, bukankah media elektronik dan web juga butuh biaya operasional ?. Mungkin sekali lagi mungkin, ini berkaitan dengan kebijakan orde baru yang sangat mengekang media. eh, jadi inget om harmoko (wekekekke)


2. Konon Kompas Bisa Gratis, sekali lagi konon.
Konon, Harian Kompas bisa diterbitkan secara gratis. Banyaknya iklan dan mahalnya iklan di media tersebut, jauh lebih besar dari biaya operasional yang dikeluarkan (plus keuntungan yang diperoleh) oleh grup Gramedia. Para pembaca tidak perlu berlangganan atau membeli eceran jika ingin membacanya. Tapi ini konon, karena saya lupa dari siapa asumsi ini keluar. Apakah dosen saya ataukah mantan bos saya saat di biro periklanan dulu ? Yang jelas bukan dari pihak Kompas atau Gramedia sendiri.

Setidaknya pendapat ini mendukung asumsi saya, bahwa media cetak juga bisa gratis, tanpa diembel-embeli kepentingan tertentu oleh penerbitnya. Atau bisa saja, Kompas memang tidak menerbitkan secara gratis karena pertimbangan mencari keuntungan yang lebih besar, subsidi silang dengan media yang belum profit atau juga kompas memang menerapkan harga jual untuk menyasar segmen pembaca tertentu. 
 
3. Jadi wartawan di Media Gratisan 
Ahkirnya, saya bekerja di media cetak gratisan(2001-2002). Bukan media berskala nasional yang berhome base di Jakarta. Tetapi sebuah tabloid 16 halaman (awalnya malah cuman 8 halaman) yang terbit di kota Yogyakarta. Kantornya pun berada di garasi dalam arti harfiah. Nama medianya adalah Mall, yang oleh bos saya (pemilik tunggal) berarti media alternatif. Ia menyebut sebagai media alternatif karena media ini diharapkan mejadi pilihan beriklan dari harian Kedaulatan Rakyat yang sangat mendominasi iklan cetak di kota Yogyakarta. Padahal  bos saya itu sebenarnya juga juragan biro iklan lokal yang sebagain besar media placementnya di Harian tersebut.

Awalnya saya bertugas di wartawan "sorangan". maklum ini hanya side job dari biro iklan tersebut. Toh, terbitnya juga bulanan dan hanya edar di Yogyakarta dan sekitarnya . Mall "hanya" berisi liputan mengenai ekonomi bisnis, profil perusahaan, profil produk, hingga sosok pengusaha. kebanyakan juga masih relasi dari biro iklan sendiri. Mengenai BEP, saya menjuga belum balik modal. Tapi saya juga menduga ini hanyalah service tambahan yang diberikan oleh agency kepada klien setianya.


4. Berburu sampai Cibubur
Resign dari media tersebut, dan terdampar bekerja "magang" di Biro Iklan di jakarta (2003). Saya masih terobsesi dengan media gratisan. Dan ternyata media seperti Mall sudah banyak beredar di Jakarta. Oya sebenarnya di Jogja, juga ada 2 media sejenis, yakni "Jogja Pariwara" dan "Yogya Ad". Di Jakarta, distribusi tabloid gratisan ini tersebar dimana-mana, terutama perumahan. Ahkirnya saya memberanikan diri bertandang ke salah satu redaksinya... saya agak lupa nama medianya. yang saya ingat hanyalah media ini lebih banyak menampilkan iklan baris, katalog mobil dan rumah di jual. Sedangkan dari sisi berita, sangatlah minim. 

Saya bertemu dengan redaktur media tersebut (damn... namanyapun lupa) di sebuah resto yang berada satu komplek dengan SPBU di Cibubur. Di sebelah SPBU itu ada danau dan pintu tol. Kita pun terlibat dalam diskusi yang menarik, pembandingkan media hingga membaca prospek pasar. Media cetak gratisan nampaknya sangat menarik dan mempunyai pangsa pasar yang cerah.   

Saya juga sempat mengunjungi sejumlah teman dan meminta sejumlah media gratisan yang ia punya. Sebelumnya saya memang pernah meminta tolong agar menyimpan media gratisan untuk saya. Ada sekian banyak media yang sempat saya miliki, dengan beragam jenisnya. dari format tabloid, majalah, hingga booklet. 

5. Membuat Tabloid Gratis, eh Brosur.
Kembali bekerja di Jakarta, tepatnya di prinsipal sepeda motor mengasah kembali kemampuan saya dalam membuat media (2004-2005). Bagaimana tidak, saat Pekan Raya Jakarta, kantor saya menerbitkan sebuah brosur dengan format tabloid 4 halaman. Ini artinya cuman 1 lembar bolak-balik. Hampir 100% media ini saya kerjakan sendiri. mulai dari redaksi, artistik hingga layout. order ke percetakannya pun sedikit banyak saya terlibat. Hasilnya memang keliatan. Setidaknya nama saya gak cuman sekali numpang nampang di box redaksi... hehehe

Setelah sukses menerbitkan media ini, saya menyimpan obsesi untuk menerbitkan media internal, yang kelak diedarkan ke konsumen, dealer, bengkel, klub hingga  konsumen langsung. Namun saat saya meninggalkan perusahaan ini, proposal saya entah jatuh ke tangan siapa. Mungkin jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat. Hehehe. Setidaknya saya mulai merangkak untuk menerbitkan sebuah media cetak gratisan


6. Tak sekadar Windows Shopping
Masih di Jakarta, setiap waktu luang di week end, saya selalu menyempatkan windows shopping ke berbagai mall. Tujuan saya hanya sekedar jalan-jalan, gak belanja :p  Refershing diantara hari-hari melelahkan bekerja. Namun saya juga "belajar" mengenai aktivitas Advertisingg & Promotion di dalam mall, entah launching produk, sales promo dan tentu saja berburu majalah gratisan. Hal terakhir menjadi wajib hukumnya jika saya nge-mall. hehehe

Ada dua jenis media yang saya buru. pertama In House Magazine. sebuah media yang diterbitkan oleh mall bersangkutan. saya menginggat ada empat mall yang menerbitkannya; Plaza Indonesia, Plasa Senayan, Mall Kepala Gading dan Pondok Indah Mall (saat itu masih ada satu). PS, majalah terbitan Plasa Senayan adalah favorit saya, karena tak hanya berisi katalog produk, tetapi juga artikel tentang gaya hidup. Jenis kedua, adalah media yang diedarkan di tempat-tempat nongkrong macam resto, cafe dan sebagainya. Biasanya content media ini lebih banyak berkutat dengan gaya hidup, resensi film dan musik, fashion, trend gagdet terbaru, hingga jadwal para Dj di sejumlah tempat dugem. Sampai sekarang saya masih menyimpan sejumlah media tersebut.

7. Obsesi membangun media gratisan
Menjadi birokat empat tahun lalu (2006-Kini) ternyata sedikit banyak mempengaruhi minat dan ketertarikan saya pada media gratisan. Saya sudah tidak berburunya apalagi sampai terlibat dan membuatnya. Mungkin, sedikit obsesi masih tersimpan juga. Entah sampai kapan saya akan tertarik kembali untuk bergelut dengan media. hehehehe

Wednesday, March 03, 2010

Lagu itu seharusnya Gratis

Jangan tanya saya udah berapa banyak lagu yang saya dapatkan secara "illegal". Entah udah berapa puluh lagu yang sudah saya download, belasan album yang saya copy dari server warnet atau ribuan lagu yang saya dengar dari dengar dari CD mp3. sekali lagi jangan tanya saya, soalnya seluruh lagu dalam harddsik dan belasan keping CD mp3 sudah pasti tidak syah secara hukum... :P

Namun berbeda dengan seorang teman, Eko.  Ia menyatakan tidak pernah download lagu mp3 meski di kantornya terdapat akses internet tidak terbatas. Ia pun termasak seorang yang bertanggungjawab terhadap situs instansinya. Rupanya ia punya prinsip, jika berkaitan dengan hak cipta, ia tidak akan mengunduh file dari dunia maya. Sikap itu tentunya berbeda dengan saya. Namun dari ia, saya mendapat inspirasi tulisan ini.

Seingat saya, di sebuah situs download mp3 lokal, disebutkan bahwa lagu mp3 yang dapat diunduh hanya sebagai preview dari album musisi yang bersangkutan. Selanjutnya netter diharapkan agar mendengarkan album secara utuh melalui CD atau Kaset. Lalu pertanyaan masih relevan membicarakan hak cipta (atau apapun) saat kita berada di dunia maya ini ? Bukankah dengan mudahnya kita bisa mendownload mp3 diberbagai situs? Bahkan kita juga bisa juga mendownload videoclip dari Youtube ?

Bagi saya, kehadiran internet dan berbagai konsekuensinya tak ubahnya seperti saat manusia purba berada di jaman batu. Saat jaman prasejarah, yang namanya binatang itu gratis, tinggal bagaimana seseorang mampu berburu di alam liar. Manusia purba tak perlu berpikir tentang hak milik, karena alam telah menyediakan. Kini, di era informasi, teknologi juga melakukan hal sama. Memudahkan orang saling berbagi. Mo cari informasi apapun, gooling aja. Dunia cyber memiliki apapun secara tidak terbatas. Semuanya gratis. Banyak orang yang men"share" berbagai file yang dimiliki tanpa berpikir untung rugi. Internet telah menyediakan apapun, sama seperti alam menyediakan semuanya pada jaman batu.

Kembali pada musik mp3 yang kerap saya download, masih relevan bahwa kita membahas mengenai hak cipta, hak milik atau apapun itu. Haruskah kita mengeluarkan sejumlah rupiah untuk mendengarkan lagu ? Tanpa kaset dan CD kita masih bisa mendengarkan lagu melalui file mp3. Dalam dua-tiga tahun belakangan media televisi juga mengepung tontonan musik. Apalagi Stasiun radio yang jelas-jelas akan garing tanya adanya musik..... bukankah itu semua gratis. Klo pun kita tidak mendownload lagu di internet, kita juga sering mengopy (atau mem-bluetooth) lagu dengan beragam media (CD,flash disk,memory card, hp).

Saya pribadipun sesungguhnya jarang punya kaset apalagi CD. Klopun sempet beli tak lebih dari hitungan sebelah tangan. Terlalu mahalkah uang yang saya keluarkan (atau terlalu pelitnya saya) untuk mendengarkan  lagu-lagu dalam satu album penuh. Ataukah saya memang cenderung memilih mendengar satu-dua lagu yang menjadi radio hits saja. Atau pertanyaannya apakah saya sudah cukup puas dengan mendengar lagu hits saja?

Jika kita mencermati secara detail, para musisipun sebenarnya tengah tidak berjualan lagu dalam bentuk kaset dan CD. Band saat ini justru lebih banyak menawarkan Ringtone (NSP,i-ring, dll) untuk menjangkau pengemarnya. Coba lihat saya tayangan videoklip di TV, selain nama band dan judul lagu, ada juga kode pengaktifan nada sambung. Dalam iklan, para musisi akan berkata "jadikan lagu ini sebagai nada sambung di hp mu" bukan lagi " dapatkan CD dan kasetnya". Dulu kita mengenal "Sheila on 7" yang mampu menjual album sejumlah 1 juta copy. Kini band "Wali", "ST12" atau "Mbah Surip" juga dikenal karena banyaknya orang yang mengunakan lagu-lagu mereka sebagai nada sambung. Mungkin jumlahnya juga ratusan ribu hingga angka jutaan.

Sebuah band dari Inggris (Oasis ? CMIIW) bahkan menjualan lagu mereka di internet dengan harga secara terserah. Ini berarti setiap netter yang mo download lagu tersebut dapat mendonasikan sejumlah nomimal uang sesuai kemauan mereka. Bahkan tak sedikit dari mereka mendonasikan jumlah yang tak sedikit karena mungkin merasa fans berat band tersebut. Hal ini berbeda band lokal, Naif,  yang justru menjual mahal kaset/CD terbaru mereka. Rupanya band yang digawangi David di vokal ini lebih memilih jualan kaset secara terbatas. Kaset atau CD  hanya ditujukan pada fansnya serta memberi bonus berupa merchandise band. Band besar seperti Rolling Stone ternyata menambah kocek besar bukan dari jualan kaset dan CD. Pendapatan terbesar mereka berasal dari konser mereka yang diadakan di seluruh penjuru dunia.

Bahkan jika kita mencermati iklan di TV, para pemain band pun kini menjadi bintang iklan. Jika tidak, lagu mereka dijadikan jingle iklan. Sebut saja Dance Company (Teh Gelas), Vierra (Fruitamin ?), Duo maia (Ale-Ale) Igor Saykoji (Indosat), Padi (Mentari), Ahmad Dhani (Sprite) Ipang dkk (Coca-cola), Jupez (kondom Sutra). Bahkan mereka juga terikat kontrak sebagai "brand ambasador" dengan sejumlah industri clothing. Band sebesar ungu misalnya, para personilnya terikat dengan sejumlah brand. Anda juga pasti ingat tulisan "ROllink" segede gaban di jaket charly ST12 dalam sejumlah videoklip atau saat performance di stage. Bahkan saat saya masih kuliah dulu, gitar yang dimaninkan Nugie selalu terpajang sebuah merk jeans ternama.

Pada akhirnya, saya melihat lagu pada kini hanya menjadi media yang mengantarkan musisi untuk menjadi produktif dan makin terkenal. Lagu sebagai sebuah produk yang dapat dijual belikan akan semakin menurun di masa-masa mendatang. Musisi kini dapat menjual dirinya bukan saja melalui lagu. Mereka kini mempunyai cara yang lebih banyak untuk memupuk pundi kekayaan seperti : jualan ringtone, konser, jualan merchandise, jadi bintang iklan, jadi brand ambasador bikin jingle dan sebagainya.

Jadi, bersyukurlah para musisi yang lagunya saya download, ataupun saya copy. Dengan demikian saya merupakan pasar yang potensial untuk ringtone, penonton konser atau produk yang  mereka tawarkan. ..... Tapi sekali lagi,jika saya tidak sedang pelit dengan rupiah yang ada di dompet..... Sayangnya saya lebih sering pelit untuk urusan ini heheheheheheheheh.... atau setidaknya sesuai judul tulisan ini aja dech. Lagu itu seharusnya gratis.

Thursday, February 25, 2010

Menonton Film (secara) Murah Meriah



(1) Pergilah ke Warnet, Copy Film dari Server Warnet
Mengcopy paste file dari warnet adalah kebiasaan lama saya. Sudah beberapa tahun, saya kerap mengcopy file MP3 di warnet seraya surfing di dunia maya. Sebuah flash disk dengan kapasitas cuman 128 Mega cukup sebagai bekal. Kini dengan ketatnya persaingan, warnet tak cuman menyediakan file musik saja tetapi juga film-film terbaru, baik produksi hollywood maupun lokal.

Dengan uang Rp. 4.000 (ngenet di warnet/jam) dan 2 buah flash disk 4 Giga saya bisa mengopy sekitar 4-6 film. Cukup murah bukan. Dibandingkan dengan rental DVD atau membeli DVD bajakan sekalipun, uang itu cukup enteng di dompet. Kualitas gambar dan suaranya pun tidak mengecewakan.

(2) Nonton di Rumah Kapan pun.
Dengan file film di flash disk, saya bisa menonton kapan pun. tidak terbatas pada durasi sewa, apalagi berpikir denda karena terlambat mengembalikan kepng DVD ke rental. Apalagi kartu identitas kerap menjadi barang jaminan. Sebuah harga yang terlalu mahal menginggat keping CD atau DVD hanya berharga tak lebih dari Rp. 5.000

Saya sering menonton film di monitor komputer jika hanya menonton sendiri alias tidak nonton bersama istri. Setelah itu, file tersebut langsung dihapus dari flash disk. Simple kan. Seberapa sering sich, kita menonton kembali sebuah film yang sama?

(3) Lebih Nyaman, Burn di keping CD/DVD
Menikmati film di TV jauh lebih nyaman daripada melototi layar komputer atau bahkan layar laptop. Pesawat TV juga menjadikan kita lebih rileks, bisa selonjoran atau bahkan rebahan di ruang keluarga.

Untuk itu, saya harus memburn file film tersebut dalam keping DVD atau CD. Software Nero sangat-sangat membantu, apalagi dengan CD-RW, dimana sebuah keping bisa diburn berkali-kali. Lalu tinggal mainkan di VCD/DVD Player. Sepanjang pengalaman, tidak semua VCD player ternyata support dengan CD yang saya burn. Setidaknya VCD Player milik ortu yang udah kelewat jadul itu hehehehe....

(4) Makin Nyaman lagi, Gunakan VGA to TV Converter.
Nah ini adalah sebuah alat yang "terpaksa" saya beli untuk dapat menikmati (kembali) film. Dikatakan terpaksa karena DVD Player yang biasa digunakan diminta kembali sama empunya, adik kandung saya. Maklum, setelah menikah, adik meminta kembali barang itu. Awalnya saya berniat membeli DVD Player baru. Namun saya justru mendapatkan barang ini ketika browsing di dunia maya. Dan pilihan membeli DVD Player baru terlupakan sudah.

VGA to TV Converter sendiri merupakan alat yang bisa mengubah layar VGA ke layar TV. Dimensinya pun kecil dan hanya memerlukan daya listrik dari USB. Bahkan alat ini tidak memerlukan driver sama sekali. Kebiasaan memburn film pun sudah lewat. Pengoperasional alat ini juga mudah, semudah menyolokan kabel2 di DVD Player. Soal harga, alat ini memang lebih mahal daripada DVD Player.... namun karena kebiasaan saya mengcopy file dari warnet, pilihan pada VGA to TV Converter menjadi lebih tepat.

Kini setidaknya ada beberapa file film yang masih ngendon di flash disk atau harddisk laptop, seperti : sherlock Holmes, Ninja Assassin, District 9, Funny People, , Knowing, My Bloody Valentine, hingga G.I. Joe - The Rise Of Cobra.

sttt..... jangan laporkan saya ke Dirjen HAKI, ya.... heheheh

Monday, February 15, 2010

Seberapak Kaya kah Anda ?

"Bagaimana Anda bisa bicara mengenai ekonomi kerakyatan jika kuda Anda saja bernilai 5 milyar ?"

Mungkin anda masih ingat pertanyaan di atas. Sebuah pertanyaan yang diajukan Kick Andy, eh, Andy Nova dalam sebuah wawancara dengan salah seorang cawapres beberapa waktu lalu. Jika masih ingat, ya sudahlah. Klo tidak ingat, ya gapapa juga. Toh, saya tidak akan membahas orang tersebut. Saya hanya ingin menulis tentang definisi kekayaan.

Mengapa kekayaan menjadi menarik perhatian saya ? Jawabannya sederhana saja, saya sudah jenuh dengan berita kemiskinan yang beredar di media massa, dari masyarakat yang makan nasi aking, kembali mengkonsumsi ubi sebagai makanan pokok, urbanisasi yang menyebabkan banyak preman, penculikan bayi yang dijadikan pengemis, atau berita tentang maraknya dukun cilik karena tiadanya jaminan kesehatan terhadap masyarakat bawah.

Jadi mari kita membicarakan tentang kekayaan saja. Siapapun anda, baik merasa sudah kaya atau belum pasti ingin menjadi (lebih) kaya. Begitu juga dengan saya. Saya pun ingin menjadi kaya dan tidak termasuk dalam kelompok masyarakat miskin atau yang dihaluskan menjadi golongan keluarga prasejahtera.

Memelihara kuda, di mata saya, adalah simbol kekayaan. Seekor kuda jauh-jauh berbeda dengan seekor ikan oscar, yang pakannnya cuman belasan ribu yang bisa awet berbulan-bulan. Memelihara kuda haruslah memerlukan lahan luas, pakan yang mahal, biaya pemeliharaan yang tidak sedikit serta pekerja yang bertugas khusus memeliharanya. Oya, saya memelihara ikan oscar yang merupakan warisan mertua. hehehhe..

Ketika kita tahu angka 5 milyar rupiah, betapa terkejutnya bahwa ada juga orang kaya di negeri ini. Mungkin ada belasan orang kaya yang mempunyai hobi yang sama. Duit 5 milyar tidak akan ada artinya jika orang sudah berbicara hobi. Hobi dan duit yang dikeluarkan untuk hobi kayaknya bisa menjadi acuan sederhana bagi kita untuk menilai kekayaan seseorang. Semakin banyak duit yang dikeluarkan untuk hobi, makin kayalah orang tersebut.

Saya pun mempunyai pengalaman mengenai hal ini. Beberapa tahun lalu, saya sempat mengenal orang-orang yang hobi motor gede. Dan sepanjang pengetahuan saya, duit 50 juta untuk menyalurkan hobi bermoge masih dibilang lumrah. Seorang rider menyatakan hal tersebut, 25 juta untuk harga moge, dan 25 lainnya untuk modif. Ada juga yang memasang tas bagasi dari kulit ular di kanan kiri pembonceng. Ada juga meng- air brush keseluruhan bodi motor yang tentunya berkisar jutaan rupiah. Moge yang saya maksud adalah moge buatan korea. Klo moge yang buatan jepang, amerika atau eropa, harganya bisa belipat-lipat.

Lalu apakah standar kekayaan yang saya yakini ??? Jika ini dipertanyakan pada saya maka saya akan merujuk pada pengalaman masa kecil saya tentang definisi kekayaan.

Definisi kekayaan yang pertama saya anut adalah naik haji. Jika ada seseorang naik haji berarti ia adalah orang kaya. Imajinasi masa kecil saya terhadap orang yang naik haji sudah pasti orang kaya. Pergi ke luar negeri selama beberapa minggu, perjalanan dengan pesawat terbang dan sambutan yang begitu meriah tentunya memerlukan rupiah yang tak sedikit. Wajar saja, saya mempunyai pandangan ini, maklum saya dididik di lingkungan TK dan SD Muhammadiyah.

Pada usia sepuluh tahunan, seorang tetangga membawa mobil masuk dalam kampung yang sempit. Saat itu juga defisini kekayaan berubah di benak saya. Kekayaan adalah memiliki mobil. Seingat saya ada tetangga yang mempunyai mobil "sejenis" jip. Pokoknya keliatan gagah banget mobil itu. Penilaian saya saat itu, tak banyak orang yang mempunyai mobil, dimana saya dan keluarga "harus" mengunakan bus umum sebagai transportasi luar kota.

Memasuki bangku SMP, definisi kekayaan kembali berubah. Sebuah sengketa hukum menjadikan keluarga saya harus "pindah rumah". Saya terlalu kecil saat itu untuk memahami apa arti hukum itu. Yang pasti keluarga saya harus mencari kontrakan karena rumah yang telah dihuni sejak jaman kakek saya telah berpindah tangan. Sejak saat itu memiliki sebuah rumah berarti sebuah kekayaan. Apapun model dan luasnya cukup mejadikan standar kekayaan di mata saya.

Kini, jika anda bertanya pada saya apa definisi kekayaan ..... Saya justru bingung menjawabnya. Anda mungkin lebih puas jika mendapat jawaban dari pejabat atau politisi yang tahu betul apa itu kekayaan (dan kemiskinan), atau bagaimana kekayaan (dan kemiskinan) itu bisa menjadi komoditas politik yang bisa ditawarkan pada masyarakat luas.

Klo anda masih memaksa saya untuk mendefinisikan kekayaan, saya akan menjawab.... selama anda masih diberi rejeki oleh Yang Di Atas dan anda bisa menyisihkan 2,5% untuk zakat, maka sesungguhnya anda termasuk orang kaya. Itu saja....