Tuesday, November 07, 2006

DIE HARD FLASH DISK


Saya telah mengenal flash disk beberapa tahun silam, jauh sebelum pengunaan flash disk marak beberapa waktu belakangan. Saat itu, sekitar Tahun 2002 (atau malah 2001), Pak Frans, seorang relasi membawa sebuah storage device yang ia sebut sebagai USB Drive. Sebuah alat sebesar korek api (lighter-bukan machtes) yang dilengkapi gantungan kunci segala. Terkadang alat tersebut, saya sebut dengan istilah USB Drive, bukan Flash Disk yang kerap dilafalkan orang kebanyakan.

Saat itu, Flash Disk merupakan alat yang terhitung canggih. Kemampuannya menyimpan data lebih banyak merupakan sebuah kegunaan yang tak terbantahkan. meski pada saat itu, size yang dapat ditampung mungkin hanya sebesar 64 Mb atau paling besar 128 Mb. Tapi saat itu, ukuran tersebut masih tergolong besar.

Flash Disk tersebut menarik perhatian kantor saya, sebuah biro iklan lokal yang berfokus pada iklan cetak surat kabar lokal. Dengan Flash disk, sang grafis designer tak perlu repot-repot membawa Removable Hard disk yang ukurannya agak besar tersebut, ke percetakan. Alat ini sendiri mempunyai dimensi sebesar CD Rom, dengan kapasitas yang kurang lebih sama dengan hard disk pada umumnya saat itu. Memasang alat ini sebenarnya cukup sederhana, cukup memasukkan dalam selongsong di bagian CPU. Namun ukuran yang besar tersebut membawa kerepotan tersendiri.

Sebenarnya ada removable storage device lain yang bisa digunakan. Yakni sebuah ZIP Drive, mirip disket 3,5 " tapi dengan ukuran yang sedikit lebih besar dan tebal. Namun alat tersebut telah mengalami kerusakan. Kelemahan alat juga disebabkan karena tak semua komputer juga mempunyai piranti untuk membaca media tersebut. Sebenarnya ada juga media lain yang juga populer, yakni CD atau Compact Disk. Namun agensi saya saat itu tak memilikinya.

Tahun 2004, saat saya bekerja di sebuah principal sepeda motor Indonesia. Saat itulah saya memutuskan untuk memiliki flash disk sendiri. Apalagi saya juga ketiban kerjaan yang berhubungan dengan design grafis yang kerap memerlukan media penyimpanan yang lebih besar. Apalagi terkadang saya harus mobile dari Marketing Head Office di Jakarta ke Pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat.

Flash disk yang saya miliki pertama kali mempunyai cerita tersendiri. Setelah survey beberapa toko komputer di Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, saya akhirnya memutuskan untuk membeli flash disk berlabel "My Flash". Brand ini saya pilih karena ada kolega kantor, Pak Joker, yang telah mengunakan brand tersebut. bukan karena latah mengikuti, tetapi karena persoalan driver di kantor kami. Dengan mengunakan piranti yang sama, saya tak harus mengintall 2 driver untuk flash disk yang kami miliki. Oya, kantor kami masih mengunakan Operating System Windows 98 yang katanya berlisensi tersebut.

Ketika mengunakan di kamar kost, USB drive saya mengalami masalah. USB tersebut saya colokan di bagian samping CPU. CPU sendiri saya letakkan di kolong meja. Sialnya ketika hendak membereskan kamar, saya merapikan kursi dengan memasukkannya ke kolong meja. ... Rupanya Flash Disk saya belum saya cabut dari tempatnya. Walhasil Flash disk saya menjadi bengkok dan tidak dapat digunakan.

Sebenarnya saya cukup kesal juga dengan keteloran saya ini. Terlalu mahal harga yang harus dibayarkan. Meski rusak, saya masih menyimpang benda tersebut, mungkin suatu saat saya bisa membetulkannya sendiri. Saya rasa tak mungkin ada service komputer yang mau memperbaiki flash disk rusak. Apalagi harganya semakin lama semakin murah, tetapi dengan kapasitas yang lebih besar.

Pulang ke jogja, dan melanjutkan pekerjaan di kota kelahiran. Saya masih berupaya untuk memperbaikin USB Drive saya. Dengan sedikit tekanan, casing flash disk tersebut saya buka. Rupanya "kaki-kaki" yang berjumlah empat telah terlepas dari PCB nya (?). Ketika saya menyatukannya dan menyambungkan ke komputer, ternyata komputer tersebut mendeteksinya. Artinya kerusakaan flash disk tersebut sudah bisa diketahui. Sialnya saya sempat kesetrum ketika memegang flash disk yang tanpa casing tersebut.

Dengan bantuan Hanif, seorang saudara, kaki-kaki flash tersebut akhirnya dapat disambung dengan bantuan solder listrik. Tetapi colokan USB telah miring tak karuan. Sayapun tak kurang akal. Dengan kabel ekstensi USB, flash disk saya sambung. Sehingga colokannya bukan lagi berujung pada flash disk yang telah rusak, tetapi pada kabel ekstensinya. Untuk menguatkannya, sambungannya saya rekatkan dengan mengunakan selotip kuat-kuat. Kabel ekstensi yang agak panjang ini juga saya gulung dengan mengunakan selotip untuk menghemat ruang.

Beberapa bulan kemudian flash disk saya kembali terkena masalah. Komputer tidak dapat mendeteksi flash disk yang telah saya colokan komputer. Wah, saya mulai bingung dan memutuskan untuk membeli flash disk lagi. Tetapi sebelumnya, saya juga harus mengakali kerusakan ini. Rupanya hanya dengan menekan dudukan kaki-kaki yang patah, flash disk dapat dideteksi. Jadi selama mengunakan flash disk, satu tangan saya harus menekan kuat flash disk tersebut. Akhirnya pada bagian tersebut, saya ikat kencang dengan mengunakan karet gelang. It's Work! Meski terlihat aneh plus norak, yang penting flash disk masih bisa tetap digunakan.

Rupanya dengan diakali berbagai cara, Flash disk nanpu berfungsi sebagaimana mestinya. Lumayanlah, saya tak perlu repot-repot dengan lagu MP3 yang biasa saya copy dari warnet dan attachement email yang terkadang cukup besar. Juga beberapa side job. Uang untuk membeli flash disk pun bisa digunakan untuk keperluan lainnya.

Rock d World!
rio_nisafa

4 comments:

EmberBolong said...

Hehehe cerita benerin flash-disknya menarik. Terima serpis nggak mas... :D becanda ding..

Anonymous said...

flash disk q jg g kedeteksi pc, yang dimaksud menekan dudukan tu yang mana.....trims

rio nisafa said...

buat bro ...

dudukan yang gw maksud di tulisan ini semacam kaki-kaki yang nempel di papan cb (cmiiw)... semacam papan buat rangkaian elektronik gitu....

karena kakinya yang gak nempel itu (karena bengkok) terpaksa gw teken....

klo tentang flash disk lu, pastiin dulu gak detect karena hardware ato software ? klo software ya cari drivernya, klo hardware usb nya bener gak (atau coba di komputer lain) ... klo ternyata flash disknya gak detect... ya sutra lah...

Rock d World!
rio_nisafa

toko komputer jakarta said...

pantes aja judulnya die hard flash disk... emang hard sih die-nya :D