
SBY menjadi menarik untuk saya tulis karena adanya situs facebook. Ya, facebook yang anda buka ini, seakan membuka relasi antara saya dan pria kelahiran Pacitan tersebut. ..... Relasi, kayaknya bukan kata yang tepat dech, karena saya juga tidak kenal secara pribadi. Klo saya menuliskan kata interaksi, kayaknya juga kurang tepat, setahu saya SBY tidak mempunyai account, apalagi untuk berteman di situs facebook. Jadi kata apa yang tepat menggambarkan hubungan antara SBY dan saya ???
Yang jelas ada beberapa kali status saya menulis tentang SBY atau demokrat. Dalam Tahun 2010 saja, setidaknya telah tercatat 5 status :
- SBY punya facebook gak ya? Klo punya, tolong pak presiden baca notes saya yang berjudul "Antara saya, bunda dan prita?" dan jawab pertanyaan rakyatmu ini. (14 januari)
- dikutip dari notesku "Kampanye Award" Anggota Tim Sukses terburuk : SBY, poltak.... ngomong kacau, suka menyela, berteriak2, satu lagi gak camera face (17 januari)
- buat lembaga survey yang merilis tingkat kepuasan, saya kok gak pernah disurvey sich... jangan-jangan lembaga ini cuman terima orderan, kayak tukang sablon. mo nulis 70% atau berapa tergantung yang order.... huuuhhh!!! (28 januari)
- Soeharto mencitrakan pembangunan. SBY membangun pencitraan. Menurutmu, apa bedanya gak sih ??? (28 januari)
- Presiden itu pemimpin atau tukang ngeluh (5 februari)
Bahkan sebuah tulisan berjudul “Antara Bunda, Prita dan Saya” yang saya upload pada 2 Januari juga mencatut status “Gimana nasib Anggodo yah ? Kok SBY tidak menuntut Anggodo, padahal jelas-jelas namanya dicatut seperti yang kita dengar di sidang MK. Masak SBY kalah sama RS Omni, perkebunan kakao dan pemilik semangka”
Lalu apa menariknya status saya di atas ? Mungkin pertanyaan bisa dijawab oleh para teman yang mengomentari status dan notes di atas. Mungkin anda termasuk salah satu di antaranya…..
Jika pertanyaan kemudian diajukan kepada saya, sesunggunya jawabannya adalah sederhana saya…. Inilah bentuk demokrasi yang bisa saja jalankan…. Bukankah dalam demokrasi, dijamin adanya kebebasan mengeluarkan pendapat.
Dalam dunia yang semakin canggih dan sempit ini, kehadiran facebook menjadi begitu real dalam membangun sebuah interaksi politik dan demokrasi menjadi lebih mudah untuk saya pahami. Interaksi politik bukan semata-mata persoalan pilihan koalisi atau oposisi serta bagi-bagi kursi di kabinet. Begitu juga demokrasi harus dipahami dari sekadar pemilu yang hanya berlangsung lima tahun sekali itu.
Jika demokrasi diartikan sebagai pemerintahan oleh, dari, dan untuk rakyat; maka facebook adalah “sarana teraktual dan terinteraktif” untuk mewujudkan pemerintahan tersebut. Melalui facebook, saya, anda dan semua member (yang tentunya sebagai rakyat indonesia) dapat memberikan pendapatnya mengenai negeri ini, tentang lembaga politik (Presidennya, DPR), tentang aneka satwa (cicak, buaya, bangsat, gurita, kerbau) atau tentang rumor politik sehar-hari. Dan saya percaya 100%, apapun pendapat anda, inilah bagian dari demokrasi.
Facebook menjadi sebuah institusi yang bisa saya percaya untuk menyalurkan pendapat saya, bisa melalui banyak hal, mulai dari status, notes, groups, hingga pages. Bahkan komentar juga dapat diartikan sebagai sebuah pendapat sang facebooker terhadap wacana yang dilemparkan oleh facebooker lainnya. Kita pun bisa melihat pilihan politik seorang teman melalui berbagai group yang ia ikuti, apakah ia ikut group “SBY lanjutkan” groups “SBY tuntaskan century” atau groups “Mosi tidak percaya pada SBY”
Saya sudah tidak percaya dengan partai politik, ketika partai hanya aktif saat pemilu atau kongres, munas atawa muktamar. Kantor partaipun selalu tampak sepi-sepi aja klo tak ada agenda. Begitu juga saya tak kenal mereka yang duduk di parlemen. Mereka cuma saya lihat fotonya bertebaran memenuhi ruang publik dan menjadi sampah visual saat kampanye berlangsung, selain itu mana ada mereka mengajak saya dalam acara penyaluran aspirasi rakyat (duch… redaksionalnya itu). Begitu juga dengan pemilu yang hanya memilih seseorang berkuasa tanpa pernah ada kontrol, kecuali jangan dipilih kembali 5 tahun mendatang.
Beruntunglah…. Di tengah ketidakpercayaan saya pada pemilu, partai politik hingga lembaga politik….. saya masih bisa (belajar) berdemokrasi melalui facebook. Saya belajar untuk menyalurkan pendapat saya sebagai rakyat melalui status. Saya memimpikan pemerintahan yang lebih baik seperti yang saya tulis melalui notes. Saya menyatakan “koalisi” atau “opposisi” atas pendapat facebooker lainnya melalui comment.
Jadi tunggu saja tahun depan…. Saya akan mendirikan Partai Facebook Indonesia… wakakakakakkaka.










Simbah Diyem adalah seorang nenek tua sebatang kara yang berprofesi sebagai pedagang kerupuk puli... Sehari-hari simbah berjualan di Pasar Bandar Kediri. Seharian Simbah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki tanpa alas menuju pasar dari rumahnya di lereng Gunung Klotok Sukorame yang berjarak 14 km. Kakinya bengkak... gondong di lehernya menunjukkan kemiskinan yang menerpa kesehariannya. ...