Sunday, October 08, 2006

KERJA INFORMAL


Orang boleh bilang bahwa tingkat pengganguran di Indonesia sangat tinggi. Tak hanya lulusan pendidikan menengah semacam SMA atau SMK, alumni perguruan tinggi juga merasakan sulit mencari pekerjaan. Berbagai alasan pun mengemuka mulai pendidikan yang tak mengacu kebutuhan tenaga kerja, minimnya investasi, rendahnya minat wirausaha hingga persoalan mental segala.


Tapi jika kita amati di sekeliling .... teramat banyak cara untuk mendapatkan uang. Cara-cara tersebut tak perlu ketrampilan khusus atau pendidikan tertentu. Bahkan tak ada instansi pendidikan yang mengajarkannya. Orang mengatakan pekerjaan tersebut sebagai jenis pekerjaan informal, tetapi apapun jenisnya tujuan orang bekerja juga untuk memperoleh kompensasi berupa beberapa rupiah.


Dan menurut saya, ada 3 macam profesi yang menurut saya sangat aneh, yakni :


(1) CALO HALTE.
Profesi ini adalah profesi paling aneh yang pernah saya temui. Aneh karena ia tidak memberikan "value" kepada siapapun. Ia hanya berdiam diri di halte atau terminal, berteriak-teriak tujuan trayek bus dan menaikkan penumpang. Aneh bukan... calo halte melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak perlu dikerjaan sama sekali. Kenapa ia harus berteriak lantang tujuan trayek. Bukankan ketika berada di terminal atau halte, Anda sudah memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Sekalipun anda tidak tahu kendaraan apa yang hendak anda gunakan, bukankah tiap bus / angkot sudah mencantumkan rute jalurnya. Masih kurang ? Di setiap terminal terdapat papan petunjuk trayek dan lajur bus. Bahkan di beberapa halte, terpajang rute perjalanan bus umum yang melewatinya.


Klopun sang calo merasa mencarikan penumpang... itupun salah besar. Apakah anda naik suatu bus karena terbujuk sang calo? TIdak!. Anda naik bus tersebut karena anda memang membutuhkan sarana transportasi. Berbeda dengan sales, dimana ia dituntut untuk melakukan upaya argumentatif dan persuasif kepala calon konsumennya. Lebih dari itu, setiap penumpang pasti akan menuju bus paling depan, yang paling duluan ngetem. Tanpa calopun, semua orang akan juga naik bus yang berangkat duluan. Iya kan ?


Sekali lagi yang paling konyol adalah setiap calo melakukan hal yang sama pada setiap bus. Lalu dimana value yang bisa diterima oleh kernet atau sopir, selaku awak bus. Gak ada! Lalu kenapa pula awak bus harus menyisihkan sebagian recehnya untuk sang calo ?


(2) TUKANG CATAT SAMSAT.
Saya kurang tau persis untuk menyebut profesi ini. Tapi tak ada salahnya juga kalo saya menyebut sebagai tukang catat samsat. Toh profesi ini menawarkan jasanya untuk catat mencatat dan hanya beroperasi di kantor samsat, dimana kita harus berurusan dengan perpanjangan STNK atau balik nama kendaraan bermotor.


Dalam birokrasi perpajakan, kita sering direpotkan oleh pengisian form yang sangat ribet dan terkadang bertele-tele. Misalnya saja ketika hendak memperpanjang STNK, kita akan mendapat formulir isian dengan beragam kolom mulai dari nama pemilik, alamat, jenis kendaraan, cc, no plat, no mesin, no rangka dan sebaginya. Aneh bukan ? Bukankah kantor samsat juga mempunyai data base di komputer untuk semua informasi di atas. JIka benar begitu, seharunya kita hanya perlu mencantumkan satu entry aja (misal no plat) dan tujuannya (perpanjangan stnk, balik nama, atau ubah fungsi kendaraan). Tak semua harus dicatat dan dituliskan di formulir tersebut.


Tapi anehnya .... ada aja orang yang memanfaatkan tidak tahuan atau (kemalesan) orang dengan menawarkan jasa mencatatkan ke formulir tersebut. Anehnya juga, klo kita hendak mengisi formulir, tidak ada satu alat tulispun disediakan di samsat. (Bandingkan dengan ketika anda hendak memuliskan slip tabungan di bank). Lalu andapun mau tak mau, harus menggunakan jasa tukang catat samsat ini. Mesksipun sebenarnya anda bisa mengerjakan sendiri - apa sich sulitnya menyalin - tetapi karena keteledoran anda tidak membawa pulpen, andapun terpaksa mengunakan jasa mereka.


(3) JOKI 3 in 1
Profesi aneh lainnya adalah Joki 3 in 1. Profesi ini hanya bisa dilakukan di Jakarta pusat, di daerah tertentu yang disebut sebagai Daerah 3 in 1, sebuah daerah dimana setiap mobil harus membawa minimal 3 orang pada jam tertentu. Tetapi hal ini disiasati dengan munculnya profesi joki 3 in 1 yang menawarkan diri sebagai penumpang selama perjalanan di kawasan tersebut.


Keanehan dari profesi ini adalah interpetasi pada jumlah penumpang mobil. Regulasi tersebut dimaksudkan agar pengunaan kendaraan pribadi bisa dikurangi, sehingga mengurangi kemacetan. Tetapi dengan adanya sang joki, pemilik mobil pun bisa berdalih untuk tetap meneruskan kebiasaan berkendara dan joki 3 in 1 pun punya penghasilan tersendiri. Oya, Pemerirahan Daerahpun punya alasan bahwa ia telah mengatur kebijakan transportasi perkotaan.


Seharusnya segala jenis regulasi secara langsung maupun tidak juga mengatur suatu badan yang bertanggung jawab atas pelaksaan peraturan tersebut. Misalnya UU Pemilu mengatur pembentukan KPU, Panwaslu atau mengatur lembaga independen pemantau pemilu.... tetapi tidak bagi regulasi pemda DKI yang justru melahirkan profesi ajaib ini... mungkin sama ajaibnya dengan lembaga yang menerapkannya.


Rock d World!
rio_nisafa

1 comment:

Kerja said...

nice article...:-)