Tuesday, November 21, 2006

BIRU (resensi novel Fira B)



Sebuah reuni seharusnya menjadi sebuah gambaran puzzle utuh, setelah sekian lama tercerai berai oleh aktivitas kuliah, kerja, dan rumah tangga. Namun tidak dengan "Biru", sebuah novel besutan Fira Basuki. Reuni SMA Surya yang bertajuk "Biru" akhirnya menjadi kepingan yang tak terpecahkan... menyisakan kepingan yang masih tersebar tanpa membentuk sebuah pola.

Beragam tokoh harus melewati masa tiga bulan (terhitung dari undangan reuni) dengan berbagai rangkaian hidup yang penuh gejolak, tantangan dan persoalan hidup yang tak terpecahkan. Novel yang relatif tebal ini menggambarkan beragam sudut pandang dari para tokoh. Sudut pandang tersebut menjadikan novel ini kaya akan detail dan pengembangan karakter. Masing-masing tokoh menggunakan bahasa orang pertama, dan mempunyai hak yang sama sebagai tokoh utama.

Pengunaan sudut pandang tersebut seakan memberikan titik berat pada konflik beragam tokoh yang saling berbelit dan rumit. Tak ada tokoh yang harus terjebak pada peran-peran antagonis atau protagonis. Konflik yang muncul dapat dibangun secara utuh tanpa terjebak persoalan hitam-putih.

Candy, seorang model di Singapura, harus berjuang melawan keriput mata, badan kegemukan, dan usia yang menua. Beragam manipulasi kosmetik dan pengobatan artifisial tanpa mampu menahan lajunya usia yang bertambah. Mario, tokoh lainnya harus kembali ke Filipina, tanah kelahiran ayahnya, untuk menuntas persoalan kelaminnya, yang tak lain berhubungan dengan hukum karma yang diwariskan padanya. Sedangkan Anna, sosok ibu rumah tangga yang sempurna harus menghadapi putrinya yang telah ternoda olah teman SMA dahulu. Aris, seorang aktivis LSM, harus berhadapan dengan perkara pidana karena didakwa menyelewengkan dana yang telah ia dapatkan. Adapula Pura, sopir taksi yang menjadi mulai merintis mimpinya menjadi musisi, hingga Lindih dan ...... (?) dua wanita yang terlibat cinta segitiga.

Beragam konflik tersebut disajikan baik saat penantian reuni maupun pada saat flash back di masa-masa SMA silam. Sebuah babak flash back yang disajikan dalam novel ini turut menyumbang keragaman alur serta memperkuat benang merah cerita. Masa SMA yang penuh melodramatik dibangun secara kuat tanpa terjebak pada cerita remeh-temeh seputar usia belasan.

Konflik masing-masing tokoh ini dibangun melalui serangkaian peristiwa yang tak terduga dan menjalin bagai benang kusut. Konflik setiap tokoh melibatkan teman SMA dahulu atau sekadar pertemuan sambil lewat yang tanpa diduga-duga.

Cover novel yang juga didominasi warna niru ini mempunyai narasi yang sangat kuat serta tidak terkesan mononton. Sebuah novel patut mendapat acungan jempol, bukan sekadar alternatif dari menjamurnya teenlit.

Rock d World!
rio_nisafa.

No comments: