Monday, May 31, 2010

MEDIA CETAK GRATISAN



1. Apakah Media Cetak itu Bisa Gratis?
Saat belajar komunikasi di Bulaksumur(1996-2002), media cetak gratisan masih dikategorikan sebagai "media misionaris". Sebuah media yang diterbitkan untuk menyampaikan misi atau agenda tertentu dari penerbitnya. Sebut saja media internal perusahaan yang hanya medium sosialisasi kebijakan sang stakeholder atau berita pencapaiaan kinerja dari perusahaan tersebut. Contoh lain majalah yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah yang berisi keputusan perundangan-undangan; hingga newsletter buatan LSM guna advokasi dan edukasi pembacanya. Media tersebut dibiayai oleh institusi yang menerbitkannya dengan content yang sarat kepentingan. Media cetak gratisan kemudian dibandingkan dengan media komersil yang diorientasikan pada pembaca dengan motif keuntungan bisnis dibelakangnya.

Namun saya berpikir, bahwa media cetak pun sebenarnya bisa gratisan... bukankah radio, tivi dan internet juga bisa diakses secara gratis. Klopun alasannya bahwa media cetak butuh biaya cetak dan distribusi, bukankah media elektronik dan web juga butuh biaya operasional ?. Mungkin sekali lagi mungkin, ini berkaitan dengan kebijakan orde baru yang sangat mengekang media. eh, jadi inget om harmoko (wekekekke)


2. Konon Kompas Bisa Gratis, sekali lagi konon.
Konon, Harian Kompas bisa diterbitkan secara gratis. Banyaknya iklan dan mahalnya iklan di media tersebut, jauh lebih besar dari biaya operasional yang dikeluarkan (plus keuntungan yang diperoleh) oleh grup Gramedia. Para pembaca tidak perlu berlangganan atau membeli eceran jika ingin membacanya. Tapi ini konon, karena saya lupa dari siapa asumsi ini keluar. Apakah dosen saya ataukah mantan bos saya saat di biro periklanan dulu ? Yang jelas bukan dari pihak Kompas atau Gramedia sendiri.

Setidaknya pendapat ini mendukung asumsi saya, bahwa media cetak juga bisa gratis, tanpa diembel-embeli kepentingan tertentu oleh penerbitnya. Atau bisa saja, Kompas memang tidak menerbitkan secara gratis karena pertimbangan mencari keuntungan yang lebih besar, subsidi silang dengan media yang belum profit atau juga kompas memang menerapkan harga jual untuk menyasar segmen pembaca tertentu. 
 
3. Jadi wartawan di Media Gratisan 
Ahkirnya, saya bekerja di media cetak gratisan(2001-2002). Bukan media berskala nasional yang berhome base di Jakarta. Tetapi sebuah tabloid 16 halaman (awalnya malah cuman 8 halaman) yang terbit di kota Yogyakarta. Kantornya pun berada di garasi dalam arti harfiah. Nama medianya adalah Mall, yang oleh bos saya (pemilik tunggal) berarti media alternatif. Ia menyebut sebagai media alternatif karena media ini diharapkan mejadi pilihan beriklan dari harian Kedaulatan Rakyat yang sangat mendominasi iklan cetak di kota Yogyakarta. Padahal  bos saya itu sebenarnya juga juragan biro iklan lokal yang sebagain besar media placementnya di Harian tersebut.

Awalnya saya bertugas di wartawan "sorangan". maklum ini hanya side job dari biro iklan tersebut. Toh, terbitnya juga bulanan dan hanya edar di Yogyakarta dan sekitarnya . Mall "hanya" berisi liputan mengenai ekonomi bisnis, profil perusahaan, profil produk, hingga sosok pengusaha. kebanyakan juga masih relasi dari biro iklan sendiri. Mengenai BEP, saya menjuga belum balik modal. Tapi saya juga menduga ini hanyalah service tambahan yang diberikan oleh agency kepada klien setianya.


4. Berburu sampai Cibubur
Resign dari media tersebut, dan terdampar bekerja "magang" di Biro Iklan di jakarta (2003). Saya masih terobsesi dengan media gratisan. Dan ternyata media seperti Mall sudah banyak beredar di Jakarta. Oya sebenarnya di Jogja, juga ada 2 media sejenis, yakni "Jogja Pariwara" dan "Yogya Ad". Di Jakarta, distribusi tabloid gratisan ini tersebar dimana-mana, terutama perumahan. Ahkirnya saya memberanikan diri bertandang ke salah satu redaksinya... saya agak lupa nama medianya. yang saya ingat hanyalah media ini lebih banyak menampilkan iklan baris, katalog mobil dan rumah di jual. Sedangkan dari sisi berita, sangatlah minim. 

Saya bertemu dengan redaktur media tersebut (damn... namanyapun lupa) di sebuah resto yang berada satu komplek dengan SPBU di Cibubur. Di sebelah SPBU itu ada danau dan pintu tol. Kita pun terlibat dalam diskusi yang menarik, pembandingkan media hingga membaca prospek pasar. Media cetak gratisan nampaknya sangat menarik dan mempunyai pangsa pasar yang cerah.   

Saya juga sempat mengunjungi sejumlah teman dan meminta sejumlah media gratisan yang ia punya. Sebelumnya saya memang pernah meminta tolong agar menyimpan media gratisan untuk saya. Ada sekian banyak media yang sempat saya miliki, dengan beragam jenisnya. dari format tabloid, majalah, hingga booklet. 

5. Membuat Tabloid Gratis, eh Brosur.
Kembali bekerja di Jakarta, tepatnya di prinsipal sepeda motor mengasah kembali kemampuan saya dalam membuat media (2004-2005). Bagaimana tidak, saat Pekan Raya Jakarta, kantor saya menerbitkan sebuah brosur dengan format tabloid 4 halaman. Ini artinya cuman 1 lembar bolak-balik. Hampir 100% media ini saya kerjakan sendiri. mulai dari redaksi, artistik hingga layout. order ke percetakannya pun sedikit banyak saya terlibat. Hasilnya memang keliatan. Setidaknya nama saya gak cuman sekali numpang nampang di box redaksi... hehehe

Setelah sukses menerbitkan media ini, saya menyimpan obsesi untuk menerbitkan media internal, yang kelak diedarkan ke konsumen, dealer, bengkel, klub hingga  konsumen langsung. Namun saat saya meninggalkan perusahaan ini, proposal saya entah jatuh ke tangan siapa. Mungkin jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat. Hehehe. Setidaknya saya mulai merangkak untuk menerbitkan sebuah media cetak gratisan


6. Tak sekadar Windows Shopping
Masih di Jakarta, setiap waktu luang di week end, saya selalu menyempatkan windows shopping ke berbagai mall. Tujuan saya hanya sekedar jalan-jalan, gak belanja :p  Refershing diantara hari-hari melelahkan bekerja. Namun saya juga "belajar" mengenai aktivitas Advertisingg & Promotion di dalam mall, entah launching produk, sales promo dan tentu saja berburu majalah gratisan. Hal terakhir menjadi wajib hukumnya jika saya nge-mall. hehehe

Ada dua jenis media yang saya buru. pertama In House Magazine. sebuah media yang diterbitkan oleh mall bersangkutan. saya menginggat ada empat mall yang menerbitkannya; Plaza Indonesia, Plasa Senayan, Mall Kepala Gading dan Pondok Indah Mall (saat itu masih ada satu). PS, majalah terbitan Plasa Senayan adalah favorit saya, karena tak hanya berisi katalog produk, tetapi juga artikel tentang gaya hidup. Jenis kedua, adalah media yang diedarkan di tempat-tempat nongkrong macam resto, cafe dan sebagainya. Biasanya content media ini lebih banyak berkutat dengan gaya hidup, resensi film dan musik, fashion, trend gagdet terbaru, hingga jadwal para Dj di sejumlah tempat dugem. Sampai sekarang saya masih menyimpan sejumlah media tersebut.

7. Obsesi membangun media gratisan
Menjadi birokat empat tahun lalu (2006-Kini) ternyata sedikit banyak mempengaruhi minat dan ketertarikan saya pada media gratisan. Saya sudah tidak berburunya apalagi sampai terlibat dan membuatnya. Mungkin, sedikit obsesi masih tersimpan juga. Entah sampai kapan saya akan tertarik kembali untuk bergelut dengan media. hehehehe

Wednesday, March 03, 2010

Lagu itu seharusnya Gratis

Jangan tanya saya udah berapa banyak lagu yang saya dapatkan secara "illegal". Entah udah berapa puluh lagu yang sudah saya download, belasan album yang saya copy dari server warnet atau ribuan lagu yang saya dengar dari dengar dari CD mp3. sekali lagi jangan tanya saya, soalnya seluruh lagu dalam harddsik dan belasan keping CD mp3 sudah pasti tidak syah secara hukum... :P

Namun berbeda dengan seorang teman, Eko.  Ia menyatakan tidak pernah download lagu mp3 meski di kantornya terdapat akses internet tidak terbatas. Ia pun termasak seorang yang bertanggungjawab terhadap situs instansinya. Rupanya ia punya prinsip, jika berkaitan dengan hak cipta, ia tidak akan mengunduh file dari dunia maya. Sikap itu tentunya berbeda dengan saya. Namun dari ia, saya mendapat inspirasi tulisan ini.

Seingat saya, di sebuah situs download mp3 lokal, disebutkan bahwa lagu mp3 yang dapat diunduh hanya sebagai preview dari album musisi yang bersangkutan. Selanjutnya netter diharapkan agar mendengarkan album secara utuh melalui CD atau Kaset. Lalu pertanyaan masih relevan membicarakan hak cipta (atau apapun) saat kita berada di dunia maya ini ? Bukankah dengan mudahnya kita bisa mendownload mp3 diberbagai situs? Bahkan kita juga bisa juga mendownload videoclip dari Youtube ?

Bagi saya, kehadiran internet dan berbagai konsekuensinya tak ubahnya seperti saat manusia purba berada di jaman batu. Saat jaman prasejarah, yang namanya binatang itu gratis, tinggal bagaimana seseorang mampu berburu di alam liar. Manusia purba tak perlu berpikir tentang hak milik, karena alam telah menyediakan. Kini, di era informasi, teknologi juga melakukan hal sama. Memudahkan orang saling berbagi. Mo cari informasi apapun, gooling aja. Dunia cyber memiliki apapun secara tidak terbatas. Semuanya gratis. Banyak orang yang men"share" berbagai file yang dimiliki tanpa berpikir untung rugi. Internet telah menyediakan apapun, sama seperti alam menyediakan semuanya pada jaman batu.

Kembali pada musik mp3 yang kerap saya download, masih relevan bahwa kita membahas mengenai hak cipta, hak milik atau apapun itu. Haruskah kita mengeluarkan sejumlah rupiah untuk mendengarkan lagu ? Tanpa kaset dan CD kita masih bisa mendengarkan lagu melalui file mp3. Dalam dua-tiga tahun belakangan media televisi juga mengepung tontonan musik. Apalagi Stasiun radio yang jelas-jelas akan garing tanya adanya musik..... bukankah itu semua gratis. Klo pun kita tidak mendownload lagu di internet, kita juga sering mengopy (atau mem-bluetooth) lagu dengan beragam media (CD,flash disk,memory card, hp).

Saya pribadipun sesungguhnya jarang punya kaset apalagi CD. Klopun sempet beli tak lebih dari hitungan sebelah tangan. Terlalu mahalkah uang yang saya keluarkan (atau terlalu pelitnya saya) untuk mendengarkan  lagu-lagu dalam satu album penuh. Ataukah saya memang cenderung memilih mendengar satu-dua lagu yang menjadi radio hits saja. Atau pertanyaannya apakah saya sudah cukup puas dengan mendengar lagu hits saja?

Jika kita mencermati secara detail, para musisipun sebenarnya tengah tidak berjualan lagu dalam bentuk kaset dan CD. Band saat ini justru lebih banyak menawarkan Ringtone (NSP,i-ring, dll) untuk menjangkau pengemarnya. Coba lihat saya tayangan videoklip di TV, selain nama band dan judul lagu, ada juga kode pengaktifan nada sambung. Dalam iklan, para musisi akan berkata "jadikan lagu ini sebagai nada sambung di hp mu" bukan lagi " dapatkan CD dan kasetnya". Dulu kita mengenal "Sheila on 7" yang mampu menjual album sejumlah 1 juta copy. Kini band "Wali", "ST12" atau "Mbah Surip" juga dikenal karena banyaknya orang yang mengunakan lagu-lagu mereka sebagai nada sambung. Mungkin jumlahnya juga ratusan ribu hingga angka jutaan.

Sebuah band dari Inggris (Oasis ? CMIIW) bahkan menjualan lagu mereka di internet dengan harga secara terserah. Ini berarti setiap netter yang mo download lagu tersebut dapat mendonasikan sejumlah nomimal uang sesuai kemauan mereka. Bahkan tak sedikit dari mereka mendonasikan jumlah yang tak sedikit karena mungkin merasa fans berat band tersebut. Hal ini berbeda band lokal, Naif,  yang justru menjual mahal kaset/CD terbaru mereka. Rupanya band yang digawangi David di vokal ini lebih memilih jualan kaset secara terbatas. Kaset atau CD  hanya ditujukan pada fansnya serta memberi bonus berupa merchandise band. Band besar seperti Rolling Stone ternyata menambah kocek besar bukan dari jualan kaset dan CD. Pendapatan terbesar mereka berasal dari konser mereka yang diadakan di seluruh penjuru dunia.

Bahkan jika kita mencermati iklan di TV, para pemain band pun kini menjadi bintang iklan. Jika tidak, lagu mereka dijadikan jingle iklan. Sebut saja Dance Company (Teh Gelas), Vierra (Fruitamin ?), Duo maia (Ale-Ale) Igor Saykoji (Indosat), Padi (Mentari), Ahmad Dhani (Sprite) Ipang dkk (Coca-cola), Jupez (kondom Sutra). Bahkan mereka juga terikat kontrak sebagai "brand ambasador" dengan sejumlah industri clothing. Band sebesar ungu misalnya, para personilnya terikat dengan sejumlah brand. Anda juga pasti ingat tulisan "ROllink" segede gaban di jaket charly ST12 dalam sejumlah videoklip atau saat performance di stage. Bahkan saat saya masih kuliah dulu, gitar yang dimaninkan Nugie selalu terpajang sebuah merk jeans ternama.

Pada akhirnya, saya melihat lagu pada kini hanya menjadi media yang mengantarkan musisi untuk menjadi produktif dan makin terkenal. Lagu sebagai sebuah produk yang dapat dijual belikan akan semakin menurun di masa-masa mendatang. Musisi kini dapat menjual dirinya bukan saja melalui lagu. Mereka kini mempunyai cara yang lebih banyak untuk memupuk pundi kekayaan seperti : jualan ringtone, konser, jualan merchandise, jadi bintang iklan, jadi brand ambasador bikin jingle dan sebagainya.

Jadi, bersyukurlah para musisi yang lagunya saya download, ataupun saya copy. Dengan demikian saya merupakan pasar yang potensial untuk ringtone, penonton konser atau produk yang  mereka tawarkan. ..... Tapi sekali lagi,jika saya tidak sedang pelit dengan rupiah yang ada di dompet..... Sayangnya saya lebih sering pelit untuk urusan ini heheheheheheheheh.... atau setidaknya sesuai judul tulisan ini aja dech. Lagu itu seharusnya gratis.

Thursday, February 25, 2010

Menonton Film (secara) Murah Meriah



(1) Pergilah ke Warnet, Copy Film dari Server Warnet
Mengcopy paste file dari warnet adalah kebiasaan lama saya. Sudah beberapa tahun, saya kerap mengcopy file MP3 di warnet seraya surfing di dunia maya. Sebuah flash disk dengan kapasitas cuman 128 Mega cukup sebagai bekal. Kini dengan ketatnya persaingan, warnet tak cuman menyediakan file musik saja tetapi juga film-film terbaru, baik produksi hollywood maupun lokal.

Dengan uang Rp. 4.000 (ngenet di warnet/jam) dan 2 buah flash disk 4 Giga saya bisa mengopy sekitar 4-6 film. Cukup murah bukan. Dibandingkan dengan rental DVD atau membeli DVD bajakan sekalipun, uang itu cukup enteng di dompet. Kualitas gambar dan suaranya pun tidak mengecewakan.

(2) Nonton di Rumah Kapan pun.
Dengan file film di flash disk, saya bisa menonton kapan pun. tidak terbatas pada durasi sewa, apalagi berpikir denda karena terlambat mengembalikan kepng DVD ke rental. Apalagi kartu identitas kerap menjadi barang jaminan. Sebuah harga yang terlalu mahal menginggat keping CD atau DVD hanya berharga tak lebih dari Rp. 5.000

Saya sering menonton film di monitor komputer jika hanya menonton sendiri alias tidak nonton bersama istri. Setelah itu, file tersebut langsung dihapus dari flash disk. Simple kan. Seberapa sering sich, kita menonton kembali sebuah film yang sama?

(3) Lebih Nyaman, Burn di keping CD/DVD
Menikmati film di TV jauh lebih nyaman daripada melototi layar komputer atau bahkan layar laptop. Pesawat TV juga menjadikan kita lebih rileks, bisa selonjoran atau bahkan rebahan di ruang keluarga.

Untuk itu, saya harus memburn file film tersebut dalam keping DVD atau CD. Software Nero sangat-sangat membantu, apalagi dengan CD-RW, dimana sebuah keping bisa diburn berkali-kali. Lalu tinggal mainkan di VCD/DVD Player. Sepanjang pengalaman, tidak semua VCD player ternyata support dengan CD yang saya burn. Setidaknya VCD Player milik ortu yang udah kelewat jadul itu hehehehe....

(4) Makin Nyaman lagi, Gunakan VGA to TV Converter.
Nah ini adalah sebuah alat yang "terpaksa" saya beli untuk dapat menikmati (kembali) film. Dikatakan terpaksa karena DVD Player yang biasa digunakan diminta kembali sama empunya, adik kandung saya. Maklum, setelah menikah, adik meminta kembali barang itu. Awalnya saya berniat membeli DVD Player baru. Namun saya justru mendapatkan barang ini ketika browsing di dunia maya. Dan pilihan membeli DVD Player baru terlupakan sudah.

VGA to TV Converter sendiri merupakan alat yang bisa mengubah layar VGA ke layar TV. Dimensinya pun kecil dan hanya memerlukan daya listrik dari USB. Bahkan alat ini tidak memerlukan driver sama sekali. Kebiasaan memburn film pun sudah lewat. Pengoperasional alat ini juga mudah, semudah menyolokan kabel2 di DVD Player. Soal harga, alat ini memang lebih mahal daripada DVD Player.... namun karena kebiasaan saya mengcopy file dari warnet, pilihan pada VGA to TV Converter menjadi lebih tepat.

Kini setidaknya ada beberapa file film yang masih ngendon di flash disk atau harddisk laptop, seperti : sherlock Holmes, Ninja Assassin, District 9, Funny People, , Knowing, My Bloody Valentine, hingga G.I. Joe - The Rise Of Cobra.

sttt..... jangan laporkan saya ke Dirjen HAKI, ya.... heheheh

Monday, February 15, 2010

Seberapak Kaya kah Anda ?

"Bagaimana Anda bisa bicara mengenai ekonomi kerakyatan jika kuda Anda saja bernilai 5 milyar ?"

Mungkin anda masih ingat pertanyaan di atas. Sebuah pertanyaan yang diajukan Kick Andy, eh, Andy Nova dalam sebuah wawancara dengan salah seorang cawapres beberapa waktu lalu. Jika masih ingat, ya sudahlah. Klo tidak ingat, ya gapapa juga. Toh, saya tidak akan membahas orang tersebut. Saya hanya ingin menulis tentang definisi kekayaan.

Mengapa kekayaan menjadi menarik perhatian saya ? Jawabannya sederhana saja, saya sudah jenuh dengan berita kemiskinan yang beredar di media massa, dari masyarakat yang makan nasi aking, kembali mengkonsumsi ubi sebagai makanan pokok, urbanisasi yang menyebabkan banyak preman, penculikan bayi yang dijadikan pengemis, atau berita tentang maraknya dukun cilik karena tiadanya jaminan kesehatan terhadap masyarakat bawah.

Jadi mari kita membicarakan tentang kekayaan saja. Siapapun anda, baik merasa sudah kaya atau belum pasti ingin menjadi (lebih) kaya. Begitu juga dengan saya. Saya pun ingin menjadi kaya dan tidak termasuk dalam kelompok masyarakat miskin atau yang dihaluskan menjadi golongan keluarga prasejahtera.

Memelihara kuda, di mata saya, adalah simbol kekayaan. Seekor kuda jauh-jauh berbeda dengan seekor ikan oscar, yang pakannnya cuman belasan ribu yang bisa awet berbulan-bulan. Memelihara kuda haruslah memerlukan lahan luas, pakan yang mahal, biaya pemeliharaan yang tidak sedikit serta pekerja yang bertugas khusus memeliharanya. Oya, saya memelihara ikan oscar yang merupakan warisan mertua. hehehhe..

Ketika kita tahu angka 5 milyar rupiah, betapa terkejutnya bahwa ada juga orang kaya di negeri ini. Mungkin ada belasan orang kaya yang mempunyai hobi yang sama. Duit 5 milyar tidak akan ada artinya jika orang sudah berbicara hobi. Hobi dan duit yang dikeluarkan untuk hobi kayaknya bisa menjadi acuan sederhana bagi kita untuk menilai kekayaan seseorang. Semakin banyak duit yang dikeluarkan untuk hobi, makin kayalah orang tersebut.

Saya pun mempunyai pengalaman mengenai hal ini. Beberapa tahun lalu, saya sempat mengenal orang-orang yang hobi motor gede. Dan sepanjang pengetahuan saya, duit 50 juta untuk menyalurkan hobi bermoge masih dibilang lumrah. Seorang rider menyatakan hal tersebut, 25 juta untuk harga moge, dan 25 lainnya untuk modif. Ada juga yang memasang tas bagasi dari kulit ular di kanan kiri pembonceng. Ada juga meng- air brush keseluruhan bodi motor yang tentunya berkisar jutaan rupiah. Moge yang saya maksud adalah moge buatan korea. Klo moge yang buatan jepang, amerika atau eropa, harganya bisa belipat-lipat.

Lalu apakah standar kekayaan yang saya yakini ??? Jika ini dipertanyakan pada saya maka saya akan merujuk pada pengalaman masa kecil saya tentang definisi kekayaan.

Definisi kekayaan yang pertama saya anut adalah naik haji. Jika ada seseorang naik haji berarti ia adalah orang kaya. Imajinasi masa kecil saya terhadap orang yang naik haji sudah pasti orang kaya. Pergi ke luar negeri selama beberapa minggu, perjalanan dengan pesawat terbang dan sambutan yang begitu meriah tentunya memerlukan rupiah yang tak sedikit. Wajar saja, saya mempunyai pandangan ini, maklum saya dididik di lingkungan TK dan SD Muhammadiyah.

Pada usia sepuluh tahunan, seorang tetangga membawa mobil masuk dalam kampung yang sempit. Saat itu juga defisini kekayaan berubah di benak saya. Kekayaan adalah memiliki mobil. Seingat saya ada tetangga yang mempunyai mobil "sejenis" jip. Pokoknya keliatan gagah banget mobil itu. Penilaian saya saat itu, tak banyak orang yang mempunyai mobil, dimana saya dan keluarga "harus" mengunakan bus umum sebagai transportasi luar kota.

Memasuki bangku SMP, definisi kekayaan kembali berubah. Sebuah sengketa hukum menjadikan keluarga saya harus "pindah rumah". Saya terlalu kecil saat itu untuk memahami apa arti hukum itu. Yang pasti keluarga saya harus mencari kontrakan karena rumah yang telah dihuni sejak jaman kakek saya telah berpindah tangan. Sejak saat itu memiliki sebuah rumah berarti sebuah kekayaan. Apapun model dan luasnya cukup mejadikan standar kekayaan di mata saya.

Kini, jika anda bertanya pada saya apa definisi kekayaan ..... Saya justru bingung menjawabnya. Anda mungkin lebih puas jika mendapat jawaban dari pejabat atau politisi yang tahu betul apa itu kekayaan (dan kemiskinan), atau bagaimana kekayaan (dan kemiskinan) itu bisa menjadi komoditas politik yang bisa ditawarkan pada masyarakat luas.

Klo anda masih memaksa saya untuk mendefinisikan kekayaan, saya akan menjawab.... selama anda masih diberi rejeki oleh Yang Di Atas dan anda bisa menyisihkan 2,5% untuk zakat, maka sesungguhnya anda termasuk orang kaya. Itu saja....

Saturday, February 06, 2010

Saya dan SBY


Jika di tanya apa hubungan antara saya dan SBY, maka jawabannya ya sederhana saja, antara presiden dan presidennya. Tidak lebih dan tidak kurang. Persoalan bahwa saya tidak memilih SBY atau demokrat dalam pemilu kemaren adalah hal lain. Saya tetap menerima kenyataan bahwa merekalah yang memenangkan pemilu dan menduduki jabatan eksekutif tertinggi di negeri ini. Seperti halnya rapat, saya akan melaksanakan hasil rapat meskipun ide saya ditolak mentah-mentah.


SBY menjadi menarik untuk saya tulis karena adanya situs facebook. Ya, facebook yang anda buka ini, seakan membuka relasi antara saya dan pria kelahiran Pacitan tersebut. ..... Relasi, kayaknya bukan kata yang tepat dech, karena saya juga tidak kenal secara pribadi. Klo saya menuliskan kata interaksi, kayaknya juga kurang tepat, setahu saya SBY tidak mempunyai account, apalagi untuk berteman di situs facebook. Jadi kata apa yang tepat menggambarkan hubungan antara SBY dan saya ???


Yang jelas ada beberapa kali status saya menulis tentang SBY atau demokrat. Dalam Tahun 2010 saja, setidaknya telah tercatat 5 status :


  • SBY punya facebook gak ya? Klo punya, tolong pak presiden baca notes saya yang berjudul "Antara saya, bunda dan prita?" dan jawab pertanyaan rakyatmu ini. (14 januari)

  • dikutip dari notesku "Kampanye Award" Anggota Tim Sukses terburuk : SBY, poltak.... ngomong kacau, suka menyela, berteriak2, satu lagi gak camera face (17 januari)

  • buat lembaga survey yang merilis tingkat kepuasan, saya kok gak pernah disurvey sich... jangan-jangan lembaga ini cuman terima orderan, kayak tukang sablon. mo nulis 70% atau berapa tergantung yang order.... huuuhhh!!! (28 januari)

  • Soeharto mencitrakan pembangunan. SBY membangun pencitraan. Menurutmu, apa bedanya gak sih ??? (28 januari)

  • Presiden itu pemimpin atau tukang ngeluh (5 februari)

Bahkan sebuah tulisan berjudul “Antara Bunda, Prita dan Saya” yang saya upload pada 2 Januari juga mencatut status “Gimana nasib Anggodo yah ? Kok SBY tidak menuntut Anggodo, padahal jelas-jelas namanya dicatut seperti yang kita dengar di sidang MK. Masak SBY kalah sama RS Omni, perkebunan kakao dan pemilik semangka”



Lalu apa menariknya status saya di atas ? Mungkin pertanyaan bisa dijawab oleh para teman yang mengomentari status dan notes di atas. Mungkin anda termasuk salah satu di antaranya…..
Jika pertanyaan kemudian diajukan kepada saya, sesunggunya jawabannya adalah sederhana saya…. Inilah bentuk demokrasi yang bisa saja jalankan…. Bukankah dalam demokrasi, dijamin adanya kebebasan mengeluarkan pendapat.



Dalam dunia yang semakin canggih dan sempit ini, kehadiran facebook menjadi begitu real dalam membangun sebuah interaksi politik dan demokrasi menjadi lebih mudah untuk saya pahami. Interaksi politik bukan semata-mata persoalan pilihan koalisi atau oposisi serta bagi-bagi kursi di kabinet. Begitu juga demokrasi harus dipahami dari sekadar pemilu yang hanya berlangsung lima tahun sekali itu.



Jika demokrasi diartikan sebagai pemerintahan oleh, dari, dan untuk rakyat; maka facebook adalah “sarana teraktual dan terinteraktif” untuk mewujudkan pemerintahan tersebut. Melalui facebook, saya, anda dan semua member (yang tentunya sebagai rakyat indonesia) dapat memberikan pendapatnya mengenai negeri ini, tentang lembaga politik (Presidennya, DPR), tentang aneka satwa (cicak, buaya, bangsat, gurita, kerbau) atau tentang rumor politik sehar-hari. Dan saya percaya 100%, apapun pendapat anda, inilah bagian dari demokrasi.



Facebook menjadi sebuah institusi yang bisa saya percaya untuk menyalurkan pendapat saya, bisa melalui banyak hal, mulai dari status, notes, groups, hingga pages. Bahkan komentar juga dapat diartikan sebagai sebuah pendapat sang facebooker terhadap wacana yang dilemparkan oleh facebooker lainnya. Kita pun bisa melihat pilihan politik seorang teman melalui berbagai group yang ia ikuti, apakah ia ikut group “SBY lanjutkan” groups “SBY tuntaskan century” atau groups “Mosi tidak percaya pada SBY”



Saya sudah tidak percaya dengan partai politik, ketika partai hanya aktif saat pemilu atau kongres, munas atawa muktamar. Kantor partaipun selalu tampak sepi-sepi aja klo tak ada agenda. Begitu juga saya tak kenal mereka yang duduk di parlemen. Mereka cuma saya lihat fotonya bertebaran memenuhi ruang publik dan menjadi sampah visual saat kampanye berlangsung, selain itu mana ada mereka mengajak saya dalam acara penyaluran aspirasi rakyat (duch… redaksionalnya itu). Begitu juga dengan pemilu yang hanya memilih seseorang berkuasa tanpa pernah ada kontrol, kecuali jangan dipilih kembali 5 tahun mendatang.



Beruntunglah…. Di tengah ketidakpercayaan saya pada pemilu, partai politik hingga lembaga politik….. saya masih bisa (belajar) berdemokrasi melalui facebook. Saya belajar untuk menyalurkan pendapat saya sebagai rakyat melalui status. Saya memimpikan pemerintahan yang lebih baik seperti yang saya tulis melalui notes. Saya menyatakan “koalisi” atau “opposisi” atas pendapat facebooker lainnya melalui comment.



Jadi tunggu saja tahun depan…. Saya akan mendirikan Partai Facebook Indonesia… wakakakakakkaka.

Sunday, January 24, 2010

Kanan Kiri Oke

" Coba tangan satunya di keyboard, satunya pegang mouse "

Kalimat tersebut saya tujukan pada anak PKL, seorang siswi SMK yang tengah magang di kantor beberapa minggu silam. Kedatangan anak PKL bagi saya pribadi sangat-sangat menguntungkan, setidaknya meringankan beban kerja yang terlihat sederhana seperti foto kopi, mengantar surat, dan sebagainya. Bahkan beberapa kali saya meminta mereka untuk melakukan pekerjaan yang lebih "menantang", mengetik surat di komputer... perlu saya tegaskan memakai komputer, karena di kantor saya, mesin ketik manual masih kerap digunakan.

Kata-kata di atas saya lontarkan saat mereka masih mengunakan satu tangan saat berhadapan komputer. Saat mengetik mereka hanya mengunakan tangan kanan, saat mengunakan perintah format huruf dan sebagainya tangan kanan mereka berpindah dari papan tetulis ke tetikus. (bener gak ya ejaannnya gini ???). Saya tidak menyalahkan mereka, para anak PKL yang baru pertama kali beradaptasi di dunia kerja. Namun saya merasa lebih gregetan... seharusnya tugas saya lebih cepat selesai jika mereka mampu mengoperasikan komputer dengan dua tangan sekaligus.

Tentang mengunakan dua tangan, tangan kiri di keyboard dan tangan kanan di mouse sebenarnya saya pelajari juga dari seorang teman Jodhi, beberapa tahun silam. Dari ia lah saya belajar bagaimana mengunakan dua tangan dalam mengoperasionalkan komputer. Ia adalah designer di sebuah biro iklan lokal di kota Jogja; dimana saya pada saat yang sama saya diberi job desc sebagai copywriter dan wartawan.

Saya melihat bagaimana Jodhi mampu mengedit sebuah foto atau melayout sebuah iklan dengan lebih cepat dengan dua tangan yang aktif. Tangan kiri di keyboard ia gunakan untuk perintah keyboard shortcut dan tangan kanan digunakan untuk mengedit sebuah obyek, layer atau seleksi dalam aplikasi CorelDraw atau Photoshop.

Ternyata bukan hanya dalam aplikasi grafis, penerapan dalam Microsoft Office, seperti Word pun menjadi saya lebih cepat untuk mengetik maupun mempercantik tampilan tulisan. Begitu juga saat kita menerapkan berbagai perintah keyboard shortcut dalam Windows Operating System.

Setelah melontarkan kalimat di atas dan memberi sedikit contoh kepada anak PKL ..... saya lantas berpikir ada apa dengan tangan kiri ?

Mengapa tangan kiri jarang sekali kita gunakan ? Apakah makan dengan dua tangan, sendok dan garpu membuat waktu makan kita lebih pendek ? Saat merokok, bersisir, menyapu atau kegiatan apapun dengan tangan kanan, sedang apakah tangan kiri ? Mengapa guru SD tidak membebaskan kita untuk menulis dengan tangan kiri ?

Saya lantas teringat Leonardo di Caprio.... Eh, bukan Leonardo yang jadi Jack Dawson dalam Titanic, tetapi Leonardo da Vinci.... Konon ia bisa menggambar dengan memakai tangan kanan dan menulis dengan tangan kiri..... Adakah orang lain seperti dia yang mampu melakukan hal serupa ? Entahlah, mungkin anda mau mencoba ??

Antara Bunda, Prita dan Saya.

"Hati-hati klo nulis di internet atau facebook, meski Prita mendapat banyak dukungan, hidupnya gak tenang juga" (Bunda, beberapa minggu lalu)

Kalimat di atas diucapkan Bunda saat Prita masih menghadapi tuntutan ganti rugi sebesar 204 juta. Kini cerita lain lagi, Prita dinyatakan tidak bersalah oleh majelis hakim, walau tampaknya jaksa penuntut umum tengah berpikir untuk banding.

Bunda saya memang tidak mengenal secara pribadi dengan Prita. Beliau adalah orang awam di bidang hukum dan internet. Hanya sekali beliau "meneggok" facebook untuk melihat foto-foto keponakan di situs jejaring itu. Jadi kalimat di atas seakan menjadi nasehat bagi saya untuk berhati-hati dalam mengungkapkan ekspresi di dunia maya.

Sebagai nasehat orang tua ke anaknya, tentunya saya menyimak baik-baik. Saya tak tidak mau jadi anak durhaka ala Malin Kundang. Saya pun tidak membantah atau mengeluarkan sejumlah jurus argumen. Hanya berkata lirih "ya, bunda" hehehhehe

Namun tidak untuk tulisan ini, bukan karena saya lain di bibir lain di hati lho (walahhh!!). Bagi saya menulis status di fesbuk adalah sebuah ekspresi, sebuah penyampaian pendapat ke publik melalui situs yang didirikan oleh seorang pemuda yahudi (walahhhh lagi). Begitu juga dengan bentuk email, ia adalah sebuah sarana komunikasi. Apapun itu content di dalamnya.

Begitu juga dengan kasus Prita. Email Prita seharusnya dipahami secara sederhana saja, bahwa ada seorang warna negara (atau konsumen) yang hanya ingin mengutarakan pendapatnya terhadap Rumah Sakit Omni Internasional. Dan kita semua tahu bahwa isi email tersebut menyatakan kekecewaan terhadap pelayanan (dokter) rumah sakit tersebut. Pihak RS OMNI seharus memahami email Prita secara sederhana pula, sebagai sebuah kritik dari pasiennya. Simple kan. Klo kritik itu kemudian dijadikan bahan masukan untuk memperbaikan kinerja, maka pihak RS Omni sendiri lah yang diuntungkan dengan kritik tersebut.

Sekarang lihatlah RS OMNI di dunia maya, komentar miring pun bermunculan mengenai rumah sakit ini. Seorang netter menyatakan klo pun ia sekarat tidak akan masuk ke RS tersebut. Bahkan ketika RS OMNI mendapat award di dunia marketing, orangpun lantas mencibir. Bahkan banyak orang yang mempertanyakan kata "internasional" pada rumah sakit yang (ternyata) tidak ada hubungan afiliasi manapun RS manapun di luar negeri. Mungkin kita juga perlu tahu apakah sejak kasus Prita mencuat, omzet, eh kunjungan pasien melorot tajam atau tidak.

Kasus Prita pun seolah menjadi sebuah pertanyaan besar.... kenapa upaya kritik (atau menyampaikan pendapat) justru dikenakan tuduhan pencemaran nama baik. Bahkan ketika hukum mengacu pada UU ITE, sanksi yang diberikan justru lebih besar dari KUHP. Padahal kita tau semua bahwa KUHP merupakan produk belanda pada masa kolonial. Kini setelah merdeka, Pemerintah justru mengeluarkan perundang-undangan yang lebih kejam dari bangsa penjajah itu.

Mengaitkan ke ranah IT dan hukum, UU ITE justru semakin membelenggu warga negara dalam menyampaian pendapat di jaman yang sudah global ini. Ini jaman internet bung, jaman keterbukaan kenapa juga semua dikekang ? Para akademisi dan jurnalis pun ramai-ramai menolaj UU ITE. Justru pekerja entertaiment yang justru menggugat Luna Maya dengan UU ini... maaf, saya tidak berkenan menyebut pekerja infotaiment sebagai jurnalis, karena infotaiment tidak mempunyai nilai berita apapun bagi saya.

Bahkan ketika demam facebook pun, kebebasan menyampaikan pendapat sudah terbuka luas. Simplenya, hanya dengan menulis status, kita sudah menyampaikan pendapat kita secara terbuka ke seluruh dunia, sedetik setelah kita klik tombol update status. Maka upaya pengekangan pendapat individu melalui pasal pencemaran nama baik justru menimbulkan lawakan tak bermutu. Repot amat negara ngurusin hal-hal semacam ini.

Kembali ke soal kritik sosial.... maka ingatan saya kembali pada sebuah status beberapa minggu lalu " Gimana nasib Anggodo yah ? Kok SBY tidak menuntut Anggodo, padahal jelas-jelas namanya dicatut seperti yang kita dengar di sidang MK. Masak SBY kalah sama RS Omni, perkebunan kakao dan pemilik semangga " ..... (kurang lebih sich, detailnya sama males buka profil fb).

Inilah bentuk kritik saya pada negara ini, bukan saja pada Anggodo dan SBY, tetapi juga rasa keadilan di republik yang sejak jaman saya SD didengung-dengungkan sebagai negara hukum. Sekali lagi inilah kritik saya seorang warga negara biasa. Saya bukan aktivis yang melakukan aksi-aksi jalanan, saya bukan akademisi yang mengajarkan etika di bangku kuliah, atai pengamat yang bersuara lantang di media... Jadi inilah bentuk kritik saya pada pemerintahan saat ini.

Dan semua ini bukanlah pencemaran nama baik, buat apa saya mencemarkan nama mereka, gak ada untungnya sama sekali buat saya. Jika ada pihak-pihak yang merasa tercemar nama baiknya karena status saya (dan tulisan ini) tolong, sekali lagi tolong gunakan akal sehat Anda.... itupun klo masih ada.

Rockin'>>>!
rio_nisafa

tulisan dan resolusi 2010.

Tahun 2007 lalu, saya mempunyai memasang target untuk membuat tulisan setiap minggunya.... namun ternyata tak sampai 52 tulisan yang saya hasilkan... 2010 ???

Berbicara mengenai pergantian tahun tidak akan afdol jika tidak disertai dengan sebuah resolusi untuk tahun depan. Sebuah target yang dipancangkan dalam-dalam agar (semoga) dapat terlaksana. Target tahunan tersebut juga seakan menjadi lecutan semangat untuk menghadapi perjalanan waktu. Lebih dari itu, resolusi tahunan juga akan terlihat seberapa progres yang telah kita capai dan hendak kita raih.

Mengenai dunia menulis, jauh sebelum tahun 2007 pun, saya memang pernah membuat tulisan. Soal kualitas dan kuantitas, saya tak akan menilai. biarlah pembaca (termasuk anda!) yang menilai tulisan saya. Namun setidaknya respon berupa comment di notes fesbuk, blog, hingga reply di email cukup menjadi bukti bahwa tulisan saya juga dibaca oleh sejumlah teman. Oya tulisan saya tersebar di http://www.rio-nisafa.blogspot.com, http://www.facebook.com/rio.nisafa, serta http://www.geocities.com/rio_nisafa yang telah tutup itu. Ada beberapa yang tidak diupload karena awalnya tulisan itu "hanya" berupa komentar atas tulisan teman yang ternyata terdiri atas sekian paragrap.

Namun sekali lagi, sejumlah tulisan di blog tersebut tidak memenuhi target saya untuk menulis setiap minggunya. Bahkan dalam waktu 3 tahun sekalipun (2007, 2008, dan 2009), jumlah tulisan yang saya hanya sekitar 45an.. (ini hanya hitungan sekilas dari harddisk)... ini berarti dalam kurun waktu 3 tahunpun, saya gagal memenuhi janji pribadi itu.

Lalu tulisan ini hadir (seakan) untuk mempertanyakan kembali target 2007 ? masihkan target itu berlaku untuk tahun 2010 ? mo naikin target menjadi 3 hari sekali menghasilkan tulisan, ataukah malah turun sebulan sekali.. ?

sebuah pertanyaan yang belum bisa saya jawab meski tahun baru datang dua hari lagi.

Sang Peramal

" kadang aku mikir, rio ki iso "membaca trenmasa depan", je... bener ra? "

Comment di atas ditulis oleh seorang sahabat saya, Nur Hidayanto pada sebuah foto di album Facebook saya. Tepatnya bukan foto tapi gambar cover "Serial Roy dan Joko" yang telah saya unggah pada akhir Nopember 2009. Komik itu sendiri merupakan bentuk lain dari serial Roy dan Joko yang lebih banyak menggambil bentuk narasi. Cerita lengkap mereka berdua pernah saya unggah di situs geocities. Namun sayang pada Oktober 2009, situs ini ditutup oleh Yahoo!

Cak Nur, begitu sapaan kami, temen-temen kuliah di Komunikasi UGM pada sosok aktivis kampus biru pada masanya. Bagi saya pribadi, ia merupakan sosok yang nyaman sebagai teman diskusi, baik selama kuliah maupun sesudahnya. Meski tak banyak intensitas diskusi yang kami lakukan, namun tak mengurangi keintiman obrolan kita berdua, mulai dari ranah komunikasi, politik, sosial hingga agama.

Membaca komentar di atas menginggatkan saya bahwa ia pernah menyatakan hal yang sama, meski secara lisan... Pertanyaan saya buat diri saya sendiri "benarkan saya bisa membaca trend masa depan ?" atau lebih sederhana "bisakah saya meramal?"

Pertanyaan di atas memang seolah sederhana, namun tidak untuk jawabannya. Saya bukan seorang dukun yang bisa membaca tanda-tanda mistik. Saya bukan futurolog yang menyimpulan sesuatu di masa depan melalui kecendrungan trend masa. Saya bukanlah ekonom yang mampu berhitung statistik dan . Saya juga bukan seorang entrepeneur yang mampu membaca peluang ekonomis di masa depan.... Dan saya juga bukan orang alim yang diberi isyarat oleh Sang Pencipta. Saya hanya manusia yang tengah belajar saja... itu saja.

Seingat saya, ada beberapa tulisan saya yang terbukti "benar" di masa depan, beberapa kurun waktu setelah saya mengunggah tulisan saya di blog, situs personal maupun notes di facebook. Kata benar perlu saya kasih tanda kutip, karena benar menurut versi saya sendiri. Atau jangan-jangan bukan kata "benar" yang patut saya tuliskan... tetapi masih relevan hingga saat ini. Mungkin pengertian relevan yang lebih masuk akal.

Berikut ini beberapa tulisan (juga komik) yang mungkin benar menurut ramalan saya, eh bukan.... masih relevan beberapa saat sesudah saya menulisnya.

(satu)
Komik Roy dan Joko "Gadis Di Tangga Kampus"
Sumber : Album Facebook, 30 November 2009

Fatwa hukum haram rebounding dan cat rambut mencuat beberapa hari terahkir. Bagi saya yang awam tentang hukum agama (dan saya tidak bisa berdebat mengenai fatwa ini)... masalah rebounding atau cat rambut hanyalah soal citra diri yang sangat dipengaruhi pencitraan penampilan diri yang muncul di media massa, apalagi televisi, itu saja. Konsep cantik, berat ideal, kulit ideal sekarang dibentuk oleh industri dengan media massa sebagai corongnya.


(dua)
Anggota Tim Sukses terburuk : SBY, poltak.... ngomong kacau, suka menyela, berteriak2, satu lagi gak camera face
sumber : Kampanye Award, Notes Facebook, 4 Juli 2009

Saat ini terdapat group di facebook yang menuntut agar partai Demokrat memecat Ruhut Sitompul sebagai anggota Dewan. Hal ini dipicu saat Ruhut mengatakan "Bangsat" saat rapat Pansus Soal Bailout Bank Pencury, eh Bank Perampok, eh Bank Century. Ini hanya satu contoh saja, dalam rapat dewan lainya, kita semua bisa melihat bagainya si raja minyak ini suka menyela, suka memotong pembicaraan orang. Klo soal camera face, itu penilaian subyektif saja.


(tiga)
Katanya sich, dalam ideologi Pancasila, ada ajaran yang menyatakan bahwa pemimpin itu harus mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan individu, keluarga maupun golongan.
Sumber : pemimpin negeri ini ???, Blog, 06 Januari 2009

Saat Anggodo mencatut nama SBY dalam kasus mafia hukum, SBY malah diam saja. SBY seharusnya menyeret Anggodo ke ranah hukum karena pencemaran nama baik. Saya sebagai warga negara marah karena kepala pemerintah sebagai simbol negara dicatut sembarang. Di lain kesempatan, saat nama keluarganya tertulis di Gurita Cikeas, SBY malah curhat di depan guru, klo keluarganya difitnah. Klo kepentingan negara, SBY malah diam. tapi giliran keluarga yang disinggung baru deh berbicara, eh curhat.


(empat)
Saya hanya takut, esok hari, ada ejekan "Wong Indonesia"; "Indonesian, lu", atau "Dasar Indonesia!". Sebuah ejekan yng diberikan oleh negara-negara maju pada republik ini. Sebuah ejekan yang mengambarkan kepada pandirnya kita, pandir dalam mengurus dirinya sendiri!
Sumber : [tentang] Dasar Indonesia!, Blog, 06 Juli 2007

Beberapa setelah tulisan ini, indonesia ribut sama malaysia soal reog, batik, tari pendet dan sebagainya. Kemudian kita juga tau bahwa malaysia kerap memanggil orang indonesia di dengan panggilan "indon"... sebuah panggilan merendahkan. Bagi saya inilah karma bagi kita bangsa indonesia yang suka merendahkan bangsa sendiri dengan sapaan "Wong ndeso!", "dasar kampungan" atau "udik lu"

@@@
mungkin ada bisa menambah ramalan saya yang berbukti ??? hehehehehe.............

Tuesday, November 03, 2009

gempa sebagai indikator keimanan ?


(bagian satu)
Pesan masuk
Er***ma
07-Okt-09 19:41
ini jam tjdnya gmpa padang & jambi : 17.16; 17.58; 8:52; coba cocokkan dg alquran, baca trjemahannya (surat 17 ayat 16, surah 17 ayat 58, surah 17 ayat 52).

Pesan terkirim
Er***ma
07-Okt-09 20:10
Dab, kita gak tau apakah gempa itu merupakan ujian (bagi orang beriman) ataukah hukuman (bagi orang yg tidak beriman). Hanya ALLAH SWT yang tahu apakah gempa itu ujian atau hukuman. Kita tak boleh “menuduh” seakan gempa adalah hukuman bagi saudara kita di sumatra barat.

(bagian dua)
Diantara dua sms tersebut, saya sempat membuka Alquran (program java di Hape saya) dan membaca terjemahannya….. berikut ini terjemahannya (klo terjemahan ini, saya copy paste dari program Alquran Digital dari kompi saya)

QS : 17.16 Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

QS : 17.58. Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).

QS : 8.52. (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.

(bagian tiga)
Beberapa hari kemudian sebuah email masuk ke inbox saya. Isinya kurang lebih sama dengan sms teman saya itu, cuman di email ditulis juga terjemahan dari ayat-ayat dari kitab suci.

Kali ini saya merasa sedih bukan main…. Bukan hanya karena saudara-saudara kita di padang dan jambi yang tertimpa musibah…. Tetapi sedih karena mereka dinyatakan sebagai orang-orang yang tidak beriman oleh orang lain yang menuliskan email dan sms kepada saya. Juga oleh orang yang mem-foward-nya


(bagian empat)
Sebagai ending tulisan ini, saya tuliskan kembali (copy paste tepatnya) sms yang saya kirim ke temen saya tersebut :

… kita gak tau apakah gempa itu merupakan ujian (bagi orang beriman) ataukah hukuman (bagi orang yg tidak beriman). Hanya ALLAH SWT yang tahu apakah gempa itu ujian atau hukuman. Kita tak boleh “menuduh” seakan gempa adalah hukuman bagi saudara kita di sumatra barat.

catatan :
Mungkin tulisan ini agak terlambat untuk ditulis dan dipublish di note facebook, namun karena merasa berhutang tulisan pada seorang teman, Heru Prasetia maka tulisan ini harus ada, meski gak maksimal juga. Semoga para korban gempa di padang dan jambi tabah menghadapi musibah ini, juga buat saudaraku Eva Indriani dan Lucky Chandra Irawan

Tuesday, April 21, 2009

Ke(tidak)adilan dalam Demokrasi



Apakah adil ketika orang tua memberi uang saku yang sama kepada anak-anaknya? Jika anak pertama hingga anak terahkir memperoleh uang saku yang sama, apakah orang tua itu dapat dikatakan sebagai orang tua yang adil ?

Anda pasti menjawab tidak adil, karena masing-masing anak punya kebutuhan yang berbeda, sehingga uang sakunya juga tidak sama. Jika anak pertama sudah kuliah dan memperoleh uang saku yang sama dengan adiknya yang baru umur 5 tahun, maka besar uang yang sama adalah sebuah ketidakadilan.

Begitu juga dengan demokrasi, apakah adil jika semua orang mempunyai hak yang sama dalam pemilihan umum? Seorang yang buta huruf mempunyai suara yang sama dengan seorang profesor ilmu politik? Bagaimana dengan individu yang setiap hari kritis terhadap pemerintah dan menyaksikan acara politik di televisi dengan seorang ibu-ibu yang menghabiskan waktunya untuk menonton gosip pacaran raffi ahmad dengan yuni shara atau penasaran baju kembaran yang mana lagi yg mo dipake the sister ?

Jawabnya jelas sekali tidak adil....

Seorang profesor ilmu politik akan sangat paham, seberapa idealkah partai pemilu dalam aggreasi kepentingan konstituennya, sedang si buta aksara mungkin tidak tau apa bedanya kampanye dengan cerita pepesan kosong.

Seorang penonton setia acara politik di tivi (dan melalui media massa lainnya) akan sangat selektif dalam memilih partai. Berbagai referensi akan memandu ia uintuk memilih sebuah partai politik yang ideal. Dan si ibu-ibu penggosip, hanya akan paham bahwa si calon presiden A, bisa bernyanyi saat kampanye, atau ketua partai B sering muncul di iklan tv dengan seribu janji, tanpa mengenal visi misi dan plafrom partai

Itu lah membedakan seorang mahasiswa dengan murid TK, meski sama-sama memiliki ayah dan ibu yang sama serta tinggal di rumah yang sama. Begitu juga dengan rakyat sebuah negara, meski tinggal di negara yang sama; tingkat pendidikan, kesadaran politik, melek media (bukan hanya buta huruf atau tidak) sangatlah beragam. Bagaimana kita bisa memberi suara yang sama bagi mereka?

Hal ini lah yang tampaknya menjadi dasar pemikiran Aristoles, filusuf yunani, bahwa demokrasi bukanlah sosok ideal bagi jalannya roda sebuah pemerintahan.

Bagi saya, jika demokrasi tidak bisa berbuat adil, bagaimana mampu melahirkan pemimpin yang adil pula ?

Monday, April 20, 2009

Perjudian Atas Nama Pemilu


Kabar bahwa sejumlah rumah sakit jiwa menyiapkan bangsal khusus caleg gagal, tampaknya sudah lama terdengar. Sekian banyak orang jadi stress gara-gara pemilihan legistatif juga barang jamak di media massa. Sejumlah RSJ juga mengalami peningkatan pasien inap, rawat jalan atau sekedar berkonsultasi kesehatan jiwa. Sebuah running text di televisi menyatakan bahwa dinas kesehatan mengindikasikan adanya ribuan caleg terindikasi mengalami gangguan jiwa. Uniknya ada juga caleg yang harus menjalani terapi transfer energi yang berbau supranatral untuk menenangkan dirinya.

Berita sore di statiun tv lain menyatakan sebuah puskesmas menyetok obat penenang lebih banyak sesuai instruksi dari dinas yang juga berkaitan dengan agenda 9 april lalu. Seorang ibu bahkan harus gantung diri karena hanya mendapat belasan suara. Seorang caleg gagal menyegel halaman rumahnya yang biasanya digunakan sebagai pasar kaget, karena memperoleh suara minim dari para pedagang. Di kota lain, caleg mengusir beberapa keluarga yang tinggal di atas tanahnya, hanya karena orang yang terusir tidak mencontrengnya. Pengurus pengajian terpaksa mengembalikan karpet yang diberikan caleg saat pemilu karena sang caleg tidak mendapat suara cukup. Di tempat lain, bukan karpet tapi berupa semen dan ubin keramik.


Atau anda mau menambah lagi..... Silahkan, monggo...

Lalu untuk apa kita mengikuti pemilu jika para calon anggota legistatif nya seperti ini ?

Mungkin ada yang berkomentar " saya tidak memilih caleg seperti di atas, ia berhasil duduk di dewan? "

Tapi apakah ada garansi yang menyatakan seandai caleg yang ia pilih, tidak berperilaku sama seandainya sang caleg hanya mendapat suara minim?

Pertanyaan selanjutnya bagaimana kita bisa percaya pada pemilu yang membiarkan orang yang memiliki potensi sakit jiwa berhak mencalonkan diri sebagai anggota dewan?

Atau jangan-jangan pemilu ini tak ubahnya seperi sebuah pertaruhan atau judi? Pemilu seakan menjadi adu untung layaknya judi dadu atau judi togel. Siapapun boleh memasang taruhan asal punya uang. Syarat lain, gak ada sama sekali. Tinggal berhitung, seberapa banyak duit yang tinggal di dompet. Mo mempertaruhkan seluruh isi dompet juga tak masalah. Tinggal pilih pada angka yang dipercaya pembawa lucky dan memacu jantung saat bandar menggulirkan dadu. Yang menang, silahkan mabuk kepayang. Yang kalah, diperbolehkan melontarkan sumpah serapah dan menjadi gila.

Sekali lagi, jangan-jangan (seperti kalimat pembuka paragrap di atas) .... Perjudian, eh maksud saya pemilu ini memang harus seperti di atas, karena mengagung-agung sesuatu yang bernama demokrasi? Toh, yang namanya demokrasi kan dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat?. Jadi wajar banget, klo siapaun berhak mencalonkan diri sebagai anggota dewan yang terhormat itu. Persoalan kriteria bagaimana, mengapa dan siapa yang berhak mencalonkan diri bukanlah menjadi sebuah perkara. Atau pertanyaannya, siapa yang akan mempersoalkan dan kenapa harus dipersoalkan pula.

Sudahlah.... Daripada saya ikutan-ikutan gila seperti mereka.

rti mereka.

Tuesday, April 07, 2009

Soundtrack Pemilu 2009

1.
Lumpur merendam
Pilunya belumlah sirna
Jika mentari panasnya tak lagi menyengat...
Apakah ini adalah....akhir dari tempatku berpijak

song : terluka
artist : padi
album : tak hanya diam


2.
Kita merasa benar-benar pintar
Memasyarakatkan kebodohan ini
Kita membicarakan kenyataaan dalam dunia fantasi

song : kenyataaan dalam dunia fantasi
artist : Koil feat The Rock
album : -


3.
aku sudah bosan dengarkan kata-kata
aku sudah muak dengarkan harapanmu
aku sudah lelah dengan harapan
aku sudah mual dengarkan ceritamu

song : impresi
artist : pas band
album : the best of pas band


4.
Meski banyak padi di sawah
hatiku selalu resah
meski telah ganti pemerintah
hidupku selalu susah

song : mars pembantu
artist : titi kamal
album : OST Mendadak Dangdut


5.
memang jaketku memang kotor
jangan menghina, yang penting bukan koruptor

song : memang
artist : slank
album : suit..suit hehehe


6.
kau tak memikirkan akan nasib kami,
tau kah kau itu?
kau hanya mementingkan keinginanmu
ku mau kau dengar kami.... kau rese yeach....

song : paraelite
artist : EdanE
album : 170 Volt


7.
wakil rakyat seharusnya merakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat

song : iwan fals
artist : surat buat wakil rakyat
album :


8.
yang aku butuh negeri maju,
yang pemimpinnya bukan pemimpin palsu
yang aku butuh negeri makmur,
biar mimpiku gak jadi kabur.

song : Udara segar
artist : BIP
album : Udara segar

9.
kami orang muda, kaya akan obsesi
mobilitas tinggi, haus reformasi hakiki

song : format masa depan
artist : dewa 19
album : format masa depan

Thursday, March 05, 2009

Air Minum, Mie Instant dan Partai Politik


Mungkin Anda sudah tau bahwa beberapa bandara internasional atau publik area lainnya di luar negeri, orang bisa langsung minum air dari kran khusus. Atau terkadang orang bisa minum air langsung dari krannya di dapur, seperti dalam sebuah adegan yang saya lihat beberapa hari lalu di televisi. Air memang menjadi alat vital, eh.... kebutuhan vital bagi setiap orang. Tanpa makan, seseorang bisa bertahan seminggu, tapi tanpa minum, seseorang hanya hidup tiga hari saja.

Lalu bagaimana persoalan air d negeri ini ? Memang ada BUMD mempunyai kewenangan khusus untuk mengelola kebutuhan air, yakni PDAM (perusahaan daerah air minum). Tapi bagaimana produknya? Gak perlu di jawab dech.... Pertanyaan saya paling gampang, apakah anda pernah minum air langsung dari kran? Klo sudah, ya sudahlah, saya gak perlu melanjutkan tulisan ini. Klo blom, berarti dugaan saya benar, kita semua belum pernah atau tidak pernah minum air yang disalurkan oleh PDAM.

Minum air langsung dari kran seharusnya... sekali lagi seharusnya sudah menjadi "promise" yang harus dipenuhi oleh PDAM. Lha wong namanya saja sudah "Perusahaan Daerah Air Minum". Jadi seharusnya, air yang kita dapatkan dari kran itu adalah produk yang layak minum. Sebuah air bersih dan sehat yang langsung bisa diteguk, tanpa harus dimasak dulu.

Tapi sekali lagi, kata air minum yang terdapat dalam inisial PDAM itu cuman "nama". Begitu juga dengan standar air yang layak minum itu kan hanya sekedar janji yang gak pernah kita tau kapan bisa terwujud.

@@@
Pernah merhatikin bungkus mie instans? Coba bayangkan di semua bungkus mie instans tersebut, pastilah terdapat visualisasi mie yang sangat-sangat mengiurkan. Bukan hanya foto mie saja terpampang, tetapi juga terdapat telur,daging ayam, udang, bakso, wortel, jeruk nipis, dan berbagai jenis sayuran lainnya

Klo tak sempat merhatiin bungkus mie instant, liat saja iklan mie instant di tivi. Penggambarannya jauh lebih sempurna, mie instant tersebut tertampung dalam sebuah mangkok besar. Tak lupa menyertakan bahan-bahan tambahan lainnya, seperti tampilan buskusnya. Bahkan dengan tampilan audio visual serta narasinya yang sangat komunikatif, seolah-olah mie instans memang benar-benar mak nyuss.

Sekarang, pergilah ke dapur, dan masaklah mie instant. Sesuai dengan instruksi yang terdapat di bagian belakang bungkus. Satu lagi, jangan gunakan bahan-bahan lainnya selain apa yang terdapat didalam bungkus mie instant. Lalu perbandingkan antara mie hasil kreasi anda di dapr dengan mie yang ditampilkan di bungkus dan iklan tivi.

Jangan merasa bersalah, jika mie instant anda tidak selengkap mie instant yang ada di bungkus apalagi di iklan tivi. Meskipun anda mematuhi petunjuk di belakang bungkus. Mie yang sangat menggiurkan juga tidak anda peroleh, seandainya anda mengunakan gelas ukur untuk menakar cc air untuk merebus mie. Atau mengunakan stop wacht untuk menentukan seberapa mie direbus.


@@@
Lalu apa hubungannya dengan partai politik.... ?
saya tak tau persis apa hubungan antara air minum, mie instant dan partai politik. Saya hanya tak ingin partai politik tidak bisa memenuhi janji politiknya seperti PDAM, apalagi hanya tampil manis di iklan tivi seperti mie instant.

itu saja kok.....


Rockin'>>>!
rio_nisafa

Thursday, February 26, 2009

Sumpah, saya sudah ratusan nonton Titanic


Valentine, beberapa hari lalu, sebuah stasiun televisi menayangkan (kembali dan berulang-ulang) film Titanic. Sebuah film yang sempat menjadi heboh pada masanya dan menjadi salah satu film terbesar dalam sejarah perfilman dunia. Lagian dengan genre drama romantis, film ini sah-sah saja ditayangkan pada tanggal 14 Februari.

Lagian siapa sich yang gak kenal Titanic? Ada tiga hal yang menarik tentang Titanic ini. Pertama, Titanic merupakan tragedi terbesar dalam sejarah transportasi manusia. Kapal titanic yang super mewah itu tenggelam dini hari di lautan lepas dan menewaskan kurang lebih 1200 orang. Kedua, Titanic merupakan judul film atas musibah tersebut yang mencatat sebagai film terbesar dalam sejarah box office amerika dan memborong piala oscar. Ketiga, Titanic merupakan judul skripsi saya .... heheheheh

Lebih dari ketiga hal di atas, Titanic itu menginggatkan saya betapa malesnya saya ngerjain skripsi... Males? yap, Skripsi itu ternyata makan waktu yang sangat panjang, sekitar 3 tahunan. Padahal judulnya tergolong agak singkat " Titanic dan Amerika, Studi Semiotik tentang Konstruksi Impian Amerika dalam Film Titanic". Keren kan ?

Waktu 3 tahun lebih untuk skripsi itu. terhitung dari tugas mata kuliah filmologi, pada tahun 1999, hingga saya lulus tahun 2002. Klo dihitung sejak film itu diputar dibioskop awal 1998, maka rentang waktunya jauh lama... walah!!.. Oya, skripsi itu sendiri merupakan pengembangan dari sebuah makalah yang hanya belasan halaman.

Masalahnya adalah saya terlalu malas untuk mengarap skripsi. keping VCD sudah di tangan, bahan refensi memenuhi harddisk, tumpukan buku bantuan dari kedubes Amerika juga lama nongkrong di lemari buku. Dosen juga asyik-asyik ajah, gak susah dicari di kampus. Bahkan ada juga "KM Erotik" alias Keluarga Mahasiswa skrepsi Semiotik; yang kerap sharing tentang skripsi. Saya juga hanya cukup menonton Titanic di komputer tanpa harus wawancara, melakukan koding-koding statistik apalagi observasi lapangan.

Lalu kenapa skripsi gak selesai-selesai juga. Ya karena males itu tadi. Bukan hanya males, Mengutip mantan bos saya dulu, pak ernas, saya dikategorikan sebagai anak bandel! bener-bener bandel! heheheh.....

Bukan saja males-malesan ngerjain skripsi. Saya malah asyik main-main selama akhir kuliah. Salah satunya, saya bersama 2 sahabat melakukan backpacker ke lombok dan bali selama dua minggu. Saya juga ikut kursus PR selama 3 bulan. Belajar otodidak komputer grafis. Bekerja di salah satu kafe selama 3-4 bulan hingga yang paling konyol adalah ketika saya memutuskan untuk mengambil cuti kuliah selama 1 semester untuk bekerja lagi di sebuah biro iklan.

Segala kemalasan ini ternyata harus dibayar mahal... Saya lulus kuliah 6 tahun. Ya, enam tahun. Tak ada predikat cumlaude yang memang diberi pada mahasiswa yang lulus maksimal 5 tahun dan IPK minimal 3,5. Padahal, menurut teman-teman, saya bisa saja mengejar predikat tersebut jika mau berusaha dan tidak males itu....

Namun, ada sedikit hal yang cukup menggembirakan saya beberapa waktu belakangan. Kabar terbaru dari skripsi saya itu adalah masuknya skripsi titanic ke dalam perpustakaan fakultas. Ini merupakan kabar yang sedikit membanggakan, karena hanya skripsi bernilai A atau B+ saja yang berhak menempati rak di perpustakaan. Meskipun nilai skripsi saya hanya B+ saja. Saya mendapat info tersebut dari Cak Nur, seorang rekan yang tengah mencari referensi tentang penelitian komunikasi yang ia geluti. Jelas saya kaget, jika skripsi tebal dinilai layak oleh dosen. Soalnya saya saja males-malesan tatkala menyusun skripsi itu. hehehehe ......


Rockin’>>>!
rio_nisafa





Sunday, February 15, 2009

Ketika Malaikat Bersujud



ketika malaikat bersujud,
aku mengukur waktu, mengulur-ulur detik yang memburu

ketika malaikat bersujud,
aku lelah mengejar mimpi, sebuah bayang bernama fantasi

ketika malaikat bersujud
aku mencari jati diri, perjalanan panjang seperti sinetron televisi

ketika malaikat bersujud
aku tersesat dalam labirin dunia, menjebakkan diri dalam hampa

usai malaikat bersujud
aku mengucap lirih, nama-MU.

ps. foto ini diambil sekitar jam setengah delapan, beberapa bulan lalu, dalam perjalanan berangkat ke kantor. masjid terletak di Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo.

Rockin'>>>!

Tuesday, January 06, 2009

pemimpin negeri ini ???

Katanya sich, dalam ideologi Pancasila, ada ajaran yang menyatakan bahwa pemimpin itu harus mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan individu, keluarga maupun golongan. Tapi sekali lagi itu sich hanya pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang saya pelajari jaman SD hingga kuliah dulu. Soal diamalkan dalam kehidupan sich, entar dulu..... moral kan hanya teks dalam buku pelajaran saja, yang kemudian hanya di-soal-kan dalam ebtanas (sekarang uan).

Lalu kenyataannya gimana ?

Daripada pusing-pusing melihat tataran ideal dan tataran kenyataan, saya punya sederet pengalaman yang saya dan istri saya alami.

Penutupan Bus Trans Jogja.
Suatu sore, istri saya mengeluh karena tertahan beberapa waktu di halte bus trans jogja. Bus yang seharusnya sudah lewat dari beberapa waktu , ternyata tidak kunjung datang. Bahkan beberapa bus dengan jalur lain telah datang berulang kali lewat halte tersebut. Oya, bus trans jogja itu mirip dengan bus trans jakarta (atau terkenal dgn busway). Dengan terpaksa, saya pun harus menjemput di halte tersebut.

>>> Ternyata bus yang ditunggu istri saya, jalurnya di pindah ke rute lain, melewati halte yang seharusnya disinggahi itu. Akibatnya penumpang bus tersebut menumpuk di halte atau diturunkan di halte lain yang tidak diharapkan. Usut punya usut, ternyata SBY sedang meresmikan taman pintar, sebuah wahana belajar bagi anak-anak yang disediakan pemkot jogja. Taman pintar itu sendiri terletak di jalur yang dilewati oleh bus yang hendak dinaiki istri. Jika pemimpin itu mementingkan rakyatnya, kenapa harus mengorbankan rute bus, yang melayani ratusan rakyatnya?

Penutupan Jalan Jogja - Wates
Kali ini saya yang dongkol, perjalanan ke kantor di wates, kulon progo (30 km barat kota jogja) ternyata dihambat oleh petugas dari kepolisian maupun dinas perhubungan. Laju motor saya diberhentikan dan diarahkan masuk ke sebuah jalan desa. Tepatnya di daerah sedayu (km 15). Begitu juga dengan penguna jalan raya lainnya, entah bus, mobil pribadi, sepeda motor dan sebagainya. Semuanya di selilipin di jalan-jalan desa yang sempit. Alat transportasi yang tengah menuju jalan raya itupun tertahan. Sialnya, saya tertahan hingga waktu 30 menitan. Kemudian, jalan wates benar-benar kosong dari semua mode transportasi. Sesaat kemudian lewat iringan mobil dinas kepresidenan yang dikawal belasan mobil dinas lainnya.

>>> ternyata jalan raya jogja-wates diperintahkan untut dikosongkan hanya dengan alasan ada SBY yang lewat. SBY rupanya berencana akan meresmikan desa kerajinan di daerah Sentolo Kulon Progo dan acara lainnya di kabupaten Purworejo (barat kab Kulon Progo). Jalan raya Jogja Wates itu seakan-akan hanya milik presiden dan rombongannya, rakyat dibiarkan terpanggang panas matahari, dipenuhi asap knalpot dan emosi yang "nggggrrr" hanya karena menunggu rombongan sby lewat. Jika pemimpin itu mementingkan rakyatnya, kenapa harus mengorbankan jalan raya, yang dilewati ribuan rakyatnya?

Pengeledahan di dalam masjid Agung Jogja
Jumat itu, saya sengaja menyempatkan diri sholat jumat di Masjid Gede Kauman Yogyakarta, sebuah masjid peninggalan kesultanan Yogyakarta. Niat itu saya jalankan dengan harapan dapat mendengarkan khutbah jumat dari Gus Dur, yang saat menjabat presiden. Tetapi ternyata bukan khutbah Jumat, Gus Dur justru berbicara setelah sholat jumat. Saat itu ribuan umat islam memadati masjid raya, jauh sebelum adzan dikumandangkan. Namun yang membuat saya kesal, ternyata saya harus diperiksa oleh paspampres, lengkap dengan alat detektor logam. Seluruh badan saya dipindai dengan alat tersebut. Begitu juga ribuan umat islam yang berniat sholat di masjid tersebut.
>>> Jika pemimpin itu melayani rakyatnya, kenapa harus takut dengan rakyat yang dilayaninya ?

Hamzah Way
Rupanya Wapres Hamzah Haz, termasuk orang yang tidak sabaran ketika berlalu lintas di jakarta. Ia pun dikabarkan pernah mengunakan jalur bus way, ketika melintasi jalan raya di ibukota. Bahkan ada sebuah karikatur, setelah ada bus way ada pula hamzah way. hehehe. Para penguna jalan raya lainya hanya bisa dongkol dengan ulah sang wapres ini, mengunakan jalan yang bukan haknya.
>>> Jika pemimpin itu melayani rakyatnya, kenapa ia duluan yang minta dilayani dan mengabaikan ribuan rakyatnya ?

foto : http://i195.photobucket.com/albums/z171/rilham2new/Kunjungan%20SBY%20ke%20RIAU/cet2.jpg

Rockin'>>>!
rio_nisafa

Saturday, December 13, 2008

Manusia Penikmat Musik Jadul


Beberapa hari belakangan , saya sering mendownload lagu-lagu jaman dulu di internet. Lagu Indonesia era 90an, tepatnya awal 90an awal hingga pertengahan dekade 90an merupakan target dari perburuan saya di situs 4shared.com.

Jika dihitung rentang waktunya, pada tahun-tahun itu adalah masa saat saya menduduki bangku sekolah menengah hingga awal kuliah. (menduduki, emang jepang menduduki indonesia). Saat itulah saya muali suka dengan "musik dewasa", sebuah musik yang dibawakan oleh band atau penyanyi dewasa, bukan penyanyi anak-anak, macam bondan prakoso, eno lerian, trio kwek-kwek, chicika meidy atau duet susan-kak ria.

saat itu band maupun solis yang sempat saya sukai antara lain dewa 19 (masih vokalis ari lasso), indra lesmana, DMC, Protonema, Gallery, Iwa K, Garby, Flowers, Kla Project, No Limits, Andy Liany, Bayou dan sebagainya.

Lalu apa hubungannya antara "mengunduh" lagu lama dengan diri saya ?

Entah kenapa, kok tiba-tiba saja saya merasa menjadi "orang tua" dalam artian umur dengan kecendrungan mendengar lagu-lagu era 90-an. Saya takut merasa tua karena tidak mampu mengikuti selera pasar musik kontemporer. Saya kemudian saya seperti orang-orang seusia bapak saya yang masih mengemari koes plus atau abba, atau seperti para kaum mapan yang berumur 40-an tahun yang gemar nonton zona 80 di metro TV. terkadang saya juga menilai bahwa menikmati musik lama adalah sebuah jebakan nostalia tanpa mampu beradaptasi dengan musik masa kini yang semakin beragam.

Ini bukan persoalan selera musik saja, tapi juga tuntuan hidup yang terus berubah. Musik hanya bagian kecil dari kehidupan yang harus saya hadapi. ..... maka "ketakutan" saya pun makin besar.....

foto : musiklawas.blogspot.com/

Rock d World!
rio_nisafa

Wednesday, December 10, 2008

Pewaris Ibrahim


Para pewaris Ibrahim saling berperang demi agama langit.
Sebagian dari mereka menyembelih kurban dan mengikuti ajaran sang nabi.
Maka jelaslah, siapa pewaris sah Ibrahim.

Selamat IDUL ADHA

Rock d World!
rio_nisafa

photo : http://infosemarang.net

Tuesday, November 18, 2008

Jaman Internet = Jaman batu

Klo di bilang bahwa kehidupan selalu berputar, maka kehidupan kita saat ini juga merupakan putaran dari kehidupan sebelumnya. Apa yang kita anggap sebagai sebuah kemajuan, secara dasar adalah proses kembali pada tataran kehidupan sebelumnya.... pusing ya? Mari kita sederhanakan....

Dulu, ada masa yang kita kenal sebagai jaman batu(prasejarah), kemudian jaman modern (jaman bersejarah) dan terahkir jamaninternet ( cyber). Artinya setelah jaman modern, kehidupan kita saat ini dan ke depan, tak ubahnya mengikuti berbagai pola kehidupan di dunia batu.

1. Gambar sebagai alat bahasa
Saat ini kita banyak mengunakan icon, gambar dan simbol dalam mengkomunikasi sesuatu. Yang paling gambang dan sering digunakan adalah icon-icon yang berada di program komputer. Mengunaan icon ini merujuk kembali pengunakan piktogram, yakni penulisan huruf paku yang (lebih mirip gambar) oleh manusia purba di dinding gua.
>> Pengunaan piktograf pada dasarnya merupakan bentuk komunikasi secara sederhana, sedang pengunaan icon adalah upaya menyerdahanakan komunikasi

2. Hak Kepemilikan
Klo mo cari informasi sesuatu, gooling aja. dunia cyber memiliki apapun secara tidak terbatas. Semuanya gratis. bahkan kita bisa mendapatkan program, lagu, video dan apapun secara gratis. Banyak orang yang men"share" berbagai file yang dimiliki tanpa berpikir untung rugi. Internet telah menyediakan apapun, sama seperti alam menyediakan semuanya pada jaman batu. pada jaman batu, yang namanya binatang itu gratis, tinggal bagaimana seseorang mampu berburu di alam liar.
>> Manusia purba tak perlu berpikir tentang hak milik, karena alam telah menyediakan. teknologi juga melakukan hal sama, memudahkan orang saling berbagi.

3. Status Individu
Jaman batu, manusia berinteraksi tanpa batas ruang dan waktu, mereka berkumpul dalam gua-gua, kelompok kecil di alam bebas dan membangun strata strata sosial yang sederhana. Kini email, teleconfrence, videocall, blog dan sebagainya membuat sesama manusia dalam dunia cyber saling berhubungan secara sederhana dan menembus sekat-sekat strata sosial yang dibangun dalam jaman modern.
>> Manusia kembali menjadi satuan individu bukan sebagai anggota dari kelompok strata sosial tertentu. masyarakat purba adalah masyarakat tanpa strata sosial, sedang masyarakat cyber menafikkan strata sosial.



Source gambar : http://i25.tinypic.com/1581t9s.jpg