Tuesday, November 18, 2008

Jaman Internet = Jaman batu

Klo di bilang bahwa kehidupan selalu berputar, maka kehidupan kita saat ini juga merupakan putaran dari kehidupan sebelumnya. Apa yang kita anggap sebagai sebuah kemajuan, secara dasar adalah proses kembali pada tataran kehidupan sebelumnya.... pusing ya? Mari kita sederhanakan....

Dulu, ada masa yang kita kenal sebagai jaman batu(prasejarah), kemudian jaman modern (jaman bersejarah) dan terahkir jamaninternet ( cyber). Artinya setelah jaman modern, kehidupan kita saat ini dan ke depan, tak ubahnya mengikuti berbagai pola kehidupan di dunia batu.

1. Gambar sebagai alat bahasa
Saat ini kita banyak mengunakan icon, gambar dan simbol dalam mengkomunikasi sesuatu. Yang paling gambang dan sering digunakan adalah icon-icon yang berada di program komputer. Mengunaan icon ini merujuk kembali pengunakan piktogram, yakni penulisan huruf paku yang (lebih mirip gambar) oleh manusia purba di dinding gua.
>> Pengunaan piktograf pada dasarnya merupakan bentuk komunikasi secara sederhana, sedang pengunaan icon adalah upaya menyerdahanakan komunikasi

2. Hak Kepemilikan
Klo mo cari informasi sesuatu, gooling aja. dunia cyber memiliki apapun secara tidak terbatas. Semuanya gratis. bahkan kita bisa mendapatkan program, lagu, video dan apapun secara gratis. Banyak orang yang men"share" berbagai file yang dimiliki tanpa berpikir untung rugi. Internet telah menyediakan apapun, sama seperti alam menyediakan semuanya pada jaman batu. pada jaman batu, yang namanya binatang itu gratis, tinggal bagaimana seseorang mampu berburu di alam liar.
>> Manusia purba tak perlu berpikir tentang hak milik, karena alam telah menyediakan. teknologi juga melakukan hal sama, memudahkan orang saling berbagi.

3. Status Individu
Jaman batu, manusia berinteraksi tanpa batas ruang dan waktu, mereka berkumpul dalam gua-gua, kelompok kecil di alam bebas dan membangun strata strata sosial yang sederhana. Kini email, teleconfrence, videocall, blog dan sebagainya membuat sesama manusia dalam dunia cyber saling berhubungan secara sederhana dan menembus sekat-sekat strata sosial yang dibangun dalam jaman modern.
>> Manusia kembali menjadi satuan individu bukan sebagai anggota dari kelompok strata sosial tertentu. masyarakat purba adalah masyarakat tanpa strata sosial, sedang masyarakat cyber menafikkan strata sosial.



Source gambar : http://i25.tinypic.com/1581t9s.jpg

Friday, November 14, 2008

Kisah Simbah Diyem


Simbah Diyem adalah seorang nenek tua sebatang kara yang berprofesi sebagai pedagang kerupuk puli... Sehari-hari simbah berjualan di Pasar Bandar Kediri. Seharian Simbah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki tanpa alas menuju pasar dari rumahnya di lereng Gunung Klotok Sukorame yang berjarak 14 km. Kakinya bengkak... gondong di lehernya menunjukkan kemiskinan yang menerpa kesehariannya. ...

Usai berjualan, Sang Simbah selalu mampir Masjid Baiturahman yang terletak di Jalan Penanggungan tak jauh dari Pasar Bandar. Saat itu Masjid Baiturahman masih dipenuhi pepohonan yang rindang, di tambah beberapa pohon bambu di pojok depannya... Asrama IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) ada di samping masjid....

Setelah berwudhu’, simbah masuk masjid. Mengambil mukena dari keranjang kerupuknya ...
dan melakukan solat Zuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, Simbah keluar masjid dan mengumpulkan dedaun yang bertaburan di halaman masjid.Sehelai demi sehelai dikutipnya. Tidak satu helai pun dibiarkannya. Tentu saja agak lama simbah membersihkan masjid dengan cara itu, padahal matahari sedemikian menyengat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Para takmir masjid dan pelajar SMP Muhammadiyah yang sehari-hari berada di lingkungan masjid menjadi iba melihatnya.

Pada suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum simbah datang. Ketika simbah datang dan seperti biasa usai sholat, melakukan pekerjaan rutinnya.... . namun dia terkejut karena tidak ada satu helai pun daun yang berserakan di halaman masjid. Dia kembali ke masjid dan menangis sambil bertanya kepada semua orang mengapa dedaunan itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang di dalam masjid menjawab, karena mereka kasihan melihatnya.

Seketika itu Simbah menjawab : "Jika kalian kasihan melihatku, berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya,"jawab simbah sembari menyeka air matanya. Singkat cerita, keesokan harinya simbah dibiarkan mengumpul dedaunan yang bertebaran di halaman masjid seperti biasa. Orang-orang tak mengerti.

Seorang pelajar Kelas II SMP Muhammadiyah bertanya, dan mendapat jawaban.. : "Saya ini perempuan bodoh," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya mungkin tidak selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Nabi Muhammad s.a.w. Setiap kali saya mengambil sehelai daun itu, saya mengucapkan selawat kepada Rasulullah.Kelak jika saya mati, saya ingin Nabi datang menjemput saya. Biarlah semua daun itu menjadi saksi saya berselawat kepadaNya"....

Kami semua meneteskan air mata haru.....
Kini Simbah Diyem mungkin telah tiada.....

======
ps : kisah ini bener-bener bikin aku terharu
source : email dari seorang sahabat

Rock d World!
rio_nisafa

Saturday, October 25, 2008

Tampil elek-elekan

Gak tau siapa yang pertama mempopulerkan istilah ini dalam genk saya selama kuliah dulu. Namun yang pasti istilah ini muncul lagi dalam "reuni" yang berlangsung kemarin, jumat 24 Oktober 2008.

Awalnya kami berlima, sekumpulan mahasiswa jurusan komunikasi 96 di bulaksumur sering runtang-runtung bareng selama masa kuliah. Bukan hanya nongkrong di kost-kostan tetapi juga dolan ke berbagai tempat, dari istana air taman sari, Rumah makan terapung di Rowo Jombor, hingga ke berendam pasir saat sunset di Pantai Senggigi Lombok.

Tampil elek-elekan mungkin antitesis dari pengalaman kami selama kuliah, tepatnya saat berinteraksi dengan orang lain di luar genk. Dulu kami memang sering jaim semasa kuliah. Kadang kami ingin terlihat pinter di depan adik-adik angkatan, tampil sok PD di depan temen organisasi, atau bahkan sok teladan di depan dosen yang beberapa kali memberi proyek ..... dan yang lebih parah kami seolah menjadi lebih baik di bidang apapun di depan temen kuliah berkelamin perempuan.

Bukan persoalan kami menjadi orang lain, tetapi ada upaya kompromis dengan kawan pergaulan saat itu. Atau memang dengan cara itulah, kita bisa menempatkan diri dalam interaksi. Yang kami lakukan adalah menciptakan (atau memanipulasi) kesan yang lebih baik pada diri kami. Bukan untuk menjadi diri orang.

Dan istilah elek-elekan muncul sebagai upaya diri kami menjadi diri kami yang sesungguhnya di depan temen-temen karib, temen satu genk.

Tampil elek-elekan tidak berarti bahwa kami ingin tampil menjadi lebih jelek, tapi merupakan sebuah kejujuran bahwa kami pun bisa tampil jelek tanpa berusaha menutupinya. Tampil elek-elekan menjadikan kita sebagaimana adanya. Bahwa kami berlima (dan kemudian jadi nambah member) bisa melakukan apapun secara bebas dan lepas, tertawa ngakak, gojek-gojek kere, mengutuk diri seakan merasa termarjinalkan, bingung ngadepin kuliah dan dosen, sambat tentang keuangan, sampai gendhu-gendhu roso tentang kehidupan bercinta masing-masing orang.

Ya, ternyata menjadi diri sendiri itu sulit.... dalam berhubungan dan berinteraksi dengan orang, terkadang kita lebih sering memanipulasi citra diri.

Thursday, August 14, 2008

Diponegoro dan Kemerdekaan Kita

Tiba-tiba aja saya pengen nulis tentang diponegoro... ya pangeran diponegoro yang kerap ditulis oleh buku-buku PSPB (pelajaran sejarah perjuangan bangsa). Entah kenapa ... mungkin bentar lagi bangsa kita mo rayain kemerdekaan yang 63 tahun... atau mungkin karena diponegoro itu pahlawan dari jogja.... karena juga tanah di tegalrejo (yang dibangun rel sama belanda) berada tak jauh dari rumah saya. Atau mungkin karena diponegoro sering jadi bahan joke di kalangan kita.

Jika harus ditarik dari awal.... saya suka sosok diponegoro. Seorang yang mewarisi legistimasi kekuasaan di tanah jawa. Ia adalah putra dari sultan hamengkubuwono III yang merupakan trah dari sebuah kerajaan mataram islam di jawa. Karena legistimasinya itu, ia berhak mendapat gelar pangeran.

Leluhur diponegoro yang paling terkenal adalah Sultan Agung, (lengkapnya Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo) satu-satunya raja di Indonesia yang melakukan penyerangan secara ofensif kepada Belanda di batavia. Sekali lagi secara menyerang ofensif, bukan sekadar mempertahankan wilayah dagang ala raja-raja lain di nusantara. Meskipun dua kali mengalami kekalahan berbuntut pada melepasnya daerah-daerah di kekuasaan mataram, sultan agung merupakan seorang pahlawan besar.

Semangat itulah yang seakan diwarisi oleh Diponegoro, perang melawan belanda yang dilakukan pada tahun 1825 sampai 1830 merupakan sebuah peperangan terbesar yang dialami bangsa indonesia maupun bangsa belanda. Karena besar perang ini, belanda sampai menyebut perang ini sebagai perang jawa, bukan sekadar perang diponegoro.

Perang melawan belanda yang ditunjukkan sultan agung maupun diponegoro merupakan salah satu bentuk penolakan segala bentuk intervensi asing yang masuk ke tanah jawa. Apalagi saat itu kerajaan mataram islam merupakan sebuah kerajaan besar. Sebagai sebuah kerajaan di dalam (bukan kerajaan pesisir, seperti majapahit atau demak) Mataram Islam mempunyai potensi sebagai kerajaan yang lebih besar lagi dibandingkan dengan Mataram Budha (dibawah dinasti Syailendra yang membangun Candi Borobudur) maupun Mataram Hindu (dibawah dinasti Sanjaya yang membangun Candi Prambanan). Sebelum mataram islam membangun dirinya dan menjadi besar, belanda datang dengan sikap kolonialisme nya..... setelah sultan agung gagal menaklukkan belanda, tantangan itu jatuh ke tangan diponegoro.

Penolakan diponegoro dimulai dengan masuknya intervensi belanda di kesultanan yogyakarta. (fyi mataram islam sudah terpecah menjadi kesultanan yogyakarta dengan kasunan surakarta). Hal ini terlihat dengan adanya Residen Belanda yang turut mempengaruhi roda pemerintahan saat itu. belum lagi dengan sikap bangsa belanja yang menghiraukan adat istiadat setempat dan mengeksploitasi rakyat. Keberpihakan diponegoro pada rakyat merupakan pilihan sikap sang pangeran yang lebih mencintai rakyatnya daripada tahta dan harta benda.

Pemicu perang diponegoro adalah pembangunan rel kereta api oleh belanda di tegalrejo, suatu daerah dimana diponegoro menghabiskan waktunya bersama eyang buyutnya, bukan bertempat di dalam benteng kraton layaknya sang priyayi. tinggal di tegal rejo juga menunjukkan sikap kedekatan sang diponegoro kepada rakyat sekaligus mempelajari ajaran agama.

Ketika perang berkobar pun, dukungan rakyat pada diponegoro sangat terbukti. Diponegoro mampu memperoleh dukungan dari banyak rakyat di berbagai tempat, tak hanya wilayah jogja semata. Banyak senopati (komandan) dan alim ulama yang mengambil peran membantu pasukan diponegoro di garis peperangan. Dukungan ini bukan semata-mata karena gelar pangeran yang ia sandang tapi lebih pada semangat perang sabil, yang selalu ia kobarkan.

Besarnya perang diponegoro juga membuktikan bahwa ia bukan pahlawan kelas kampung seperti si pitung, yang hanya terkenal di Kampung Marunda, Jakarta Utara. Semangat yang ia kobarkan bukan juga karena mempertahankan hukum adat (seperti hukum tawan karang di bali) apalagi hanya sekadar perebutan wilayah ekonomi (seperi hasanudin). perang diponegoro adalah perang kebangsaan melawan penjajah asing, bukan sekadar perang adat ala perang padri di tanah sumatra.

Penolakan diponegoro terhadap belanda membawa pengaruh yang besar dalam sejarah ke depan. Dalam era paska kemerdekaan, sikap ini diperlihatan sultan hamengku buwono IX, seorang raja kasultanan yogyakarta. Ia menolak opsi pemerintahan yogyakarta yang berada di bawah ratu belanda. Ia memilih bergabung dengan soekarno hatta dan menyatakan bahwa daerah yogyakarta adalah bagian dari wilayah indonesia dengan status istimewa.

foto :
http://foto-foto.com/apahlawan1/diponegoro_1.jpg

Rock d World
rio_nisafa

Thursday, July 17, 2008

PC MAV 14

klik kanan disini lalu klik save target as


Tidak ada antivirus lain yang mampu mengatasi dengan tuntas virus komputer, baik lokal maupun asing, yang banyak menyebar di Indonesia sebaik PCMAV.

Umumnya antivirus yang ada hanya mampu mengenali dan menghapus file yang dideteksi bervirus. PCMAV menyempurnakannya dengan keakuratan pendeteksian yang lebih presisi serta kemampuan menyelamatkan file, dokumen dan sistem yang menjadi sasaran serangan virus hingga kembali pulih 100%.

Dengan PCMAV, Anda akan mendapatkan antivirus yang bukan hanya sekadar mendeteksi namun daya basminya yang tangguh mampu memburu 99.9% virus yang dikenal sampai ke "akar-akarnya" tanpa menimbulkan kerusakan pada file maupun sistem yang terinfeksi.
Perpaduan keunikan fitur serta keakuratan dan kepedulian terhadap keselamatan sistem, file dan dokumen Anda memberi kesempurnaan sebuah antivirus pada PCMAV.

Di setiap edisi Majalah PC Media terbaru yang terbit tiap bulannya,kami senantiasa menyempurnakan PCMAV ini dengan kemampuan dan fitur baru demi menjadikan PCMAV sebagai antivirus yang sesuai kebutuhan Anda, pembaca setia Majalah PC Media. Dan menjadi kebanggaan Indonesia.

Monday, June 30, 2008

[tentang] Stop Gombal Maning*)




Gak perlu jadi anggota LSM atau VJ MTV untuk sekadar berteriak lantang tentang bahaya Global Warming. Beberapa hal yang bisa kita lakukan, setidaknya yang pernah saya lakukan sehari-hari :


1. Kurangi Pengunaan Plastik
Jika memesan minuman di tempat makan, saya sudah membiasakan untuk tidak mengunakan sedotan. Jika membeli buku, aqua, sewa CD, atau alat-alat lainnya, saya cenderung untuk langsung memasukkan ke tas yang saya bawa atau ke dalam saku jaket. Kantong kresek yang diberikan, langsung saya balikin ke mas/mbak pramuniaganya. Jika ada kantong kresek di rumah, saya cenderung untuk menyimpannya, tidak kemudian langsung dibuang di tempat sampah. Sesedikit mungkin kantong kresek yang saya pakai atau buang.

2. Gunakan Kertas Bekas / Bolak balik
Kalender lama, saya potong dan saya bendel untuk jadi notes... kertas HVS sisa skripsi yang salah print, saya simpen untuk saya gunakan lagi jika ada artikel atau tutorial yang perlu saya pelajari. Bekas brosur kerap saya gunakan sebagai memo yang saya tempel di white board atau kulkas. Begitu juga di kantor, kertas salah print juga saya gunakan meski hanya untuk membuat coret-coretan.

3. Menghemat Listrik
Lampu neon untuk aquarium hanya saya nyalakan untuk "pamer" jika ada seseorang bertamu di rumah saya. Dispender juga saya hidupkan beberapa saat sebelum menyeduh teh, coklat atau susu, lalu saya matikan segera setelahnya. Saya juga memilih kulkas yang memiliki dispenser dengan asumsi akan mengemat lampu dan suhu kulkas. Saya hanya menggunakan satu lampu di teras meski ada dua fitting lampu terpasang.

foto : www.greenenergyonline.org
*) gombal maning : plesetan dagadu untuk global warming

Rock d World!
rio_nisafa

Thursday, June 19, 2008

[tentang] bingung mo ngapain ?

bingung mo ngapain ?

ada yang mo kasih saran ?

Rock d World!
rio_nisafa

Tuesday, May 27, 2008

[tentang] 5 mitos tentang tempat makan yang enak

*) sebuah potongan berita yang meliput opor menthok yang dipigura di sebuah tempat makan di magelang

1. Tempat yang rame

Tempat makan yang rame, banyak pengunjungnya bukan jaminan klo tempat itu nawarin makanan yang enak.... di tempat kerja ku dulu (di kawasan Mega kuningan, Jakarta Selatan) ada tempat makan yang biasa di sebut cafe AMIGOS alias Agak minggir Got... klo dibilang rame.. ya wajar aja, namanya juga jam makan kantoran, pasti bareng antara jam 12.00 sampe jam 13.00. Mo beli nasi uduk, gado-gado, ayam goreng, mie ayam, soto betawi, soto lamongan, semua nya rame.... tapi klo soal rasa, juga sama, Standar banget.


2. Tempatnya juga agak "kumuh"

Ini pendapat om ku dari medan. Alasannya tempat yang agak kumuh berarti penjualnya udah lama jualan. jadi tempatnya juga gak baru-baru amat atau bersih kinclong... sayang pendapat ini gak aku setujui, baik sebagai individu maupun pokanan (walah ?). Simpel aja.... karena tempat gak menjamin 100 % tentang rasa makanan. Bisa jadi, karena si penjual memang gak punya pekerjaan lain yang dilakuin... atau malah tempat yang begitu malah bisa nurunin selera makan


3. Ada temen yang recomend

wah... klo yang ini makin diragukan lagi, pertama selera lidah kita dengan temen udah beda. yang kedua harus dipastiin temen kita itu punya pengetahuan yang luas. Aku pernah "tertipu" dengan rekomendasi seseorang tentang mie ayam paling enak se-kotanya... ternyata rasanya asin dan kebanyakan vetsin. grrrrr.... !


4. Udah pernah masuk media.

harus diinget, apakah tempat makan itu bisa masuk di media (entah TV, Koran, Majalah) karena liputan atau karena pasang advetorial? harus dibedakan banget. klo ternyata advetorial, maka yang bilang makanan itu enak cuma dua orang , yakni pemilik restoran yang merangkap humas dan si reporter/wartawan. Jika tempat makan itu masuk dalam kategori liputan maka itu "jangan-jangan" hanya selera di wartawan aja.


5. Tempat nya memang udah kondang

di belakang malioboro, tepatnya di daerah patuk ada cemilan enak .... namanya bakpia patuk.... tapi siapa yang jamin klo toko oleh-oleh yang kita datangin menawarkan kue dari kacang ijo itu emang enak beneran .... lha di kawasan itu semua tokoh oleh2 berderet dari ujung ke ujung jalan dan semua menawarkan cemilan yang sama . Uniknya di daerah lain (termasuk terminal, stasiun) ada juga yang jualan Bakpia patuk ... lho mana lebih enak nich?



TIPS RIO

Tips terahkir ini memang aku simpulkan sendiri, boleh diturutin...

Ada suatu tempat makan yang bener2bener enak (sampai dobel2 tuch...) dan bener-bener aku rekomendasikan banget. dari segi rasa.. hmmm bintang lima deh.. dan dari 5 (lima) ciri2 tempat makan yang enak... semua kriteria masuk. perfecto!


Pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa tempat makan yang enak adalah yang mempunyai papan " SUDAH HABIS".


alasanya sederhana...

banyak orang yang beli dan makan, dan ini berarti otomatis memang enak... lha tempat makan itu gak cuma rame pas jam makan aja. Hal ini menyebabkan si penjual sampai kehabisan daganganya...... tapi si penjual gak semata-mata lantas bikin makanan tersebut dalam jumlah yang banyak... semua dalam porsi yang pas... sehingga tidak ada kuah yang keasinan, lauk yang dihangatkan, sayuran yang ditambah belakangan dan sebagainya.... semuanya dalam bahan dan bumbu yang pas..... dan orang-orangpun mendapat makanan yang sama enaknya.... dalam bahasa yang lebih keren "quality control"nya memang udah jalan.


nah dari itu semua, wajar aja klo makan satu ini emang cepet habis... dan untuk menginformasikan pada orang2 yang belakangan datang dan ternyata menunya udah habis... terpaksa deh.. papan dari kayu dengan tulisan sederhana "SUDAH HABIS" terpampang di pintu depan tempat makan itu.



Rock d World!

rio_nisafa

Tuesday, April 15, 2008

Undangan Pernikahan

klik gambar untuk memperbesar

klik gambar untuk memperbesar

klik gambar untuk memperbesar

klik gambar untuk memperbesar

Monday, March 17, 2008

[tentang] IDE


D (29 tahun), seorang teman pernah bercerita tentang keinginannya untuk membuat film tentang orang buta. Narasi film itu bertutur tentang seorang yang buta yang mampu melihat kembali setelah menjalani operasi medis. Konflik cerita mulai dibangun ketika dunia yang dilihat ternyata tak seindah dan sesempurna yang pernah ia bayangkan. Kehidupan (penglihatan) sesungguhnya hanya membuat ia sadar bahwa dunia tak sesederhana yang ia gambarkan. Bahkan kadang menampilkan sosok yang kejam dan tak manusiawi

Namun di akhir obrolan kami, ia pun berujar pelan. "Sayang ada orang yang pernah punya ide seperti itu. Bahkan sudah ada filmnya segala ". Gedubrak!! ternyata apa yang pernah ia gagas tentang orang buta ternyata sudah dipikirkan orang lain juga. Penerapannya juga sama persis, yakni di film. Padahal ada banyak media untuk menampilkan sebuah cerita, entah novel, theater, drama radio atau bahkan pantomin sekalipun

Saya memang salut dengan teman ini, D mempunyai sisi pemikiran yang agak aneh, ia mampu melihat dari sisi yang tak terduga sama sekali. Alhasil ia pun punya banyak ide-ide yang sangat brilian, setidaknya menurut saya.

Masalah berikutnya ternyata banyak orang kreatif di dunia ini dan melahirkan ribuan atau bahkan jutaan ide. Sebuah ide yang pernah dilontarkan seseorang bisa jadi sama dengan ide yang miliki oleh orang lain yang terpisah jarak dan waktu. Kesamaan ide inilah yang membuat pertanyaan besar, seberapa orisinal sebuah ide itu lahir ? Apa saja yang membuat sebuah ide disebut brilian? Siapa yang patut disebut sebagai orang kreatif, orang yang mempunyai ide terlebih dahulu atau orang yang mampu menuangkan ide dalam karya nyata?

Berbicara soal ide-ide tersebut, saya pun tak mau kalah dengan D. Apalagi kita pernah kuliah bareng dan kerja bareng. Bahkan hampir dalam 3 bulan kita tidur dalam satu kamar kost!. Ada sejumlah ide yang pernah dipetik dalam otak saya. Soal brilian atau tidak saya tidak bisa menilai, subyektif sich. Tapi sialnya (?), ternyata ide tersebut sudah diwujudkan oleh orang lain... dan sayapun hanya bisa mengerutu sambil terus berpikir ulang " saya harus memunculkan ide apa lagi, yang benar-benar tidak dipikirkan oleh orang lain..... terlebih saya mampu mengaplikasinya "

Seorang teman kost, A (27 tahun) pernah membakar semacam dupa untuk aromaterapi. Saya tak tau persis aroma apa yang tercium saat itu. Namun saya masih ingat ia membakarnya di ruang depan, ruang dimana saya dan teman menonton TV. Pada saat yang sama T (31 tahun) tak pernah lupa mengunakan obat nyamuk elektrik. kebiasaan tersebut tak pernah lewat setiap malamnya. Dari kedua kebiasaan teman tersebut, munculnya ide dalam benak saya. Sebuah teknologi yang mampu mengabungkan keduanya. " Bagaimana menciptakan alat atau bahan yang mampu mengusir nyamuk, tetapi juga mampu membuat relaks dengan aromaterapi ".

Otak saya berputar mencari alternatif alat tersebut. Sampai pada sebuah titik lahirlah ide obat nyamuk bakar dengan aroma bunga lavender. Obat nyamuk bakar sudah familiar digunakan oleh masyakat untuk mengusir nyamuk. BUnga lavender juga teruji mengusir nyamuk. Bau yang dihasilkanpun saya anggap sudah mampu menjadi aromaterapi.

Damn! Sialnya beberapa bulan kemudian Baygon mengeluarkan varian baru obat nyamuk bakar dengan aroma Lavender. Saya mengetahui pertama kali dari tayangan iklan di televisi yang agak gencar saat itu. Walhasil ide obat nyamuk bakar plus aroma terapi pun ternyata juga dipikirkan oleh orang lain juga :((

Beberapa tahun sebelumnya, saya juga sempat terbersit sebuah ide sederhana. Ide tersebut lahir saat berteduh karena hujan di pinggir jalan Monjali, Jogja. Perkaranya sepele juga karena saya tak membawa jas hujan atau mantol. Nah melihat orang naik motor dengan mantol yang berwarna polos, ide ini muncul. Saya memikirkan sebuah jas hujan yang mempunyai warna menarik dengan tampilan grafis yang mendukung. Untuk itu jas hujan tersebut perlu mendapat sponsor dari perusahaan / produk tertentu. Singkatnya menjadikan jas hujan sebagai sebuah media promosi bagi produk atau merk tertentu. Lebih fokus lagi jika produk tersebut berkaitan dengan kesehatan. Lha klo kehujanan kan kita jadi rentan penyakit.

1 jam kemudian masih dalam kondisi berteduh, saya melihat dengan mata kepala sendiri seorang mengunakan jas hujan dengan sablon sebuah toko bangunan. (klo tak salah ingat sich) jas hujan tersebut memang masih berwarna polos / satu warna, namun di bagian punggung tertulis besar-besar sebuah toko bangunan.... Damn !! (sekali lagi) ide saya ternyata sudah diterapkan orang lain, meski penerapannya juga masih sederhana sekali.

Cerita yang ketiga, beberapa bulan lalu. Bertempat di sebuah Rumah makan Padang, saya menikmati menu minuman baru, namanya "Es Joshua". Usut punya usut, ternyata minuman ini merupakan mix dari Es batu, extra joss dan Susu. Minuman ini patut mendapat acungan jempol. eXtra joss mendongkrak energi instan, susunya mengandung gizi sekaligus mengurangi rasa asem dan asin yang ada di extra joss, sedang es batu sangat menyegarkan. Nah kalo disingkat jadi Es Joshua itu.

Namun satu bulan belakangan ini, kerap kita lihat di TV, iklan M-Susu. sebuah minuman suplemen energi yang dilaunch M150. varian ini menambahkan unsur susu (atau cuman rasanya saja?) dalam formulasinya.... nah kok idenya sama lagi dengan Es Joshua.

Ya... sudahlah.... nanti saya mikir ide yang lain lagi.

foto : http://www.cocobali.com/

Rock d World!
rio_nisafa

Sunday, November 25, 2007

[tentang] Banyak Jalan


Yang namanya jalan memang sebuah tempat lalu lalang, sebuah infrastuktur untuk transportasi. Jalan pun lantas menjadi penanda sebuah alamat dan kemudian diberi nama, bisa jadi nama pahlawan, tokoh adat atau leluhur, gunung, wayang, buah-buahan hingga deret angka Romawi. Jalan juga bisa bercerita banyak, meski itu hanya jalan kampung atau gang yang menuju rumah saya.


Rumah saya yang pertama, terletak di Kampung Ketandan, sekitar 500 m dari jalan Malioboro Jogja. Dari dulunya, kampung ini memang padat, bahkan tanah kosongpun tak ada, semua sudah di semen. Jalan kampungnya pun model huruf "T". Kedua ujungnya gang beradu dengan jalan raya aspal dan sisi lainya berujung pada jalan buntu. Nah rumah saya berada pada akses jalan buntu tersebut. Alhasil rumah saya terkesan " ngumpet".


Jalan buntu itu pun terletak di tengah2 antara kedua ujung gang. Resiko jadi sama-sama jauh, baik mo ambil jalan ke utara atau ke selatan. Tapi yang lebih merepotkan lagi adalah "keharusan" menuntun sepeda motor. sama-sama menuntun jauh untuk menuju jalan raya. Maklum tahun 80an, sepeda motor belum banyak, dan abah saya harus "tepo sliro" dengan menuntunnya.


Pada SMP, saya pindah rumah ke kampung Purwodiningratan. Kampung ini jauh lebih besar dari kampung sebelumnya. Letak rumah saya berada di ujung utara. Jika saya menyebut nama kampung "purwodiningratan" orang akan merujuk pada kompleks perguruan Muhammadiyah yang berada di Jalan KHA Dahlan, yang berada sangat jauh dengan rumah saya. Akses terdekat ke rumah justru mengambil jalan KS Tubun atau yang lebih dikenal dengan kawasan Patuk yang terkenal dengan cemilan Bakpia.


Kampung ini juga sangat padat, rumahnya juga berdempetan. Untuk menyiasati kondisi tersebut, rumah saya dan rumah tetangga membuat "gang" sendiri. Keduanya pun membagi tanah secara adil. Gang ini sebenar bukan akses jalan, tetapi untuk membuat sirkulasi yang baik. Ada jendela menghadap gang tersebut, sekaligus tempat sepeda motor atau sepeda. Untuk menghindari agar gang tersebut dijadikan akses jalan dan menjaga rasa aman, salah satu ujungnya sengaja ditutup semi permanen dengan papan kayu.


Rumah saya saat ini, di kampung Demakan, lebih unik lagi. Rumahnya dibangun sesuai luas tanah yang dimiliki. Perkiraan awal, tak perlu halaman depan, karena masih ada tanah kosong, berupa kebun pohon pisang, di depan rumah. Namun dengan seiring waktu, tanah kosong itupun dibangun rumah, akhirnya rumah saya dengan rumah didepannya sangat mepet, hanya sebatas jalan selebar 1 meter saja. Cukup merepotkan untuk sepeda motor (atau gerobak sampah, tukang bakso) yang saling berpapasan.


Terlepas dari cerita itu semua, jalan juga menyiratkan sebuah makna mendalam. Jika dunia mengenal peribahasa "banyak jalan menuju roma"; maka saya pun tak mau kalah, " banyak jalan menuju rumah saya".... bukan berti saya punya banyak rumah, tapi sering pindah-pindah rumah. hehehehe

ps. foto : rumahku di demakan, sumber : google.

Rock d World!
rio_nisafa

Saturday, September 22, 2007

[tentang] Percaya saja!!

" duit lu ditaruh dimana ? "
" nggg ....... "
" enggak ditaruh di dalam alquran ???"

Percakapan itu terjadi antara saya dan Ricki, seorang rekan kerja saya, beberapa waktu silam. Ia menanyakan dimana saya menaruh uang saat saya tinggal di rumah bedeng bersama beberapa teman. Kira-kita tiga tahun yang lalu, saya pernah ngontrak sebuah rumah di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Rupanya ia ingin tahu atau malah penasaran dimana saya menaruh uang pribadi saya. Mungkin ia berpikir tinggal dalam satu rumah dengan beberapa orang akan memiliki resiko lebih besar terhadap kehilangan suatu benda, apalagi uang. Ia juga berpikir bahwa dengan menaruh uang di antara halaman kitab suci akan memperkecil resiko tersebut. Seakan-akan "si pencuri uang" akan berpikir beberapa kali ketika mengambil uang yang bukan miliknya.

Namun semua itu hanya ketakutan atau tepat kewaspadaannya semata. Saya sendiri merasa aman-aman saja dengan semua barang-barang milik saya. Tinggal bersama 4 orang teman tidak memberikan saya ketakutan akan kehilangan sesuatu. Begitu juga dengan keempat teman saya.

Padahal saya termasuk orang yang sembarang menaruh dompet saya. Dompet biasa saya letakkan atas lemari plastik, di dalam locker (plastik juga), atau bahkan tetap di saku belakang tatkala celana saya gantungkan. Tidak ada lemari yang terkunci di dalam rumah itu. Begitu juga dengan handphone. Lebih dari itu, saya pernah ninggal sepeda motor selama seminggu ketika mudik lebaran.

.... Maka saya binggung juga ketika mo jawab atau komentar terhadap pertanyaan Ricki di atas. Ketika saya percaya pada teman serumah dan sebaliknya, maka tidak ada yang perlu ditakutkan atau dikhawatirkan. Saya malah gak menyangka klo ia punya alternatif tempat menyimpan uang, Bagi saya, kitab suci bukan sekedar menakut-nakutkan (secara fisik lagi) seseorang untuk berbuat sesuatu.

Itu lah kepercayaan.... yang nampaknya makin sulit di kehidupan kita saat ini... Bukan saja, melanda Ricki yang kebetulan teman saya. Ia merupakan salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki masalah besar dalam kepercayaan.

Saya tak perlu bertutur banyak tentang "tingkat kepercayaan" di republik ini. Sebagai perbandingan, saya hanya pernah mendengar beberapa cerita dari negara manca, yang mungkin bisa menjadi teladan bagi kita semua.

Seseorang pernah bercerita, tatkala naik haji, ia pergi ke pasar tradisonal untuk sekadar memberi cinderamata. Meskipun levelnya hanya kaki lima, ternyata ada beberapa pedagang perhiasaan emas di pasar tersebut. Jelas ini bukan barang yang murah. Ketika adzan berkumandang memanggil orang beriman untuk sholat di masjid, beberapa pedagang emas langsung menutup dagangannya dengan koran atau kain dan meletakkan batu sebagai pemberatnya. Pedagang tersebut langsung meluruskan niat ibadah dan seakan-akan mengabaikan barang daganganya.

Sang pedagang sangat mempercayai pedagang lain bahwa barangnya akan aman-aman saja. Begitu juga dengan pengunjung pasar atau calon pembelinya. Sebuah koran yang menutup sudah menjadi tanda bahwa sang pedagang tidak ada di tempat, dan jika mau menunggu tidak akan memakan waktu yang lama.

Cerita lain, masih di tanah suci. Saya membacanya di surat kabar belum lama ini. Si pencerita bertutur bahwa ia sedang menjalankan umroh. Ketika itu ia sedang menunggu waktu sholat fardhu di sebuah masjid yang jumlah jamaah sangat banyak. Shaf (barisan sholat) pun meluber hingga luar halaman masjid. Si pencerita memilih shaf di sebuah emper toko bersama beberapa orang.

Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang ingin mengambil uang di ATM di toko tersebut. Namun langkahnya terhalang oleh shaf tersebut. Tanpa sungkan-sungkan, ia meminta orang yang ada di dekat ATM untuk menarikkan uangnya. Ia pun menjulurkan kartu ATM dan mengatakan password-nya. Sang wanita tadi percaya pada orang asing (bukan hanya belum dikenal, tetapi juga berbeda bangsanya) bahwa orang tersebut akan mengambil uang sesuai yang ia minta.

Cerita ketiga, berkisah di negara Jepang (atau Korea Selatan ?). Ketika masa panen tiba, para petani di sana, hanya meletakkan hasil bumi di pinggir jalan tanpa di tunggu. Jika ada orang lewat dan ingin membeli, ia cukup melihat daftar harga yang dipampang dan memasukkan uang sejumlah hasil bumi yang ia beli. Sebuah kotak kecil tempat meletakkan uang pun tergeletak di tempat yang sama. Klopun ada uang kembalian, cukup mengambil di kotak tersebut.

Lalu bagaimana dengan contoh dan kisah kepercayaan di negara ini ? Sejauhmana hal tersebut menjadi teladan ? Saya hanya menunggu reply email (atau comment), jika Anda menemukannya di negara ini...

Rock d World!
rio_nisafa

[tentang 15/september3]

Friday, August 24, 2007

[tentang] Kririk Dari Murid Bodoh

Lupakan saja tentang tentang kebodohan saya di masa lalu. Toh semua sudah lewat. Sekarang saya sudah tidak mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Jika saya bodoh ada dua asumsi mendasar, saya yang bener-bener bodoh atau dunia pendidikan di republik ini yang tidak bisa menciptakan manusia-manusia pinter...??

tapi menurut saya sich, kecendrungan ada di opsi ke dua. :p

heheheh, maafkan saja, jika saya mengkritik pendidikan di negara ini. Hal ini sekaligus sebuah apologi bagi saya, bahwa saya gak bodoh-bodoh amat. Lha wong saya bisa mengkritik pendidikan di negara ini. Terserah mo diterima atau gak, saya juga gak mau peduli. Toh, tulisan ini saya maksudkan juga untuk menyangkal pendapat yang udah kebentuk bahwa "saya memang murid yang bodoh" di tulisan [tentang] saya sebelumnya.

Saya punya 3 kritik dasar terhadap dunia pendidikan. Tiga kritik ini saya ajukan sesuaikan dengan runtutan saya belajar di bangku sekolah. Sedang cacatan di bangku kuliah, akan saya tulis belakangan, karena pendidikan di kampus tidak hanya menyangkut sistem pendidikan tapi juga perkara individu (hehehe, baca : masalah pribadi saya)

(1) Perbedaan Standar Pendidikan
Meski saya terbilang bodoh di SD, sesungguhnya saya tidak bodoh amat untuk ukuran murid SD di kota Jogja. Bener! NEM (nilai ebtanas murni) mencapai angka 40 lebih, atau rata-rata 8. Dari nilai itu, saya bisa masuk SMP favorit di Yogyakarta, seperti SMP 8, atau SMP 1. Hanya SMP 5, yang tidak bisa saya masuki.

Dengan NEM itu saja sudah membuktikan bahwa bodoh di SD MUhammadiyah Ngupasan, ternyata mampu meraih NEM tinggi. Jadi bodoh atau pintar itu ternyata soal standar. SD saya memang punya standar sangat tinggi, maklum SD saya termasuk SD Favorit dan punya segudang prestasi.

Wajar klo kualitas pendidikan di SD saya mendapat nilai dua jempol. SD saya sudah mengenal les tambahan di sore hari, setiap murid mempunyai LKS sendiri-sendiri, sarana perpust yang lengkap. Belum lagi kegaiatan ekstra kuliner, eh, ektrakulikulernya. Saya Lalu membandingkan dengan SD lain... wah, jauh sekali standarnya.

Jika Anda sudah menonton film "Denias", (sebuah film tentang anak di Papua), Anda dapat bandingkan bagaimana standar pendidikan di Indonesia sangat timpang sekali.

(2) Sekolah = Pembodohan Massal
Saya masuk SMP yang tidak favorit karena gagal diterima di SMP Favorit. Hal ini ternyata membuat mental saya down. Jika saya mendaftar di SMP 8 (SMP favorit kedua setelah SMP 5), saya pasti sudah diterima. NEM saya masuk. Di awali mental down itulah, saya sempat merasa tidak semangat sekolah (wakakakaka, jawaban ra mutu, untuk seorang anak SMP).

Apalagi memang sekolah ini ra mutu blas (maafkan saya, untuk itu tidak saya sebut nama SMP saya). Saya membandingkan dengan SD saya saja. Mental down ini ternyata membuat prestasi saya di kelas satu jatuh hingga 30 besar.

Yang paling parah di SMP ini adalah pembagian kelas berdasarkan rangking kelas di kelas sebelumnya. Oya, di kelas 1, saya masuk di kelas 1A, karena memang NEM saya tinggi. Pembagian kelas ala ini membuat saya masuk kelas 2C, karena rangking saya di kelas 1 adalah 30 besar.

Pembagian kelas ini merupakan upaya pembodohan massal. Seorang murid bodoh (baca: mempunyai rangkin besar) dimasukkan dengan murid yang bodoh pula. Lalu bagaiman murid itu bisa menjadi lebih pandai dengan pembagian kelas ini. Yang ada murid yang bodoh akan semakin bodoh karena berteman dengan teman yang bodoh pula. Belum lagi para guru sudah memandang rendah dan ogah-ogahan mengajar di kelas C atau D.

(3)Steorotipe Pendidikan
Jujur saja, saya memang tak suka dengan ilmu eksak (macam ilmu fisika, kimia). Tapi ini soal pilihan atau potensi setiap individu. Orang punya kecendrungan sendiri-sendiri. Bagi saya ilmu eksak atau sosial itu dalam posisi yang setara, gak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Namun di negara ini, ilmu eksak seolah dianggap lebih tinggi. Saya juga gak setuju dengan menyebut ilmu sosial sebagi ilmu non eksak. Ini merupakan bentuk arogansi dari ilmu eksak. Akibatnya ilmu sosial dianggap ilmu kelas kedua setelah ilmu eksak. Hal ini yang membuat kelas A3 (ilmu sosial) di SMA dianggap sebagai kelas buangan karena murid-muridnya tidak mempunyai nilai yang bagus pada pelajaran ilmu eksak.

Steorotipe ini, yang menempatkan ilmu eksak lebih tinggi, menjadikan saya dan teman2 di kelas A3 mempunyai beban yang gak sehat. Seolah murid kelas A3 adalah murid buangan karena tidak masuk kelas A1 atau A2. Seorang teman sekelas saya sempat merenung di kapal (ketika libur kenaikan kelas dan ia pulang kampung ke kalimantan) tentang masuknya ia di kelas A3.

Hal ini makin terlihat tidak fair dengan murid A1 atau A2 bisa masuk fakultas sosial di perguruan tinggi, sedang urid A3 tidak bisa melakukan hal yang sama. Pendidikan di negara ini justru membuat steorotipe yang "merendahkan" tentang ilmu sosial.

* * * *

ya sudahlah.... Lupakan tulisan ini, jika Anda masih percaya bahwa saya adalah murid yang bodoh... Klo tidak, ya ga papa juga. Saya juga ga tau mo melakukan apa dengan sistem pendidikan tanah air. Bingung aja dengan pendidikan yang seharusnya mencerdaskan manusia malah terkadang membodohkan dan membodohi..... wakakakakaka

[tentang 14/agustus3]

Rock d World!
rio_nisafa

Monday, August 20, 2007

[tentang] MURID YANG BODOH#2

Masa SMA pun saya jalani dengan beban kebodohan yang masih berat. Saat kelas 1, nilai IPA saya tidak bagus.Entah biologi, fisika, apalagi kimia. Sedang nilai matematika standar. Dengan nilai seperti ini, maka saya sukses memasuki kelas IPS atau yang di masa saya disebut kelas A3.

Dengan predikat murid A3, wajar saja klo saya terjebak pada steorotipe murid yang bodoh, nakal dan susah diatur. Saya yakin rangking teman-teman di kelas A3 pada saat kelas 1, pasti 30an besar.. hahaha, kayak seperti saya juga. Anggapan bahwa kelas A3 adalah kelas buangan, kayak sah-sah saja.

Hebatnya, teman-teman saya malah bangga dengan 'kebodohan mereka' dengan membuat sigkatan bahwa SOSIAL adalah akronim dari 'Sekolah Ogah SInau Apalagi Les' hahahaha. A3 juga dipanjangkan menjad Anak Amoral Asusila... Soal kebadungan atau kenakalan kelas A3, gak usah diceritakan lagi, simetris, berbanding lurus dengan kebodohannya.

Meski merasa murid bodoh di 3 bangku sekolah, saya bisa memasuki kampus Universitas Gadjah Mada.Jurusannya pun terbilang favorit, komunikasi. Singkatnya keren banget, banyak yang daftar untuk masuk jurusan dan universitas tersebut (boleh bangga dikit nich)

Tapi sekali lagi, prestasi di bangku kuliah ternyata sebangun dan sepadan dengan masa-masa sekolah dulu. Jika standar kuliah S1 adalah 5 tahun, maka wajarlah klo saya juga masih patut menjadi mahasiswa yang bodoh. Saya menyelesaikan bangku kuliah selama 6 tahun. Ya, enam tahun. Predikat cumlaude pun melayang jauh-jauh, karena predikat ini hanya didapat bagi mereka yang lulus maksimal 5 tahun dan IPK minimal 3,5.

Soal kebodohan di masa kuliah, saya tak tau persis, karena mahasiswa tidak dikotak-kotak melalui kelas, rangking apalagi nilai raport yang bisa diketahui oleh teman lainnya. Mungkin kebodohan saya bisa dilihat dari pernahnya saya mengambil cuti kuliah selama semester. Bodohnya karena saya mengambil cuti hanya karena merasa jenuh kuliah aja. Sebuah alasan yang terdengar bodoh dan tak masuk akal. tapi ya udah lah...


Cerita ini bukan karena saya merasa bangga menjadi bodoh, apalagi ingin mempunyai predikat (maha)siswa yang bodoh ; tapi sekedar berbagi pengalaman saja. bahwa sayapun pernah menjadi orang yang bodoh. wakakakaka

[tentang 13/agustus2]

Rock d World!
rio_nisafa

[tentang] Murid yang Bodoh#1

Jika ada predikat murid yang bodoh, saya yakin bahwa saya termasuk dalam nominasi ini. Bahkan saya juga yakin, saya akan diunggulkan. Sekali lagi cuman diunggulkan, bukan yang meraih prestasi terbodoh.

Jadi asumsi awal yang hendak saya sampaikan adalah Jangan terkecoh dengan penampilan kacamata yang saya pakai. Kacamata ini hanyalah kacamata yang saya gunakan karena terlalu nonton TV terlalu dekat. Sumpah, ruang di rumah saya dulu yang terlalu sempit, menjadikan jarak mata saya dan layar tivi tidak sesuai kaedah yang baik dan benar.

Tapi tak apalah, saya mulai dari duduk di bangku SD, jaman saya masih pake baju merah putih. Kebetulan saya sekolah di SD yang favorit. Terletak di tengah-tengah kota serta memiliki regu Drum Band yang menyabet juara umum tingkat DIY-Jawa Tengah. Fasilitasnya pun lengkap. ada Mushola luas, UKS yang bersih, perpustakaan yg lengkap (setidaknya dibandingkan SMP saya), hingga alat pemadam kebakaran. SD saya pernah maju dalam lomba sekolah teladan, meski saya tak tau meraih juara berapa.

Soal muridnya, saya yakin teman-teman saya pinter-pinter semua. Muridnya sering maju di lomba cerdas cermat di TVRI Lokal. Hasil NEMnya pun terbilang tinggi untuk Ranting Yogya Barat. Mungkin karena saat itu sudah ada jam pelajaran tambahan alias les sore hari menjelang EBTANAS (sekarang Ujian Ahkir Nasional)

Mungkin karena muridnya pinter-pinter itulah saya jadi terlihat bodoh. Hal ini saya sadari saat kelas 6. Saat itu ada seorang guru yang menerapkan tugas kelompok dalam pelajaran kelas. Awalnya Guru memilih 5-6 murid terpandai untuk maju ke kelas. Kemudian satu persatu mereka menunjuk teman untuk dijadikan teman sekelompok. Walhasil murid yang pandai akan terpilih di awal-awal pilihan, diikuti oleh murid yang prestasinya sedang. Nah yang tidak pinter, harus mengalah belakangan.

Dan ternyata, saya menempati posisi tersebut... posisi ahkir yang dipilih sebagai teman sekelompok belajar... wadefak... rupanya saya dianggap bodoh oleh teman saya sendiri.

Tapi beberapa minggu kemudian, sang guru merubah pola main di atas. Sekarang yang maju ke depan, bukannya murid2 yang paling pandai di kelas, tetapi justru murid yang terbodoh yang maju ke depan dan "seolah" menjadi ketua kelompok belajar. Sekali lagi, ternyata saya masuk kelompok 6 besar terbodoh di kelas. saya maju ke depan dan memilih teman untuk masuk kelompok saya."anjrittt"

Memasuki masa remaja di bangku SMP, kebodohan saya tak kunjung hilang, malah nambah... Apalagi statusnya SMP tidak favorit. Mereka yang masuk SMP ini hanya karena nem rendah atau terbuang dari SMP favorit. SMP yang tak bisa dibanggakan sama sekali. Bahkan saya tak tau, apakah smp saya punya lemari kaca untuk memajang beragam piala. Pokoke payah banget dan ra mutu.

Dengan teman-teman SD yang begitu pintar saja saya tetap tidak terkatrol menjadi pintar, apalagi dengan teman-teman SMP yang saya yakin tingkat kepinterannya setara dengan saya. Hal ini diperparah dengan fasilitas sekolah yang minim. Tapi ya udah lah, saya masuk SMP ini karena NEM saya yang pas-pasan juga.

Di Kelas satu, rangking kelas saya adalah 33 (atau 31) dari 44 siswa... huahuahau, besar banget tuh angka. dulu waktu SD rangking itu hanya untuk 3 besar, kini saya jadi tau betapa bodohnya saya. angka itu sudah membuktikan. Akibatnya dari rangking itu saya masuk di kelas 2C. Gambarannya Kelas 2A adalah kelas bagi murid murid yang masuk rangkin 11 besar, 2B untuk rangking 12-22, dan seterusnya. Wah, temen saya yang bodoh jadi banyak banget, sekelas lagi. Walau bukan kelas terbodoh alias kelas 2D.

(bersambung)


[tentang 13/agustus2]

Rock d World!
rio_nisafa

Friday, July 06, 2007

[tentang] Dasar Indonesia!


Entah kenapa, tiba-tiba saja nama Tukul Arwana mencuat di permukaan dunia entertainment. Padahal lawakannnya, menurut saya, gak lucu-lucu banget. Di bawah standar srimulat, malah. Wajahnya yang unik, nggak juga. Ringgo Star lebih terlihat funny. Gerakan tangan menjadi ciri khasnya? saya sudah bosan sejak ia menjadi figuran di video klip "diobok-obok" Joshua.

Klo pun ia telah menjadi host selama lebih 200 episode di "Empat Mata", sekali lagi menurut saya itu bukan prestrasi yang harus diacungi jempol. Ia tak secerdas Farhan dalam mengali detail informasi. Tak seceria duet Indi Barens dan Indra Bekti. Bahkan wawancaranya tak begitu menyentuh sisi emosional ala Dorce Gamalama. Soal lucu, sori saya bahkan harus berpikir keras, kenapa audience di studio bisa tertawa terbahak.

Sori, sekali lagi penilaian di atas memang perkara subyektif saya. Tapi saya sangat-sangat (ada dua kali kata sangat) menghargai kerja keras dari sang Reynaldi ini. Sikap pantang menyerah perlu menjadi sebuah teladan, juga sikapnya yang tidak sombong sampai sekarang.

Saya hanya menyesalkan dengan materi Tukul di acara tersebut. Ada kesan MEMBODOHKAN dan MEREMEHKAN. Coba simak kata "Wong Ndeso". Ucapan kata tersebut disertai dengan intonasi yang merendahkan lawan bicaranya. Seakan lawan bicaranya adalah orang tak beradab, tidak berwawasan, bodoh, atau bahkan pandir. Ndeso bukanlah Desa dalam artian geografis, berupa pemukiman penduduk yang sebagian besar merupakan petani. Ndeso adalah sebuah ejekan, sebuah kata-kata sarkastis.

Kata-kata "Wong ndeso" sinonim dengan kata "Udik, lu" yang kerap dilafalkan orang jakarta kepada orang-orang dari daerah. Atau kata-kata "Dasar Kampungan!" yang juga kerap muncul dalam pergaulan kita sehari-hari. Nada ucapannya pun sama dan sebangun.

Liatlah... dengan boomingnya Empat Mata, kata-kata "wong ndeso" menjadi kosa kata sehari-hari di negara ini! sebuah kata yang ternyata merupakan suatu ejekan. Atau bahkan makian!.

Booming "wong Ndeso" seakan memperlihatkan bagaimana bangsa ini ternyata bangsa yang suka mengejek bangsanya sendiri, gemar memperolok-olok diri sendiri atau bahkan memiliki wajah yng sangat arogan! Orang-orang di republik ini seakan menjadi orang yang lebih dengan merendah-rendahkan orang lain. Seakan mereka memiliki harga diri dan martabat yang tinggi hanya dengan mengatakan orang lain "ndeso, udik dan kampungan".

Lalu seperti apakah kita ?

orang yang suka memandang rendah orang lain?

Saya hanya takut, esok hari, ada ejekan "Wong Indonesia"; "Indonesian, lu", atau "Dasar Indonesia!". Sebuah ejekan yng diberikan oleh negara-negara maju pada republik ini. Sebuah ejekan yang mengambarkan kepada pandirnya kita, pandir dalam mengurus dirinya sendiri!


[tentang 12/juli2]

foto : http://www.friendster.com/33780112

Rock d World!
rio_nisafa

Monday, July 02, 2007

[tentang] Di SD, Kita (tak) Jaya.



Pada jaman dahulu, hiduplah seorang anak kecil yang bernama Rio. Ia tinggal di desa pinggir hutan bersama neneknya saja..... hahahaha, just kidding. Dahulu, waktu masih duduk bangku SD, saya merasakan bahwa ada ada yang tidak benar dalam sistem pendidikan. Hebatkan, waktu SD saja, saya sudah berpikir tentang pendidikan di negara ini. Tapi mungkin inilah sedikit pengalaman saya beberapa tahun silam.

Sebagai bahan evaluasi belajar, para murid menjalani apa yang disebut sebagai ulangan. Sejumlah soal yang kemudian dinilai oleh para guru untuk mengukur kemampuan masing-masing murid. Begitu juga dengan saya dulu. Saat kelas 6 SD, sistem ulangan yang diberikan pada murid menggalami perubahan. Ada seorang guru yang memberikan ulangan harian tidak dengan mendiktekan soal atau mencatatkannya di papan tulis. Tetapi guru tersebut memberikan bahan ulangan melalui Buku LKS (Lembar Kerja Siswa ?). Walhasil, guru tersebut hanya membagikan LKS kepada setiap murid. Buku LKS itu sendiri wajib dimiliki oleh para siswa.

Masalah muncul ketika para guru akhirnya menjadi malas untuk membuat soal buat anak didiknya. Kreatifitas guru sebagai jembatan ilmu dan pengetahuan pun dipertanyakan. Kalaupun ulangan sebagai bahan evaluasi, apakah LKS dapat menjadi standar proses belajar di kelas. Bukankah sang guru yang seharusnya lebih tahu, sejauhmana ia menyampaikan pelajaran kepada muridnya, lalu membuat evaluasi atas apa yang diajarkan.

Ada yang menduga (dan ini sangat wajar) bahwa persoalan buku LKS, tak jauh dari persoalan rupiah. Guru bisa "berkolusi" dengan penerbit buku LKS, ada sejumlah keuntungan rupiah jika guru bisa menjual buku LKS ke murid. Para salesman buku LKS (atau buku pelajaran) bukan hanya satu dua datang ke sekolah dan menawarkan barang dagangannya.

Saya tak ingat, berapa harga buku LKS saat itu. Seingat saya, buku itu terbit setiap caturwulan, sesuai periode pembelajaran saat itu. Bukunya sendiri ulurannya A5, dengan kertas buram, dan cover warna orange. Karena buku ini wajib dimiliki para siswa, maka wajar kalau saya (dan teman2 sekelas lainnya) melihat ada kolusi di dalamnya.

Bahkan beberapa tahun kemudian, saya membaca di surat kabar bahwa salesman dari penerbitpun telah memandang bahwa sekolah tak ubahnya sebuah pasar, tempat dimana keuntungan rupiah bisa diraih. Bahkan ada kasus pula yang membuat sejumlah pejabat terseret di kasus hukum karena persoalan pengadaan buku pelajaran di sebuah kabupaten tertentu. Apalagi saat ini, buku pelajaran sudah dicetak secara bagus, cover fullcolour, kertas glossy, halaman dalam berwarna dan tentunya harga yang lebih mahal. damn!!!

Kembali ke masa SD, beberapa teman pun melihat sisi lain dari pengadaan buku LKS. Mereka pun tak kalah cerdiknya... mereka bisa mendapat nilai sempurna setiap ulangan harian. Caranya sederhana saja, mereka bisa membeli (lagi) buku LKS di toko buku dan memperoleh lembar kunci di halaman tengah. Maklum buku LKS hanya dijilid dengan kawat steples. Lembar kunci inilah yang kemudian menjadi bahan contekan. Sedangkan buku LKS yang dibeli di Bapak/Ibu Guru, lembar kunci sudah dicabut. Namun saya tak tahu pasti, apakah ada teman kelas yang melakukan hal ini; atau hanya sekadar wacana saja.

Jika guru hanya mengejar rupiah, murid mencari nilai, (dan orang tua hanya berpatok pada rangking kelas), lalu dimana siapa yang harus bertanggung jawab pada pendidikan ? Atau ini menjadi salah siapa ?

foto :wikipedia
[tentang 11/juli1]

Rock d World!
rio_nisafa

Monday, June 18, 2007

[tentang] SERIBU WARNA, SERIBU SATU KEBINGUNGAN


" mas, ini warna apa ? hijau atau biru ? "
" hmmmm itu cyan! "
" opo maneh kuwi ? "

Dialog singkat itu terjadi beberapa waklu lalu di kantor saya. Seorang rekan bertanya tentang warna yang ia pakai untuk memblok sebuah cell di aplikasi excel. Alih-alih mendapat jawaban atas warna yang ia tanya, sebuah pertanyaan malah kembali ia ajukan. tampaknya ia belum pernah pernah mendengar kata "cyan".

Persoalan warna memang terlihat sekilas gampang, tapi bagi saya warna telah menjadi perkara yang rumit, komplek tapi penuh tantangan. Menjawab pertanyaan seorang rekan di atas memang gampang. Namun sulit jika kemudian persoalan warna bukan menjelaskan sebuah nama warna. Banyak hal perkara yang kemudian menjadikan warna itu berkembang menjadi persoalan teknis, identitas bisnis, hingga enti tas ideologis.

Menapaki karir di dunia media massa, saya sempat tergagap dengan persoalan warna yang akan di keluar di tabloid. Meski memangku jabatan sebagai wartawan, saya tertarik dengan persoalan warna. Ternyata dari tiga komputer yang ada di bagian design (untuk lay out tabloid) tidak mampu menanpilkan warna yang sama. Sebuah warna kuning di komputer A, akan terlihat di seperti orange di komputer B, dan tampak pucat di komputer C.

Persoalan ini sebenarnya sederhana jika, ketiga komputer telah dikalibrasi, sebuah proses untuk menyamakan warna di komputer dengan warna cetakan. Namun langkah ini tidak dilakukan oleh kantor saya. Bagi boss saya, hal ini bukanlah perkara besar, yang penting baginya adalah meraih omzet iklan sebesar-besarnya. Walhasil ketika tabloid tersebut sudah cetak, kami hanya mencocokkan warna yang tercetak di kertas buram sekian gram dengan warna di monitor komputer. Dari ketiga monitor, kita pilih yang paling mendekati.

Masih di tempat kerja yang sama, saya pernah menjumpai "Colour Book". Buku ini sebenarnya cuman menampilkan ribuan warna dengan detail CMYK. CMYK sendiri merupakan standar warna yang digunakan untuk percetakan. Dalam standar CMYK, sebuah warna merupakan kombinasi atas 4 warna Cyan, Magenta, Yellow dan Black.

Dua tahun kerja di Jakarta, di sebuah prinscipal otomotif nasional, persoalan warna kemudian berkembang lebih rumit. Ketika ada pergantian logo di tempat kerja, saya termasuk orang yang rada puyeng. Ketika dipilih warna merah sebagai warna logo, timbul pertanyaan panjang. "Ini merah apa?". Klo warna merah di komputer, dengan mudah terjawab M=100, Y=100, tapi permasahannya ketika warna tersebut diterapkan di media lain, seperti logam. Standar warna merah ternyata berbeda. Walhasil kita harus mengecek belasan plat logam dengan variasi warna merah.

Selain itu ada standar warna PANTONE, klo tak salah warna ini digunakan untuk stiker. standar warna ini juga sempat membingungkan juga. variasi warna merah lebih banyak dari yang ditawarkan di plat logam di atas. Ada juga standar warna RGB yang digunakan untuk tampilan untuk website. Belum lagi untuk warna cat, beda merk, beda standar. ufff....

Warna bukan saja perkara ini hitam, atau itu putih, tetapi telah menjadi identitas bagi perusahaan tempat saya bekerja. sebuah warna mempunyai nilai psikologis tersendiri. Merah berarti semangat, kuning bermakna kejayaan, hijau memberi ketenangan, putih adalah suci dan sebagainya.

Sebenarnya ada persoalan warna yang tak kalah pelik, warna kemudian menjadi entitas dari sebuah ideologi. Sebuah partai politik bisa dilihat apakah ia partai merah, hijau, kuning, biru, putih, atau justru abu-abu. Klo resiko persoalan warna yang saya ceritakan di atas paling besar adalah dimarahin boss, diomelin klien, atau cetak ulang. Klo persoalan ideologi (dan partai politik, gerakan massa, organisasi sosial) perkaranya lebih rumit, dan makin susah untuk dijelaskan.

[tentang 10/juni2]

Rock d World!
rio_nisafa

Sunday, May 13, 2007

[tentang] Kisah Sapi'i dan sapi


Suasana rumah sederhana itu langsung meledak, Sang ibu tak henti-hentinya menangis meraung-raung. Sedang bapak hanya diam saja, diam dalam kebingungan seorang lelaki dalam memahami suatu hal. Sedangkan Syafie, sang remaja tanggung usia, juga diam saja. Sang bocah yang akrab dipanggil "sapi'i" ini hanya tertunduk linglung, tak tahu harus berbuat apa atau mengucap satu dua kata.

" pi'i, pi'i...., kowe ki piye tho le, le ?" isak sang ibu.
(pi'i, pi'i...., kamu itu gimana sich, nak?)

Sapi'i hanya diam saja. tak tahu harus ngomong apa.

" jawab tho, le... kowe ki ngopo wae wektu ditinggal bapak karo simbok?"
(jawablah nak... kamu melakukan apa saja ketika ditinggal bapak dan ibu?)

Isak sang ibu mulai kencang, memekakkan indera pendengaran setiap orang yang berada di rumah sederhana itu. Sang bapak tetap saja diam, seakan berpikir mengenai tingkah polah sang anak.

Tangis sang ibu mulai pecah, meratapi sang anak
" Kowe iki ngopo to, pi'i... ditinggal bapak karo simbok seminggu wae, sapine neng omah kok wis meteng?"
(kamu melakukan apa aja, pi'i... ditinggal bapak dan ibu seminggu aja, sapi di rumah kok sudah bunting)

Sapi'i keliatan bingung setengah mati mendengar ucapan sang ibu, namun ia tetap saja diam.
"pi'i.... kok kowe ngetengi sapi ki piye to le?"
(pi'i.... kenapa kamu membuntingi sapi, kenapa nak?)

"nek, kowe pengen rabi, ngomong wae karo simbok, ojo njur kowe ngetengi sapi "
(kalo kamu ingin nikah bilang aja sama ibu, jangan lantas kau membuntingi sapi)

Teriakan sang ibu makin kencang. Suaranya terdengar oleh para tetangga di sekitar rumah. Langsung saja mereka berdatangan ke rumah sapi'i. Sekadar ingin tahu dan memenangkan sang ibu.

Dalam waktu sekejab saja kabar Sapi'i yang membuntingi sapinya sendiri langsung tersebar di seluruh desa. Isyu tersebut membuat gempar seluruh penduduk desa dan menjadi buah bibir masyarakat dimana-mana sepanjang waktu. Di area persawahan, orang-orang sibuk membicarakan tentang kelakuan Sapi'i. Sedang di teras rumah warga, para ibu bergosip menggenai seperti apa wujud anak sapi yang akan dilahirkan. Kawan-kawan sebaya Sapi'i pun mulai menjauhinya dan mencemoohnya tak henti-henti.

Belum sempat isyu tersebut berkembang menjadi keresahan sosial (?), datanglah Paman Sapi'i. Ia bermakud ingin menjernihkan kabar angin tersebut kepada seluruh warga desa. Di tengah-tengah warga warga yang telah termakan isyu, ia menjelaskan bahwa sapi yang bunting itu bukan karena ulah Sapi'i. Buntingnya Sapi disebabkan karena adanya percobaan kawin suntik yang tengah ia lakukan. Lalu dengan gamblang ia menjelaskan bahwa kawin suntik merupakan program mengembangbiakan ternak sapi dengan menyuntikkan sperma beku ke tubuh sapi betina.

*****

Kisah sapi'i di atas bukanlah sebuah kisah nyata, Ini hanya sebuah kisah dalam acara "Kontak Tani". Sebuah acara yang ditayangkan oleh TVRI sebagai ajang informasi dan edukasi pertanian, perkebunan, dan perternakan. Acara tersebut tayang pada tahun 1990 tatkala saya masih SMP dan TVRI masih menjadi satunya hiburan di layar kaca. Seinggat saya, jadwal tayangnya minggu siang.

Tokoh Sapi'i atau Syafie adalah teman sekelas saya waktu SMP, nama aslinya Triono. Namun karena aktingnya yang keren di acara tersebut ia lebih akrab dipanggil "Sapi'i". Hal ini ditunjang dengan postur tubuhnya yang tinggi (sesuai memerankan usia remaja belasan) dan tentunya wajah yang lugu dan lucun....


Rock d World!
rio_nisafa
[tentang 09/mei2]
foto dari www.deptan.go.id

Saturday, March 31, 2007

Cita-cita, Mimpi, Obsesi

 
A. Cita-Cita (masa kecil)
1. Astronot
Siapa tak kenal Neil Amstrong atau Yuri Gagarin ? Saya sudah mengenal dua nama astronot (atau kosmonot) sejak jaman SD. Nama mereka ada dan selalu hadir di buku IPA. Bahkan nama mereka juga harum di catatan sejarah sebagai orang pertama yang mendarat di bulan dan orang pertama yang tinggal di luar angkasa.
Bagi saya yang masih kecil tersebut menjadi astronot adalah hal yang sangat keren, meninggalkan bumi menjelajah misteri ruang angaksa yang maha luas. Buku-buku mengenai astrnomipun saya lahap. Tentunya yang bergambar dan penuh warna warna. Langit yang gelap, bintang yang gemerlap, komet dengan ekor indahnya, serta susunan planet dalam tata surya telah menggugah keingintahuan saya dan memutuskan bercita-cita mengunakan pakaian seperti robot, berhelm kaca, dengan tabung oksigen, dan menapakkan kaki di planet baru.

2. Sekjen PBB
Apakah jabatan paling tinggi dan berkuasa di dunia ? Jika pertanyaan ini diajukan pada saya saat beberapa belas tahun silam, maka saya akan menjawab sekjen PBB. Menjabat sebagai sekjen PBB seolah menjadi presidennya presiden, menjadi atasan seluruh kepala negara dan pemerintahan di di seluruh negara di di atas dunia (hahahah... aku lah yang berkuasa).

Tapi inilah salah satu sikap naif kekanak-kanakan saya. Mungkin juga karena guru IPS di SD selalu meminta muridnya (termasuksaya tentunya) untuk menghapal sekjen PBB. Siapa tahu keluar di ujian ebtanas. Klo menghapal president RI jelas gampang sekali, kan saat itu cuman dua.

B. Mimpi (masa muda)
3. Wartawan
Melewati masa remaja tanpa banyak teman, menjadikan saya dekat dengan berbagai bacaan. Selain berlangganan koran di rumah, sayapun kerap mengunjungi perpustakaan daerah di daerah malioboro. Kedekatan dengan media inilah yang menjadikan saya pernah berkeinginan menjadi wartawan. Meliput berbagai peristiwa penting, mengetahu banyak hal dan mengunjungi tempat-tempat baru merupakan daya tarik bagi pofesi ini.

Saat masa SMP-SMA pun, saya telah mulai untuk aktif menulis. Beberapa tulisan termuat di Tabloid Kaca, tabloid dengan segmen pelajar lanjutan, yang diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat Groups. Mulai dari opini, cerpen, hingga berita foto. (bahkan karya kartun saya pun pernah dimuat). Keingginan untuk menjadi wartawan semakin menguat tatkala psikotest yang saya ikuti saat kelas 2 SMA, merekomndasikan saya untuk masuk jurusan komunikasi.

4. Creative Director
Sadar bahwa kekuasaan ideologis saat ini berada di tangga kapitalis, saya sempat berpindah jalur untuk menjadi seorang creative director, seorang pengarah kreatif yang hadir di balik suksesnya sebuah kampanye periklanan. Saat kuliah saya sadar bahwa, iklan (atau marketing communiation secara luas) sebuah produk telah menjadi panduan tersendiri bagi masyarakat luas. Bukan hanya untuk sarana informasi sebuah produk, tetapi juga tawaran image, selera gaya hidup bahkan sebuah pandangan hidup.

Menjadi creative director semakin kuat saat saya menceritakan apa itu creative director di kelas bahasa inggris. Di tempat kursus itu, sang tentor sangat tertarik dengan profesi tersebut dan bertanya beberapa hal (tentunya dalam bahasa inggris). Keinginan tersebut menjadi semakin
tatkala saya menjadi pemenang dari Creative Contest yang diadakan sebuah biro iklan nasional di Jakarta.


C. Obsesi (masa kini)
5. Rock Star
Tak ada yang lebih hebat ketika ribuan pasang mata tertuju pada saya, saat perhatian hanya berfokus pada setiap kata dan gerakan saya, juga saat spot lamp menyorot badan dan sejumlah kamera tanpa lelah terus memburu saya. Itulah obsesi saya untuk menjadi seorang Rock Star. Seorang yang berdiri tegak di atas panggung, bernyanyi lantang dan mampu menghiptotis penggemarnya. Bahkan saat komputer menyalakan MP3, seolah-olah saya menjadi seperti Eet(Edane) yang mempunyai teknik gitar paling jago dan mempunyai atraksi panggung yang sangat khas. Atau seperti Andy(/rif), Armand (GIGI) hingga Bagus (Netral) yang menurut saya adalah rockstar yang tampil all out ketika di stage.

Puluhan band telah saya saksikan dan mereka tampil dalam aksi panggung yang sangat-sangat saya nikmati. Bahkan aksi panggung di televisi pun jarang saya lewatkan. Sayapun sempat mengikuti program TV "Reinkarnasi" di Indosiar, sebuah reality show yang mencari seorang vokalis baru untuk band Evo, yang akan melahirkan seorang Rockstar baru, bukan "idol" apalagi "artis sesaat".


Rock d World!
rio_nisafa